Bloggernyo urang sikaladi By. Boim
Tampilkan postingan dengan label Danau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danau. Tampilkan semua postingan

Bendungan Wonorejo Tulungagung


Oleh : Adi Prinantyo

Bendungan/waduk Wonorejo berada di sebelah barat kota Tulungagung.Waduk terbesar di Asia Tenggara dengan debit 15.000 m3 per detik, berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik, pengairan, perikanan, olah raga air dan tempat rekreasi, yang dilengkapi dengan Gazebo, Home stay, Taman, area pemancingan, speed boad penginapan dan tempat pementasan seni tradisional.

Hamparan air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo, 12 kilometer dari Kota Tulungagung. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan.

Di beberapa sudut waduk berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu kerap terlihat pasangan remaja memadu kasih. Sementara di sisi lainnya, serombongan keluarga yang mengendarai mobil pribadi, berkeliling di seantero bendungan. Waduk Wonorejo tak pelak lagi merupakan “primadona” baru di dunia pariwisata Tulungagung. Sarana pemasok air PDAM Surabaya itu baru diresmikan oleh Wakil Presiden (waktu itu) Megawati Soe-karnoputri, 21 Juni 2001.

Beberapa petugas pengelola bendungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung menuturkan, pengunjung waduk pada hari Minggu selalu banyak. Jika tidak ada acara khusus semacam pentas dangdut, penghasilan dari karcis masuk rata-rata Rp 1 juta. Angka pemasukan itu bisa melonjak menjadi sekitar Rp 2 juta jika ada pergelaran khusus.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Tulungagung Ahmad Pitoyo menuturkan, perkembangan Waduk Wonorejo sebagai daerah tujuan wisata baru memang cukup menggembirakan. “Kehadiran Bendungan Wonorejo bisa menjadi kekuatan pelapis bagi obyek andalan Pantai Popoh,” katanya.

Dari data kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata di Tulungagung tergambar, angka kunjungan wisatawan ke waduk ini pada tahun 2001 menempati urutan ketiga, di bawah Pantai Indah Popoh dan Pantai Sine. Yang cukup menggembirakan, meski baru dibuka sebagai kawasan wisata pada tahun 2001, angka kunjungan selama setahun lalu sudah mencapai 5.340 orang, menembus tiga besar.

Pembangunan Waduk Wonorejo dimulai tahun 1992. Untuk keperluan pembangunan itu, sebanyak 995 keluarga telah dipindahkan dari tempat mereka bermukim. Tercatat pula tujuh orang tewas selama proses pembangunan.

Total dana yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 22,049 milyar, ditambah 18,71 milyar yen dana bantuan Pemerintah Jepang. Perusahaan Listrik Negara (PLN), usai pembuatan waduk tuntas, melengkapi dengan membangun jaringan listrik. Total biaya untuk instalasi listrik sebesar Rp 10,9 milyar, plus 577 juta yen dari Pemerintah Jepang.

Bendungan ini memiliki sejumlah fungsi penting. Antara lain, menyediakan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya sebanyak delapan meter kubik per detik, mengusahakan pembangkit tenaga listrik 6,02 megawatt, mengendalikan banjir bagi daerah seluas 1.479 hektar, dan mendukung irigasi pertanian untuk sawah seluas 1.200 hektar.

Manfaat lainnya adalah untuk masyarakat di sekitarnya. Seperti budidaya perikanan, kawasan sabuk hijau untuk tanaman keras produktif, serta pariwisata. Untuk perikanan, menurut Pimpinan Proyek Pengembangan Sungai Brantas Ir Sukistiono Dipl HE, Waduk Wonorejo dapat 200 ton ikan per tahun.

Berkaitan dengan dibukanya Waduk Wonorejo sebagai kawasan wisata, setiap pengunjung yang masuk ke kawasan waduk harus membayar Rp 2.000 per orang. Selepas melewati pintu masuk, pengunjung tinggal menempuh perjalanan sekitar satu kilometer untuk mencapai bendungan.

Sebagai primadona baru, tentu saja penampilan bendungan ini harus dipertahankan. Ini penting agar tak terjadi penyusutan jumlah pengunjung pada tahun-tahun mendatang, misalnya akibat perwajahannya yang sudah “tak seindah warna aslinya”.

Dalam tabel kunjungan wisata Tulungagung dari tahun ke tahun juga tercatat, jumlah wisatawan sejak tahun 1999 terus menurun. Dari 323.201 orang pada tahun 1999, turun menjadi 292.039 orang pada tahun 2000, dan anjlok lagi menjadi 270.535 orang pada tahun 2001.

Penurunan itu tergambar dari anjloknya jumlah wisatawan di obyek-obyek wisata tertentu, seperti di Goa Tritis (dari 1.084 di tahun 2000 menjadi 887 orang pada tahun 2001), Goa Pasir (dari 2.316 menjadi 2.253 orang), dan Can-di Ngampel (dari 541 orang menjadi hanya sembilan orang).

Pariwisata memang menyangkut soal bagaimana si pengelola kawasan wisata menyediakan kenyamanan kepada mereka yang datang sehingga pengunjung dapat betul-betul merasa rileks. Jika suasana rileks itu telah sirna, wajar pulalah jika makin sedikit wisatawan yang datang.

Sumber : http://www.potlot-adventure.com

Waduk Sermo Berkah Bagi Kulonprogo


Waduk Sermo yang terletak di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta, tampaknya semakin menarik perhatian. Terutama setelah diresmikan Presiden Soeharto, 20 November 1996. Apalagi kini debit air yang mengisi waduk sudah hampir sampai batas maksimum. Banyak orang datang, selain untuk rekreasi juga memancing ikan.

Sedangkan mereka yang berasal dari Perguruan Tinggi ingin belajar tentang bangunan fisik waduk. Sebuah jalan aspal melingkar memudahkan orang untuk menikmati pemandangan di sekitar waduk dari berbagai sudut pandang. Mereka yang senang olahraga dayung juga dapat berwisata sambil berlatih di waduk ini. Untuk mencapai waduk ini cukup mudah. Dari kota Wates hanya berjarak kurang lebih delapan kilometer. Tersedia kendaraan umum yang rutenya melalui Waduk Sermo.

Bila Anda berada di Candi Borobudur, untuk ke waduk itu dapat melalui jalan pintas yang aspalnya sudah hotmix melalui perbukitan Menoreh (selatan Candi Mendut ke Timur). Jarak dari Borobudur kurang lebih 60 kilometer. Sebelum menuju ke Waduk Sermo, di pebukitan Menoreh ada tempat wisata seperti puncak Suroloyo, Sendangsono dan makam pahlawan Nyi Ageng Serang. ''Banyak obyek wisata Kulonprogo yang layak dikunjungi di perbukitan Menoreh, sebelum ke Waduk Sermo,'' kata mantan Kahumas Kulonprogo, Drs Djuwardi di Waduk Sermo, beberapa waktu lalu kepada Republika.

Waduk Sermo yang berada di Desa Hargowilis ini dibuat dengan membendung Kali Ngrancah. Bendungan yang menghubungkan dua bukit ini berukuran lebar atas delapan meter, lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi bendungan 56 meter. Waduk ini dapat menampung air 25 juta meter kubik dengan genangan seluas 157 hektar. Biaya pembangunannya Rp 22 miliar dan diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan (1 Maret 1994 hingga Oktober 1996). Untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulonprogo memindahkan 107 KK bertransmigrasi -- 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan tujuh kepala keluarga ditransmigrasikan ke PIR kelapa sawit Riau.

Waduk Sermo diharapkan mengaliri sawah seluas 8.100 hektar yang berada di wilayah Kulonprogo bagian barat dan selatan. Selama ini, air irigasi diambilkan dari Kali Progo yang dinaikan melalui saluran Kalibawang dan Sapon (Brosot). Kedua irigasi ini dialirkan untuk lahan yang ada di wilayah timur laut dan tenggara. Namun tidak sepanjang tahun air Kali Progo dapat dialirkan melalui kedua saluran irigasi tersebut.

Bukan hanya irigasi saja. Waduk yang mempunyai luas genangan air seluas 157 hektar dan 25 juta meter kubik air dapat digunakan sebagai tempat memelihara ikan bagi warga setempat melalui keramba apung. Menurut Kades Hargowilis, Widianto, warganya akan mengelola keramba apung ini melalui koperasi. Jumlah keramba yang bisa dibuat di waduk ini 100 keramba. Satu karamba diperkirakan menghasilkan ikan air tawar 2,5 ton selama empat bulan. Pada awal dibangun, harga satu kilogramnya Rp 2.000, maka bisa menghasilkan uang Rp 5 juta. Sedang biaya untuk bibit dan pakan saat itu hanya membutuhkan dana Rp 330.000 per keramba. Jadi petani diuntungkan.Apalagi sekarang.

Pada peresmian lalu, Dinas Perikanan DIY telah menabur benih ikan sebanyak satu juta ekor. Diharapkan bibit ikan ini akan menjadi besar dan dapat diambil warga setempat secara gratis dengan pancing. Selain itu, waduk Sermo ini akan memberi manfaat bagi cabang olahraga dayung. Waduk yang mempunyai panjang dua kilometer cukup memadai untuk latihan olahraga dayung.

Banyaknya pengunjung waduk tampaknya tidak disia-siakan penduduk setempat. Mereka menjajakan buah-buahan Desa Hargowilis dan Hargorejo termasuk daerah penghasil buah durian, manggis dan buah-buahan lainnya. Menurut Dr Ir Fatchan Nurrochmat M.Agr, konsultan lingkungan Waduk Sermo, sangat banyak manfaat waduk tersebut. Tidak hanya warga yang berada di hilir waduk, tetapi juga warga yang di hulu. Waduk ini, jelas Nurrochmat, akan menjadi distributor air bagi wilayah Kulonprogo. Bahkan dapat mengurangi banjir yang sering terjadi di daerah Kulonprogo bagian selatan. Terutama daerah yang termasuk aliran sungai Serang.

Alhasil waduk ini tampaknya telah menjadi berkah baru bagi Kulonprogo. Setelah puas melihat Waduk Sermo, perjalanan dapat dilanjutkan ke Pantai Glagah Indah atau Congot. Di dua pantai ini sudah ada jalan beraspal yang terletak di pinggir pantai. Mereka yang menggunakan kendaraan sendiri dapat mencapai pantai dengan mudah. Pantai Glagah sudah dilengkapi dengan hotel. Di dekat pantai Glagah juga ada tempat wisata Girigondo yaitu tempat pemakaman raja-raja Pakualaman.

Sumber : http://www.republika.co.id

Situ Lengkong Panjalu (Cagar Alam Kooders)


Kawasan hutan Pulau Nusa Gede dengan Luas kurang lebih 16 ha yang terletak di situ (danau), yaitu Situ Lengkong Panjalu berada di Desa/Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouvarnuer-Generaal van Nederlandsch Indie) pada tanggal 21 February 1919 Nomor 6 (Staatsblad No.90). 2(dua) Tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 November 1921 diterbitkan dalam surat keputusan yang sama ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede (Island), selajutnya diberi nama "Pulau Kooders" dan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders".

Keadaan Vegetasi didalam Cagar Alam ini cukup beranekaragam jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer yang masih utuh dengan tumbuhan yang didominasi diantaranya : Kihaji (Dysaxilum), Kondang (Ficus Variegata), Huru (Litsea sp), Kiara (Ficus sp), Kileho (Sauraula sp), Bungur (Lagerstromia sp), sedangkan tumbuhan bawah diantaranya : Rotan (Calamus sp), Tepus (Zingi beraceae) dan Langkap (Arenga sp).

Satwa Liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong (Pteropus Vampyrus), Biawak (Varanus Salvator) dan juga dapat ditemukan beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otus scops), Elang (Haliastur Indus), Raja Udang (Halcion chlors) dan Walik (Treron Griccipilla).

Keadaan topografi Situ Lengkong Panjalu yang merupakan danau dasar daripada danaunya sendiri kurang lebih berkisar 710 meter diatas permukaan laut, sedangkan pulau Nusa Gede yang merupakan kawasan Cagar Alam kurang lebih berkisar 733,14 meter dpl. Keadaan iklim di sekitar kawasan objek wisata ini, meliputi: suhu antara 19c - 32c, dengan kelembaban antara 70%-80%, kecepatan angin 4 s.d 5knots dan curah hujan rata-rata 3.145 mm per tahun.

Keadaan hidrologi khususnya keberadaan air Situ Lengkong Panjalu berasal dari air tanah yang ada pada hutan-hutan di sekitarnya, dan mata air yang terletak pada beberapa lokasi (kampung simpar:2 buah, bojongwaru:1 buah, ciater:1 buah dan kaum:1 buah).

Untuk mencapai ke lokasi ini, dapat ditempuh dari Kota Bandung dengan route :Bandung-Ciawi-Panjalu(Ciamis) yanng berjarak kurang lebih 95km, sedangkan dari Tasikmalaya dapat menggunakan route: Tasikmalaya-Rajapolah-Panumbangan-Panjalu(Ciamis) dengan jarak kurang lebih 40 km an dari Kota Ciamis berjarak sekitar 48 km.


Potensi objek dan daya tarik wisata yang banyak diminati pengunjung ke daerah ini yaitu, objek wisata Situ, Pulau Nusa Gede, Hutan Primer dan Makam Kramat. Tujuan utama pengunjung ke kawasan ini yang paling dominan yaitu untuk berziarah ke makam kramat. Kawasan ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis sebagai objek wisata ziarah. Kearifan lokal yang terdapat dikawasan tidak menjadikan kawasan Cagar Alam terganggu atas kehadiran pengunjung di kawasan ini.

Keberadaan kegiatan Perlindungan (konservasi) alam di Indonesia sangat berkaitan erat dengan nama Dr.S.H. Kooders (1863-1919) sebagai pendiri dan ketua pertama dari Nederlandsch Indische Vereeniging Tot Natuurbescherming (perkumpulan perlindungan alam hindia belanda). Perkumpulan ini semacam perkumpulan pecinta alam yang mempelopori dan mengusulkan kawasan tertentu dan jenis tertentu, juga pembuat peraturan dan tulisan serta penelitian tentang perlindungan alam (jenis satwa dan tumbuhan).

Pada tahun 1919, Pemerintah Hindia Belanda nenunjuk 55(limapuluh lima) lokasi Cagar Alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, suatu jumlah yang sangat mengagumkan dan sudah tentu perkembangan itu sangat memuaskan hati Dr.S.H. Kooders sebagai ketua dari Perlindungan Alam, diantara sekian banyak kawasan yang diusulkan sudah dinyatakan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument).

Dr.S.H. Kooders meninggal dunia pada tanggal 16 Nopember 1919 dan dimakamkan di Batavia-Jakarta. Dua tahun kemudian diterbitkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda tanggal 16 Nopember 1921 yang ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede di objek wisata Situ Lengkong Panjalu Kabupaten Ciamis, selanjutnya diberi nama "Pulau Kooders" sedangkan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders". (sumber:Pandji YK)

Sumber : http://www.wisataciamis.com
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Permainan Warna Danau Linow


Oleh: Sukawi ST MT

Pagi-pagi kami meluncur ke Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Selama perjalanan, sopir sekaligus pemandu kami, Johnson Kandow, tak henti-hentinya menyebutkan nama-nama tempat wisata yang berada di kiri-kanan jalan yang kami lewati. Ada pebukitan, gua alam, air terjun dan tentu saja bermacam tipe rumah makan.

Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti beberapa saat di sebuah rumah makan sambil menikmati pemandangan. Di situ kami menyeruput kopi sembari menikmati biapong, kacang sangrai khas Kawangkoan. Benarlah, tak lengkap rasanya menikmati pemandangan indah di atas pegunungan Tomohon tanpa kacang itu. Renyah, garing, dan sangat gurih.

Kota Tomohon merupakan kota muda yang lahir pada 27 Januari 2003. Kotanya merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Minahasa sesuai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon. Begitu resmi berdiri sendiri secara administratif, Walikota Tomohon Jefferson SM Rumayar menyadari benar potensi besar Tomohon di bidang pariwisata yang bisa dikembangkan sebagai kota tujuan wisata.

Dibandingkan daerah lain yang pernah saya kunjungi, Tomohon punya sesuatu yang bisa dijadikan nilai pembeda. Yakni, banyaknya jenis tanaman dan bunga komoditas. Lihat saja pemandangan di sepanjang jalannya: deretan kebun dan pedagang yang menjajakan berbagai jenis bunga, mulai bunga hidup sampai bunga potong.

Sebelum memasuki jantung kota Tomohon, kami diajak Pak John untuk menikmati pesona Danau Linow yang memiliki sumber air panas berbelerang. Letaknya sekitar 3 kilometer dari Kota Tomohon. Meskipun berkelok-kelok, jalanan yang kami lewati cukup mulus. Bagi yang tidak terbiasa melakukan perjalanan darat dengan kondisi jalan seperti itu, mungkin akan merasakan mual-mual atau bahkan mabuk. Tetapi tak usah khawatir, sebab pada sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang sangat indah. Hamparan hutan dan tanaman cengkeh yang merupakan komoditas utama masyarakat di situ tumbuh melapisi gunung, bukit, dan lereng-lereng terjal. Semua itu mungkin bisa mengobati rasa mual kita.

Lihat juga apa yang tersaji di seputaran jalananan. Punggung-punggung bukit naik-turun berlapis-lapis disaputi sinar kuning keemasan dari sang surya yang memancar dengan redup, dibumbui gemulai pohon nyiur yang menggerombol di sana-sini. Angin pun datang semilir mengembusi permukaan danau yang airnya berwarna kehijauan, melahirkan riak-riak putih kecil-kecil yang datang berturutan. Segar sekali hawanya.
***
Danau Linow memang sebuah keajaiban alam yang sangat menawan. Karena itu, tak mengherankan kalau pada hari-hari libur banyak wisatawan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di danau tersebut. Apalagi ada beberapa fasilitas penunjang seperti bungalow. Itu berupa beberapa bangunan dari bambu yang menjorok ke tengah danau sangat cocok untuk bersantai menikmati hamparan air danau yang dari kejauhan tampak hijau.

Waktu yang paling indah untuk mengunjungi danau itu adalah pagi-pagi atau terlebih lagi. Tapi yang paling asyik di saat petang. Selain tidak panas menyengat, pemandangannya lebih indah karena permainan warna alam, dilengkapi konfigurasi burung-burung liar yang tengah pulang dari pengembaraannya. Pemandangan itu sungguh memesona.

Menurut Pak John, warna danau itu sering berubah bergantung atas kadar kandungan belerang yang ada dalam air danau. Hal itu dikarenakan sepanjang dua ratus meter bagian tepi danau langsung berhadapan dengan sumber air belerang yang senantiasa mengalir ke situ. Pada musim bunga, di tepian danau tumbuh bebungaan yang menebar wangi semerbak, melengkapi kecantikan warna danau tersebut.

Air Danau Linow bukan air tawar biasa. Air yang berasal dari mata air itu mengandung larutan belerang yang alamiah. Inilah yang justru menjadi daya tarik utama pada danau yang berada di wilayah Tomohon ini. Potensi alami yang ada di lingkungan sekelilingnya yang asri dan sejuk juga dipertahankan. Bentuk bangunan pelengkapnya juga diusahakan dengan mengambil filosofi bangunan Minahasa yang memang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Tomohon. Konon, air panas itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena kualitas airnya mengandung sulfur dan magnesium sulfat.

Letak Danau Linow sebenarnya sangat strategis. Dalam perjalanan, wisatawan bisa istirahat di Kota Tomohon, kota yang belakangan tersohor karena aneka ragam tanaman bunga yang dihasilkannya sehingga disebut sebagai Kota Bunga. Berbagai jenis bunga tumbuh di daerah yang bersuhu cukup sejuk itu. Bahkan, kabarnya ada 250 jenis bunga. Menariknya, ada satu jenis bunga yang tak bisa dijumpai di mana pun di Indonesia, yaitu bunga Mufidah Payus. Jenis bunga itu dinamakan langsung Ketua Umum Perhimpunan Anggrek Indonesia yang tak lain istri Wakil Presiden RI Ny Mufidah Jusuf Kalla.

Di pusat kota Tomohon, dari sebuah bangunan, kita dengan leluasa bisa menyaksikan Gunung Klabat, Gunung Tangkoko, Gunung Dua Bersaudara, Bukit Unima, dan Bukit Makawengbeng. Nama Tomohon sendiri berasal dari kata ”Tou Mu‘ung” yang berarti orang Mu‘ung. Tidak begitu jelas mengapa dinamakan orang Mu‘ung. Tapi dengan adanya sebuah mata air besar bernama Mu‘ung yang kini terdapat di Kelurahan Matani II, diduga itulah asal mula penamaan tempat ini. Tou Mu‘ung yang karena gubahan lidah berubah menjadi Tomohon. Orang Tomohon sering juga disebut orang Toumbulu, yaitu penduduk pengguna bahasa sub-etnis Toumbulu. Toumbulu artinya orang wuluh atau orang gunung.

Yang jelas, Tomohon menyimpan sejumlah pesona wisata alam yang menakjubkan. Contoh lainnya adalah lokasi wisata Air Terjun Pinaras. Lokawisata alam itu tidak terlalu sulit dijangkau kendaraan roda empat karena letaknya berada di Kelurahan Pinaras, Kecamatan Tomohon Selatan. Letaknya juga tak jauh dari kelurahan setempat yang jarak tempuhnya hanya sekitar 10 menit dari pemukiman penduduk. Bahkan dalam waktu 10 menit itu, Anda sudah bisa mencapai titik jatuh airnya.

Tidak ada salahnya untuk mengunjungi tempat tersebut pada akhir pekan atau hari libur. Sebab pesona keindahan alamnya begitu menarik untuk dinikmati. Tapi Anda harus siap merima tantangan: berjibaku dengan ratusan anak tangga untuk mencapai puncak saat hendak pulang.

Lengkap sudah kepuasan yang disediakan kawasan wisata alam Tomohon. Walaupun belum banyak dikenal di luar daerah Sulawesi Utara, Tomohon merupakan prospek pariwisata yang sangat potensial. Keindahan panorama alam yang memukau, potensi flora dan faunanya, membuatnya berpeluang menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di Nusantara.

Eksotika Kota Bunga
Kalau Bandung sering disebut Kota Kembang, dengan kata lain yang bermakna sama, Tomohon disebut Kota Bunga. Dan memang pemerintah setempat telah bertekad menjadikan bunga sebagai penggerak utama roda ekonomi. Tentunya serentetan upaya dan tekad terus digulirkan, termasuk di dalamnya penyelenggaraan berbagai event yang mengetengahkan bunga sebagai primadona.

Tournament of Flowers merupakan salah satu cara untuk mengenalkan kota Tomohon kepada dunia luar. Itulah sebabnya Jefferson SM Rumayar, Walikota Tomohon, dalam berbagai kesempatan terus mengajak warganya memanfaatkan setiap jengkal halaman pekarangan untuk ditanami bunga.

Tentu Anda pernah dengar tentang Tournament of Roses di Pasadena, Kalifornia yang ditandai dengan arak-arakan akbar bertajuk ”Rose Parade”. Biasanya, warga sudah berkumpul memadati tepi jalan yang akan dilalui parade sejak sore hari. Untuk memberi ciri khusus Tomohon sebagai Kota Bunga, Walikota pun menetapkan acara Tournament of Flowers sebagai acara tetap tahunan. Dia tak ragu mengacu pada para di Pasadena sebagai acuan.

Tomohon yang berhawa sejuk memang merupakan tempat yang cocok untuk berkebun bunga. Yang terbanyak adalah bunga lili dengan berbagai warna cerah. Menjelang Natal dan Tahun Baru, di sepanjang jalan tampak penjual bunga berbagai jenis dan warna. Kekayaan bunga juga membuat pemerintah ingin menjadikan kotanya sebagai pengekspor bunga. Maklum, 70% penduduknya petani.

Bunga apa saja yang tumbuh subur di Tomohon? Gladiol, aster, krisan, anyelir, dahlia, dan rosida merupakan tanaman hias yang paling mudah ditemui di sana. Selain itu, ada pula anthurium dan keladi tengkorak (Alocasia cuprea). Kerklily, amarilis, krisan, dan mawar juga banyak dipiara dan diminati. Di Tomohon, kerklily merupakan bunga yang ‘wajib‘ disediakan saat pesta pernikahan. Tradisi menghadirkan kerklily telah berlangsung turun-temurun. Kerklily merupakan bunga lambang pernikahan.

Di antara sekian banyak jenis bunga hias tersebut, aster tergolong bunga favorit. Sebanyak 1,36 juta potong aster dihasilkan petani bunga setempat setiap tahunnya. Meski demikian, angka produksi aster masih terpaut cukup jauh dibanding gladiol. Sejauh ini, produksi gladiol mencatat rekor tertinggi. Sebanyak 2,4 juta potong gladiol diproduksi setiap tahun. Gladiol merupakan salah satu bunga potong yang paling banyak dicari, baik untuk hiasan di gedung pesta atau di rumah huni. Ukuran bunganya yang relatif besar membuatnya eye catching dan pantas dibeli.

Gladiol juga kaya warna. Ada gladiol merah muda, putih bergaris ungu, oranye muda, oranye, kuning, gladiol dua warna, dan tentunya putih. Sayangnya, gladiol cepat layu. Meski begitu, kondisi tersebut masih dapat disiasati. Tentunya, teknik memanen yang benar juga harus diterapkan. Menurut seorang penjual bunga, bunga potong sebaiknya tidak dipanen ketika mentari sedang terik. Panenlah sebelum matahari terbit atau menjelang petang.

Sebagai pioner, Parade Bunga Tomohon patut diacungi jempol. Setidaknya dari segi semangat yang ditunjukkan. Kekayaan jenis bunga dan daun Tomohon jelas akan menjadi unsur penunjang yang signifikan. Dengan elemen-elemen yang dipunyainya, jelas dapat dikemas menjadi sebuah festival budaya yang menarik banyak pengunjung. Kecilnya Kota Tomohon dan keramahan warganya justru cocok untuk menampilkan sebuah pesta rakyat yang meriah dengan Parade Bunga sebagai salah satu atraksi utama.

Penyelenggaraan Tournament of Flowers 2008 beberapa waktu lalu merupakan bagian dari paket Tomohon Festival 2008 yang bakal dijadikan agenda wisata tahunan.

Sumber :gaya.suaramerdeka.com
Foto : http://1.bp.blogspot.com

Situ Bagendit


Lingkungan Alam Fisik
Objek wisata Situ Bagendit terletak di desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi ini merupakan objek wisata alam berupa danau dengan batas administrasi disebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, disebelah timur berbatasan dengan Desa Binakarya, dan disebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukti.

Aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Situ Bagendit ini antara lain menikmati pemandangan, mengelilingi danau dengan menggunakan perahu atau rakit. Para pengunjung juga dapat melakukan kegiatan rekreasi keluarga, menikmati pemandangan serta kegiatan bersepeda air.

Objek wisata ini dikelola oleh Bapak Ajan Sobari dengan status kepemilikan berada di tangan pemerintah daerah yang kewenangannya dilimpahkan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut dan pihak swasta yaitu Bapak Adang Kurnia. Berdasarkan perda no. 11 tahun 2001 harga masuk tiket ke kawasan ini Rp. 1.000/orang untuk dewasa dan Rp. 500/orang untuk anak-anak.

Aspek Khusus
Objek dan daya tarik wisata alam Situ Bagendit memiliki kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alam dalam kondisi yang baik. Bangunan-bangunan yang terdapat di kawasan, baik yang permanen maupun semi permanen, dalam kondisi terawat baik. Di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon. Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan terdapat rambu iklan.

Fasilitas yang tersedia di kawasan ini yaitu penyewaan 60 buah rakit dengan tarif Rp.25.000/15 menit, 11 buah sepeda air dengan tariff Rp.10.000/15 menit yang dalam kondisi yang baik. Terdapat pula beberapa bangku taman dan 6 buah shelter yang disewakan untuk pengunjung dengan harga Rp.3.000/jam. Terdapat juga kereta api mini dengan tarif Rp.2.000 dan kolam renang dikawasan Situ Bagendit ini. Suasana di kawasan objek wisata ini tergolong cukup nyaman dikarenakan pembangunannya sudah direncanakan dengan baik oleh dinas pariwisata namun masih juga terdapat kios liar dan pedagang kaki lima yang dengan sembarangan menggelar barang dagangan mereka sehingga tingkat visabilitas di kawasan tersebut menjadi sedikit terhalang.Objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini beroperasi pukul 07.00-17.00. Kondisi bangunan yang terdapat di kawasan ini dalam kondisi yang baik dengan jenis material bangunan permanen dan semi permanen dalam tata ruang yang cukup baik dikarenakan pembangunan di kawasan Situ Bagendit ini sudah direncanakan dengan baik. Dikawasan objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alamnya dalam kondisi yang baik.di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon yang disebabkan oleh pengunjung.Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan sedikit terdapat rambu iklan.

Sumber daya listrik di kawasan ini berasal dari PLN dengan voltase 220 volt dan distribusi yang cukup. Sumber daya air bersih di kawasan ini berasal dari sumur dan PDAM dengan kualitas air yang jernih, rasa air yang tawar, dan bau air yang normal. Terkadang terdapat kendala pemanfaatan air di kawasan Situ Bagendit yaitu apabila musim kemarau air disekitarnya menyurut. Sistem pembuangan limbah di kawasan ini yaitu melalui septic tank, selokan dan melalui sistem irigasi. Kawasan wisata Situ Bagendit ini juga memiliki sistem komunikasi berupa telepondalam jumlah yang kurang memadai. Terdapat pula jalan setapa dikawasan Situ Bagendit ini yang panjangnya ?b 50m. di depan kawasan Situ Bagendit terdapat tempat parkir dengan luas 1400 m2 dengan daya tampung 30 bus, 60 kendaraan pribadi dan 180 kendaraan bermotor dalam kondisi yang cukup baik dengan lapisan permukaan berupa tanah, namun vegetasi peneduhnya kurang memadai. Terdapat sebuah pos tiket yang juga berfungsi sebagai pintu masuk dalam kondisi yang cukup baik.terdapat pula sebuah toilet umum dalam kondisi bangunan dan kebersihan yang cukup. Dikawasan ini terdapat taman bermain dengan vegetasi peneduh dan dalam kondisi yang cukup. Terdapat tempat ibadah berupa Mushola dan juga terdapat 10 buah tempat sampah dikawasan wisata Situ Bagendit.

Aksesibilitas
Jarak kawasan wisata Situ Bagendit ini dari pusat kota Garut yaitu 4 km. Terdapat angkutan umum berupa angkot jurusan Terminal Guntur-Kp.Mengger dan Garut-Limbangan dengan tarif Rp.1.500 dan ojeg dengan tariff Rp.2.000.Kualitas pemandangan dan tingkat keamanan sepanjang jalan di kawasan objek dan daya tarik wisata ini cukup baik.jumlah karyawan di objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini yaitu 6 orang. Pengunjung yang berkunjung ke objek wisata ini perbulannya mencapai 400-600 orang. Pengunjug tersebut biasanya berasal dari Garut, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor,Bandung dan Jakarta.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id
Foto : http://lh3.ggpht.com