Bloggernyo urang sikaladi By. Boim
Tampilkan postingan dengan label Pulau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pulau. Tampilkan semua postingan

Objek Wisata Alam Kabupaten CIlacap Jawa Tengah

Pulau Nusakambangan
Pulau Nusakambangan merupakan salah satu kawasan pantai selatan Kabupaten Cilacap yang dipisahkan oleh Selat Segara Anakan yang memisahkan dengan daratan Pulau Jawa .

Pulau Nusakambangan dikenal juga pulau penjara yang mempunyai kesan menyeramkan itulah kesan yang acap terdengar oleh siapapun yang belum pernah datang berkunjung ke Pulau Nusakambangan.

Pulau ini memang menawarkan banyak hal. Semakin lama mendekat dan melihat kesan menyeramkan berangsur-angsur sirna . bayangan yang menyeramkan pada penghuni penjara, serta hutan belantara yang sampai saat ini masih mampu melindungi satwa-satwanya perlahan-lahan akan melumatkan kesan menyeramkan bahkan kesan tersebut berganti rasa takjub dan detak kekaguman tiada habisnya .

Seramya mendengar para penghuni LP anda tidak usah kawatir sebab diantara lokasi wisata dengan Lembaga Pemasyarakatan sangat jauh. Dari 9 buah LP, 5 diantaranya LP Karanganyar, Nirbaya, Karang tengah, Gligir dan Limusbuntu sudah tidak digunakan, namun sekarang sudah dibangun untuk penjara khusus narkoba dan penjara terbuka serta penjara super maksimum security.

Sejak tahun 1985 Lembaga Pemasyarakatan tinggal 4 LP yang di gunakan diantaranya LP Besi, LP Batu , LP Permisan dan LP Kembang kuning (Penjara yang dibangun antara tahun 1908 sampai dengan 1950) yang rata-rata mempunyai kapasitas 500 orang sampai 2000 orang .

Pulau Nusakambangan yang memanjang dari barat ketimur sepanjang kurang lebih 36 km dan lebar antara 4 – 6 KM dengan luas keseluruhan adalah 210 km2 atau 21.000 ha memang menyimpan misteri dan daya tarik wisata seperti goa, pantai, benteng dan keindahan batuk arang dan keindahan panorama alam, hutan cagar alam, dan hutan belantara .

Segara Anakan
Nikmatilah uniknya alam Segara Anakan dan Nusakambangan, dapatkan petualangan yang mengasyikan.

Segara Anakan Cilacap terletak di belakang Pulau Nusakambangan wilayah Kabupaten Cilacap. Segara Anakan merupakan Laguna yang unik di pantai selatan Pulau Jawa dengan ekosistem rawa bakau (mangrove) yang memiliki komposisi dan stuktur hutan terlengkap di Pulau Jawa. Berbagai komponen sumber daya hayati berupa flora, habitat berbagai jenis fauna, betang alam daratan dan bentang alam perairan yang beinteraksi satu dengan yang lainnya membentuk suatu kesatuan ekosistem alami.

Segara Anakan merupakan bagian dari kawasan Nusakambangan yang membentuk suatu paduan alam yang menawan. Segara Anakan dan Nusakambangan merupakan tempat wisata alam yang ideal. Panorama bentang alam dan keunikannya menyajikan suatu pemandangan yang menakjubkan. Nikmati paduan keindahan dan keunikan penuh nuansa petualangan yang mengasyikan.

Kampung Laut
Dinamakan “Kampung Laut” karena perkampungan ini berada di laguna Segara Anakan dan sekelilingnya merupakan wilayah perairan. Berbagai keunikan terdapat di daerah ini, mulai dari banyaknya Goa Karst, fauna laut, dan hingga pola hidup masyarakat yang menetap di daerah tersebut.

Letaknya dapat dikatakan terisolasi dan berada cukup jauh dengan wilayah perkotaan, membutuhkan waktu 4 jam dengan menggunakan perahu compreng atau sekitar 2 jam dengan menggunakan perahu mesin. Untuk sampai ke Kampung Laut kita akan melewati hutan mangroove dan menyusuri Pulau Nusakambangan yang digunakan sebagai penjara untuk narapidana kelas berat.

Pantai Rancah Babakan Nusakambangan
Terletak diujung paling barat Pulau Nusakambangan yang berjarak 35 km dari dermaga Sodong. Untuk menuju pantai ini melalui alur selat Nusakambangan – Segara Anakan melewati Desa Klaces Kecamatan Kampung Laut.

Sepanjang perjalanan melewati 4 LP yang masih berfungsi yaitu LP Batu, Besi, Kembang Kuning dan Permisan serta melewati Kecamatan Kampung Laut yang berada di Klaces dengan pemandangan hutan mangrove di kiri kanan alur sungai dan pemandangan pegunungan serta selat Indralaya.

Pantai Ranca Babakan tergolong pantai yang masih perawan karena belum banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini, karena memang jalur yang menuju ke pantai belum memadai.

Aksesibilitas
Dari Pelabuhan Seleko Cilacap naik perahu compreng – menyusuri alur selat Nusakambangan – Segara Anakan – melewati Desa Klaces Kec. Kampung Laut - dilanjutkan menuju Plawangan – Turun di Pantai dekat Plawangan – dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan tikus menuju lokasi.

Pantai Pasir Putih
Cocok dengan namanya pasir putih karena pantainya berpasir putih sehingga masyarakat menyebutnya Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih salah satu obyek wisata yang ada di sebelah selatan Pulau Nusakambangan tepatnya berada di sebelah timur Pantai Permisan. Pantai Pasir Putih dihiasi dengan berbagai batu karang atau pulau – pulau kecil yang membujur ke timur dihiasi ombak yang sangat dahsyat / ganas sehingga benturan air menghantam batu karang hitam menambah keindahan batu karang.

Untuk menuju Pantai Pasir Putih harus berjalan kaki menelusuri jalan yang sudah dibangun trap – trap dari paving blok sepanjang 600 m dari Pantai Permisan naik ke arah timur dan turun sampai pantai pasir putih dengan jarak 1 km. Gugusan batu karang di Pantai Pasir Putih yang membujur ke timur diselimuti ombak nan putih menambah indahnya panorama alam pantai pasir putih.

Batu – batu tersebut selain menambah keindahan pantai juga sebagai pemecah ombak yang menuju pantai pasir putih sehingga ombak yang ganas bisa dijinakan dan relatif tidak berbahaya.

Dengan pasir pantainya yang putih dan ombak yang cukup bersahabat menambah para wisatawan merasa betah dan senang berlama – lama menikmati keindahan pasir putih. Kelebihan pantai pasir putih masih terdapatnya pohon – pohon yang tumbuh secara alami sehingga menambah sejuk udara pantai dan tidak terganggu oleh teriknya sinar matahari karena bisa berteduh atau naik dahan – dahan pohon sambil menikmati deburan ombak laut selatan.

Pantai Permisan
Pantai Permisan juga terdapat di Pulau Nusakambangan tepatnya disebelah selatan LP Permisan. Pantai ini masih sangat alami belum banyak tercemari oleh manusia. Dengan pemandangan yang sangat menakjubkan dan deburan ombak laut selatan akan membawa wiasatawan betah menikmati panorama keindahan pulau-pulau kecil dan batu-batu karang didepan pantai mempunyai nilai tersendiri dibanding pantai wisata lainnya di Cilacap.

Didepan pantai ada batu karang (pulau Kecil) yang mempunyai kenangan tersendiri bagi seorang pejebat negara yaitu Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebelum menjadi Perdana Menteri seorang yang bernama Syahrir pernah berkunjung ke Pantai Permisan, di pantai itu Syahrir mencoba menyebrangi gelombang laut yang saat itu sedang kecil, ia berhasil naik ke batu karang tersebut. Akan tetapi pada saat mau kembali ke pantai datanglah ombak yang sangat besar, sehingga Syahrir bertahan sampai berjam-jam menunggu air surut diatas batu karang. Dengan adanya peristiwa tersebut maka nama Syahrir diabadikan sebagai nama gugusan karang di Pantai Permisan yang oleh sebagian kalangan masyarakat menyebutnya Batu Syahrir .

Selain cerita di atas, jika air surut wisatawan bisa mendaki sejumlah batu karang yang tersembul. Mereka akan menyaksikan berbagai simbol sosial sebagai bukti adanya legenda Raja Pakuan Pajajaran yang mempunyai putri cantik terkena wabah penyakit yang bisa sembuh kalau diobati dengan air mata kuda sembrani, maka sang raja mengirim utusan untuk mendapatkan obat tersebut tetapi selalu gagal yang pada akhirnya sang putri itu sendiri berangkat dan karena kecapaian perjalanan jauh ia beristirahat dan mandi di Pantai Permisan terseret ombak ke tengah laut dan terjepit diantara batu karang dan meninggal dan dari kejauhan hanya kelihatan sebagian anggota badannya tanpa busana maka disitu ada batu karang yang mirip alat kelamin perempuan .

Juga disebut permisan saat ada perompak mau mendarat ke Nusakambangan pantai itu tidak tampak tapi setelah permisi pada Sang Baurekso Pulau Nusakambangan nampak pantai tersebut maka disebut permisan

Pantai Permisan juga merupakan tempat penggodokan para prajurit agar mampu menjaga dan dam membela keutuhan bangsa dan negara dari gangguan apapun baik besar maupun kecil yang kiranya mengganggu kedaulatan. Tekad dan kekokohan prajurit tersebut disimbolkan dengan salah satu atribut (pisau komando) yang ditancapkan atau ditusukan kedalam batu karang sehingga dari pantai tampak pisau komando menancap dibatu karang.

Untuk menuju Pantai Permisan para wisatawan dapat menggunakan kapal penyebrangan atau perahu baik dari Pelabuhan Lomanis atau Pelabuhan Wijayakusuma ke Sodong Nusakambangan kemudian dilanjutkan dengan kendaraan pribadi atau carteran rombongan menuju ke permisan. Selama perjalanan, wisatawan bisa menikmati pemandangan alam yang ada di Pulau Nusakambangan dan bisa singgah dulu di obyek wisata Goa Ratu juga bisa melihat LP Kembang kuning , Batu , Besi dan LP Permisan.

Pantai Jetis
Pantai yang berbatasan langsung dengan obyek wisata Pantai Ayah Kebumen ini Terletak di Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap bagian Timur menawarkan keindahan panorama ombak laut selatan dan pemandangan alam pegunungan serta keindahan arur Sungai Bodo. Pantai ini terletak + 40 km dari arah timur kota Cilacap, dengan menggunakan kendaraan pribadi atau umum melalui jalur selatan-selatan jurusan Cilacap - Jatijajar - Gombong . Pada objek wisata ini terdapat Tempat Pelelangan Ikan Nelayan Tradisional.

Pantai Singkil Indah
Selain Pantai Ketapang Indah di Desa Sidaurip di Desa Karangpakis Kecamatan Nusawungu juga ada Pantai Singkil Indah letaknya kurang lebih 3 Km ke arah timur dari pantai Ketapang Indah . Obyek yang ditawarkan hampir sama dengan gugusan pantai-pantai lain yang menghadap ke Samudra Indonesia .

Pantai Ketapang Indah
Selain Pantai Widarapayung ke arah Timur ± 3 km ada Pantai yang lebih menarik lagi yaitu Pantai Ketapang Indah yang terletak di Desa Sidaurip Kecamatan Binangun, dengan luas 10 Ha. Pantai Ketapang Indah merupakan gugusan pantai – pantai lain yang menghadap Samudra Indonesia. Untuk menuju obyek wisata ini sangatlah mudah karena dapat dilalui kendaran roda dua maupun roda empat dengan menelusuri jalan beraspal jurusan Cilacap- Gombong.

Obyek ini menawarkan panorama pantai yang indah di tumbuhi pohon kelapa dan gelombang laut yang bisa digunakan untuk Selancar Air jika ombak tidak terlalu besar. Fasilitas yang ada tempat parkir yang bebas, tempat berteduh dibawah pohon kelapa dan kios-kios cindera mata sudah tertata dengan baik.

Pantai Indah Widarapayung
Merupakan objek wisata pantai dengan luas seluruh areal pantai mencapai 500 hektar terletak di Desa Widarapayung Kecamatan Binangun atau terletak ± 35 km arah timur dari Kota Cilacap. Kondisi pantainya sangat landai dengan dipagari pohon kelapa sehingga menjadikan pantai ini sejuk. Sedangkan luas kawasan yang ditetapkan sebagai Obyek Wisata Pantai Indah Widarapayung adalah sekitar 30 Ha (1000 m x 300 m)

Untuk menuju Pantai Indah Widarapayung sangatlah mudah bisa menggunakan angkutan umum bus jurusan Cilacap – Gombong atau kendaraan pribadi karena letaknya di Jalan Lintas Selatan – Selatan. Fasilitas yang ada di Pantai Indah Widarapayung: jalan yang beraspal, Shelter (tempat berteduh), Gardu Pandang, Kolam Renang, Tempat Parkir, Warung Makan, dan Kesenian Daerah. Pada bulan syura dilakukan Upacara Ritual Adat Tradisional Sedekah Bumi untuk larungan sesaji ke laut dengan diiringi kesenian daerah dan Pakaian Adat. Upacara Sedekah Bumi adalah merupakan salah satu perwujudan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Desa Widarapayung agar diberi keberkahan, keselamatan dalam sehari – harinya oleh Gusti kang Maha Agung.

Obyek ini menawarkan panorama pantai yang indah, upacara adat dan kesenian daerah, gelombang laut yang relatif teratur dan cocok untuk Selancar air.

Aksesibiltas
Dari arah timur : melewati perbatasan Kebumen (Pantai Ayah) – Cilacap (Pantai Jetis) dengan menyeberangi Jembatan Kali Bodo – ke arah barat – menuju lokasi di sebelah kiri jalan.

Dari arah barat : dari Kota Cilacap – Adipala – ke arah timur menuju Kec. Binangun – mencapai lokasi di sebelah kanan jalan.

Gua Maria (Gua Bendung)
Goa Bendung ditemukan oleh penjajah Belanda pada sekitar abad ke 16 konon pernah di gunakan sebagai tempat ibadah umat Kristiani pada saat Belanda menduduki Pulau Jawa termasuk Pulau Nusakambangan.

Untuk mencapai goa tersebut dapat melalui Pelabuhan Lomanis atau Pelabuhan Sleko dengan naik perahu atau compreng dengan menelusuri sungai dan selat Segara Anakan menuju goa atau Desa Klaces . Dari Klaces kemudian berjalan kaki selama kurang lebih satu jam menuju ke arah goa atau dapat melalui Dermaga Sodong dengan naik kendaraan roda dua atau angkutan lainnya melalui jalan darat sambil menikmati keindahan alam dan hutan serta bangunan lembaga pemasyarakatan menuju Goa Bendung sekitar 45 menit.

Goa Bendung yang ditemukan Belanda tanpa sengaja ketika penjajah Belanda meluaskan jajahannya di tanah jawa termasuk Pulau Nusakambangan mempunyai lorong sepanjang kurang lebih 150 meter dengan lebar 10 meter, didalam goa tersebut terdapat stalakmit yang menyerupai anjing dan seorang perempuan yang sedang menyusui. Karena didalamnya terdapat tempat khotbah dan stalakmit yang bentuknya seperti Bunda Maria, sehingga ada sebagian masyarakat yang menyebut Goa Maria, juga di dalamnya terdapat parit yang dibangun oleh Belanda yang galian tanahnya untuk membendung badan parit yang luas seperti pelataran dan digunakan untuk para jemaat untuk melakukan ibadah, karena pelataran yang digunakan untuk membendung air tersebut maka goa ini dikalangan masyarakat disebut Goa Bendung.

Goa Masigitsela
Goa Masigitsela adalah lobang yang cukup besar dan jauh masuk keperut bumi oleh karena proses alam yang bersangkutan terlalu lama yang menghasilkan stalakmit dan stalaktit didalam goa tersebut dan tampak sangat indah. Goa Masigitsela memiliki berbagai kaunikan disamping mulut goanya menghadap ketimur atau berlawanan dengan arah kiblat. Tebaran stalakmit dan stalaktit yang menghiasi mulut goa membentuk satu ornamen indah lengkap dengan pilar-pilarnya. Kalau diamati sepintas goa ini mirip pintu masuk bangunan masjid oleh karenanya sebagian masyarakat menyebut Goa Masigitsela disebut Goa Ibadah Sunan Kalijaga dan Sri Sultan Hamengkubuwana apalagi dikuatkan lagi sejumlah tangga yang terdapat di mulut goa juga sebuah bedug, juga didalam goa terdapat mata air tempat untuk mengambil air wudhu.

Arti Masigitsela adalah masjid yang terbuat dari sela atau batu. Wisatawan yang berkunjung ke goa ini mempunyai berbagai macam tujuan ada yang bertujuan menenangkan diri, ada yang meningkatkan iman mereka ada pula yang bertujuan ngalap berkah, ada juga yang datang tahlilan mengirim doa para leluhur. Salah satu keindahan stalakmit berwarna kuning emas dan berbentuk memanjang mirip dengan kasur sehingga sebagian orang menyebut kasurnya nabi sulaiman dan ada stalakmit yang membentuk cekungan mirip sebuah tempayan yang disebut pedaringan penggawa dan dinding batu yang memisah pedaringan penggawa di kenal sebagai tempat pertapaan Aji Saka yang diyakini jika dapat memeluk tiang aji saka keinginannya akan terkabul.

Untuk menuju Goa Masigitsela dapat dijangkau dari beberapa arah, masyarakat yang datang dari Jawa Barat bisa menggunakan kendaraan air (perahu/kapal) dapat singgah sebentar di Klaces kemudian dilanjutkan dengan perahu kecil atau jalan kaki menuju goa kira-kira 30 menit dan jika dari Cilacap melalui Dermaga Sodong masuk perairan menuju Desa Klaces atau lewat jalan darat melalui jalan di Nusakambangan dari Sodong naik menuju Goa Masigitsela

Goa Ratu dan Goa Putri
Goa Ratu dan Goa Putri terdapat di perbukitan kapur di Pulau Nusakambangan bagian tengah. Panjang goa kurang lebih 4 km dan lebar 20 meter . Goa yang kanan kirinya masih alami karena ditumbuhi oleh pepohonan rupanya menambah kesejukan dan kenyamanan didalamnya. Dari mulut goa kedalam banyak dihiasi oleh stalaktit dan stalakmit yang masih asli dan relatif indah. Goa ini juga dihuni oleh binatang seperti kelelawar dan burung walet. Kedua goa tersebut mempunyai lorong yang mudah dilalui sampai dengan panjang 140 meter dan lebar 14 sampai 20 meter, sekitar 70 meter terdapat reruntuhan atap goa yang menunjukan pemandangan dengan latar belakang stalaktit dan stalakmit.

Goa ratu ini memang cukup menarik sebagai obyek wisata alam. Akan tetapi di balik keindahan goa tersebut ternyata menyimpan misteri, ada beberapa cerita yang berkaitan dengan goa ratu. Konon goa ratu merupakan goa tua sebagai istana atau kerajan siluman. Oleh karena merupakan kerajaan siluman, goa ini sering pula dipakai atau sebagai tempat pertemuan raja-raja siluman.

Kecuali cerita tersebut goa ini juga terdapat batu yang sering kali disebut atau bernama Ganda Mayit. Batu ini pada malam-malam tertentu seperti malam jumat kliwon berbau bangkai (mayit). Selain batu ganda mayit, dalam goa ratu terdapat pula batu yang diberi nama Selendang Mayang .

Batu Selendang Mayang bentuknya tinggi besar dengan pilar pilar di sekelilingnya. Batu ini sendiri sebenarnya merupakan stalakmit yang terbentuk ribuan tahun lalu. Batu selendang mayang tergantung dan ”angker ” persis ditikungan goa , yang salah satunya yang merupakan jalur yang tembus ke laut selatan . Pada bulan syura di malam hari tertentu yaitu malam jumat kliwon mengeluarkan cahaya. Batu Selendang Mayang pada waktu tertentu juga di kunjungi orang. Mereka yang datang mempunyai maksud-maksud khusus. Kebanyakan mereka (laki-laki atau perempuan ) adalah merasa belum mempunyai pasangan hidup. Mereka kesulitan mencari jodoh umumnya bisa dikatakan ”jejaka tua atau perawan kasep ” menurut keyakinan mereka Batu Selendang Mayang dapat memudahkan orang untuk memperoleh jodoh . supaya dapat dikabulkan, maka mereka harus memeluk batu tersebut dan sambil berkata dalam hati yang diinginkan (lebih afdol lagi dibarengi dengan sesaji ).

Dalam goa Ratu ini ada juga yang disebut Goa Merah, disebut Goa Merah karena batu yang mengelilinginya berwarna merah. Konon dalam goa yang relatip sulit dijangkau ini dulu pada jaman G 30 S/PKI di manfaatkan sebagai tempat pembantaian (ada yang menyebut sebagai lobang buaya Nusakambangan. Hal ini tentunya menambah ” angkernya ” Goa Ratu yang notabene merupakan induk dari goa-goa yang ada di Nusakambangan .

Ditambah lagi goa ini sebagai pusat kerajaan gaib sehingga hal-hal gaib sangat mungkin terjadi disini, untuk itulah ada larangan yang tidak tertulis, bahwa bagi pengunjung Pulau Nusakambangan khusus di goa ratu supaya tidak melakukan atau berbuat yang sembrono (tidak pantas ) jika berada didalamnya, tidak jauh dari lokasi goa Ratu kearah barat sekitar 2 Km ada doa putri namun goa ini sementara tidak di kunjungi wisatawan karena dinding stalakmit sangat membahayakan pengunjung.

Oleh karena goa ratu cukup dalam masuk perut bumi, maka suasana dalam goa sangat gelap bagi mereka yang akan masuk kedalam goa harus mengunakan penerangan petromak atau lampu senter.

Untuk menuju goa ini relatif sangat mudah. Untuk mereka yang mau berkunjung melalui pelabuhan Penyeberangan Lomanis atau Pelabuhan Wijayakusuma dan menuju Pelabuhan Penyeberangan Sodong dengan naik perahu atau Kapal Pengayoman. Dari Pelabuhan Sodong kemudian dengan menggunakan kendaraan pribadi atau carteran menuju obyek wisata Goa Ratu.

Goa Ronggeng terletak di perbukitan kapur ujung barat Pulau Nusakambangan yaitu daerah Pelawangan, untuk menuju goa ini dapat menggunakan kapal / perahu Compreng dari Dermaga Lomanis / Sleko atau Dermaga Wijayapura dengan jarak tempuh sekitar 2 jam atau biasa lewat Majingklak dengn perahu Compreng sekitar 30 menit dilanjutkan denganjalan kaki sekitar 10 menit sampai ke mulut goa, jarak dari pantai sekitar 400 m dengan mendaki bukit.

Goa Ronggeng yang konon diketemukan oleh Penjajah Belanda pada tahun 1830-an saat Belanda mengejar sisa – sisa laskar prajurit Pangeran Diponegoro, dia singgah karena ombak laut daerah pelawangan sangat besar.

Disebut goa Ronggeng konon menurut legenda zaman dulu ada kesenian rakyat pasundan yaitu Ronggeng atau Ledek yang mencari nafkah dengan cara mbarang / meminta – minta. Pada saat itu ada orang yang ingin menanggapnya dan dibawa menyeberang perahu gethek dari bambu tapi karena ombak terlalu besar penumpang tenggelam di Selat Indralaya dan hilang menjadi batu ronggeng. Sayang batu ronggengnya telah dihancurkan oleh para penambang batu liar, sehingga pada malam – malam tertentu sering terdengar suara gamelan berbunyi sedang mengiringi penari ronggeng disekitar bukit, maka goa tersebut disebut Goa Ronggeng.

Keindahan yang ditawarkan goa tersebut yang panjangnya sekitar 60 m dan lebar 10 s/d 20 mdan masih ada lobang yang konon tembus sampai ke laut, di dalamnya terdapat Stalaktit dan Stalakmit yang cukup indah dan ada Stalakmit yang mirip patung seorang penari putri dan stalaktit berupa selendang menghiasi di dalam goa, ada tempat untuk tidur disamping itu juga ada ruangan di atas konon dulu ada tangganya untuk naik ke atas. Namun sayang goa yang indah itu di dalamnya dipenuhi Lumpur yang sudah menjadi tanah sehingga perlu digali.

Di dalam goa ada beberapa coretan tangan manusia dengan nama khas orang – orang Belanda pada tahun 1840 an dan tempat tersebut konon ditempati juga para prajurit kraton Mataram untuk menjaga keluar masuknya kapal dan perahu ke perairan Segara Anakan. Tidak jauh dari Goa Ronggeng terdapat sumber air yang konon juga digunakan sebagai tempat mandi prajurit Belanda dan di atas arah utara naik ke bukit 100 m terdapat Goa Macan atau Goa Biru yang konon lorongnya masih dihuni binatang buas Harimau Hitam.

Sumber : http://pariwisata.cilacapkab.go.id

Pulau Berhala


Pendahuluan
Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu kabupaten baru di Propinsi Sumatera Utara hasil pemekaran Kabupaten Deli Serdang sebagai kabupaten induknya. Kabupaten Serdang Bedagai dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 36 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai di Propinsi Sumatera Utara. Wilayah Kabupaten Serdang Bedagai dengan ibukotanya Sei Rampah secara geografis terletak pada koordinat 030 01‘ 12‘’ LU – 030 40‘ 48‘’ LU dan 980 45‘ 00‘’ BT – 990 18‘ 36‘’ BT. Secara administrasi Wilayah Kabupaten Serdang Bedagai terletak pada :

* Sebelah Utara: Berbatasan dengan selat Malaka.
* Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Kabupaten Simalungun.
* Sebelah Timur: Berbatasan dengan Kabupaten Batu Bara.
* Sebelah Barat: Berbatasan dengan Sungai Ular dan Sungai Buaya Kabupaten Deli Serdang

Di Kabupaten Serdang Bedagai terdapat Pulau Berhala yang secara administrasi berada di wilayah Kecamatan Tanjung Beringin tepatnya di Desa Bagan Kuala. Secara Geografis Pulau Berhala terletak pada koordinat 030 46‘ 38‘’ LU dan 990 30’ 03’’ BT di sebelah barat Pulau ini berbatasan dengan daratan Sumatera Utara sedangkan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Semenanjung Malaysia. Jarak antara Pulau Berhala dengan Dermaga Desa Bagan Kuala (biasa disebut Dermaga TPI) adalah ± 22 Km sedangkan jarak antara Pulau Berhala dengan Pelabuhan Belawan ± 65 Km. Pulau Berhala diapit oleh 2 pulau kecil, yakni Pulau Sokong Nenek (pulau yang menyatu dengan pulau induk pada saat air surut dan memisah pada saat air pasang) yang terletak disebelah timur Pulau Berhala dan Pulau Sokong Siembang (Pulau yang berjarak ± 800 m sebelah barat Pulau Berhala). Di Pulau Berhala tidak terdapat penduduk (warga) yang menetap, yang ada hanya petugas KAMLA (Keamanan Laut) dari TNI-AL dan petugas Navigasi dari Departemen Perhubungan. Setelah diadakan pengukuran dengan metode Tracking dengan alat GPS Luas Pulau Berhala (pulau induk) adalah ± 44,57 Ha, luas Pulau Sokong Nenek ± 0,5 Ha dan luas Pulau Sokong Siembang ± 1,5 Ha. Mengenai bentuk Pulau Berhala, ada beberapa intrepretasi dan asumsi mengenai bentuknya, tergantung dengan metode apa digunakan untuk melihat bentuk Pulau berhala tersebut. Berikut ini menggambarkan asumsi bentuk Pulau berhala dengan menggunakan metode hasil analisis Citra dan dengan metode Tracking dengan menggunakan alat GPS langsung di lapangan.

Pulau Berhala dihiasi oleh berbagai macam tumbuhan dan didiami berbagai macam satwa yang dilindungi antara lain Biawak, Penyu, Ular, Napu (sejenis Kancil) dan lain-lain. Pada awal dan akhir tahun pantai Pulau Berhala menjadi tempat persinggahan Penyu untuk bertelur. Pada saat-saat tertentu pula pulau ini menjadi tempat persinggahan burung-burung yang melakukan migrasi. Panjang garis pantai Pulau Berhala ± 700 m dengan sebagian besar pantainya merupakan gugusan batu-batuan besar. Pantai pasir antara Pulau Berhala dan Pulau Sokong Nenek merupakan tempat bertelurnya Penyu. Terumbu Karang yang ada di sekitar Pulau Berhala umumnya merupakan Terumbu Karang muda yang harus dilindungi. Di pulau ini cocok dilakukan kegiatan Snorkling Diving (olah raga menyelam). Dengan keindahan dan keragaman biota bawah lautnya dan kejernihan airnya, banyak penyelam mengklaim bahwa lokasi ini dapat disetarakan dengan lokasi-lokasi Snorkling Diving di Long Island Malidives (Maladewa), Nusa Penida (Bali), Perairan Maluku, Pulau Rubiah (Sabang, Aceh).

Di Pulau Sokong Siembang terdapat gua alami yang menembus bukit di pulau tersebut. Sebagian lubang dari gua tergenang air sementara bagian atasnya menjadi tempat bersarangnya Burung Walet. Pulau Berhala dapat juga digunakan sebagai lokasi memancing. Ikan-ikan dengan ukuran besar banyak terdapat di perairan sekitar Pulau Berhala. Taman-taman bawah air Pulau Berhala juga banyak menyimpan biota-biota langka dan unik seperti Ketam Kelapa (Bigus Latro), Kima Raksasa Tridacna Gigas) dan Ikan Bulu Ayam (Lion Fish). Di Pulau Berhala terdapat Hutan Primer yang pohon-pohonnya sudah berumur sangat tua. Hutan tersebut merupakan penyangga ketersediaan air tawar di daerah ini. Mata air yang memancar dari akar-akar pohon dan bebatuan sangat bersih dan jernih dengan kualitas yang sangat baik. Banyak Nelayan yang berlayar di sekitar Selat Malaka yang selalu singgah di Pulau ini untuk mengambil persediaan air tawar. Akan tetapi status Hutan yang ada di Pulau Berhala ini belum jelas apakah dikategorikan sebagai Hutan Lindung atau tidak. Namun di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2006-2016 disebutkan bahwa kawasan Pulau Berhala adalah Kawasan Pariwisata Bahari yang Berwawasan Lingkungan (Ecomarine Tourism), yang berarti merupakan bagian dari Kawasan Budidaya.

Geografis
* Luas Pulau Induk : + 44,75 Ha
* Luas Pulau Sokong Nenek: + 0,5 Ha
* Luas Pulau Sokong Siembang: + 1,5 Ha
* Terletak Diposisi : 030 46’ 38” Lintang Utara dan 990 30’ 03” Bujur Timur
* Panjang Garis Pantai: + 700 m
* Pulau ini berbatasan dengan daratan Sumatera Utara di sebelah Barat dan Semenanjung Malaysia di sebelah Timur

Satwa
* Memiliki macam satwa yang dilindungi antara lain Biawak, Penyu, Ular, Napu (sejenis Kancil) dan lain-lain serta merupakan tempat persinggahan Penyu untuk bertelur pada akhir tahun dan menjadi tempat persinggahan burung-burung yang melakukan migrasi pada saat-saat tertentu.

* Pantai pasir antara Pulau Berhala dan Pulau Sokong Nenek merupakan tempat bertelurnya Penyu

* Memiliki Terumbu Karang yang umumnya merupakan Terumbu Karang muda

* Terdapatnya gua alami yang menembus bukit di Di Pulau Sokong Siembang yang sebagian lubangnya tergenang air sementara bagian atasnya menjadi tempat bersarangnya Burung Walet.

* Memilik taman bawah air yang banyak menyimpan biota-biota langka dan unik seperti Ketam Kelapa (Bigus Latro), Kima Raksasa Tridacna Gigas) dan Ikan Bulu Ayam (Lion Fish).

Program Dan Kegiatan yang Telah Dilaksanakan Pada Tahun 2006 dan 2007

Program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2006 adalah berupa pembangunan 1 (satu) unit Pos Jaga untuk Petugas Keamanan Laut (KAMLA) yang sumber dananya adalah APBD Kabupaten Serdang Bedagai TA 2006. Sedangkan pada tahun 2007 mendapat alokasi dana sebesar Rp. 1.912.250.000,- yang bersumber dari dana APBN melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya, yang Program dan kegiatannya adalah sebagai berikut :

* Program Penyediaan Air Minum
o Pembangunan Reservoar (Bak penampung air) 1 paket
o Penyediaan air bersih melalui penyediaan Jaringan perpipaan 1 paket
o Pengadaan Mesin Pembangkit Listrik menggunakan Tenaga Matahari (Solar Shell) 1 paket

* Program Pengembangan Permukiman
o Penyusunan RDTRK Pulau Berhala 1 paket
o Pembangunan Strager 1 unit
o Pembangunan jalan lingkungan 1 paket
o Pembuatan Hand Rail tangga 1 paket
o Renovasi Lantai Anak Tangga 1 paket

Pengembangan Pulau Berhala
Sesuai Perda Kabupaten Serdang Bedagai No. 12 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Pulau Berhala Serdang Bedagai sebagai Kawasan Eco Marine Tourism (Wisata Bahari Berwawasan Lingkungan) dan arahan dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2006-2016 yang baru saja disahkan menjadi Perda disebutkan bahwa kawasan Pulau Berhala adalah Kawasan Pariwisata Bahari yang Berwawasan Lingkungan (Eco Marine Tourism), maka sudah jelas bahwa Pulau Berhala sebagai salah satu pulau terluar Negara Republik Indonesia perlu perhatian khusus, selain untuk penegasan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga dapat dikembangkan untuk daerah kunjungan wisata Eco Marine Tourism yaitu konservasi Penyu dan Taman bawah laut. Pemanfaatan Pulau Berhala diarahkan kepada beberapa aspek :

Aspek Perikanan dan Kelautan
Dimana Pulau Berhala dimanfaatkan oleh nelayan sebagai tempat berlindung dari ombak dan sebagai tempat memancing atau lokasi mencari ikan.

Aspek Pariwisata
Di pulau ini cocok dilakukan kegiatan Snorkling Diving (olah raga menyelam). Dengan keindahan dan keragaman biota bawah lautnya dan kejernihan airnya, banyak penyelam mengklaim bahwa lokasi ini dapat disetarakan dengan lokasi-lokasi Snorkling Diving di Long Island Malidives (Maladewa), Nusa Penida (Bali), Perairan Maluku, Pulau Rubiah (Sabang, Aceh).

Aspek Konservasi
Kawasan Pulau Berhala sangat berpotensi sebagai tempat penangkaran Penyu Hijau yang bertelur di Pantai Pasir sekitar Pulau Sokong Nenek.

Pemanfaatan Pulau Berhala Aspek Perikanan dan Kelautan
Sebagai tempat berlindung dari ombak dan tempat memancing atau lokasi mencari ikan bagi nelayan.

Aspek Pariwisata
Sebagai tempat kegiatan Snorkling Diving (olah raga menyelam)

Aspek Konservasi
Sebagai tempat penangkaran Penyu Hijau yang bertelur di Pantai Pasir sekitar Pulau Sokong Nenek

Akses
Aksesibilitas menuju Pulau Berhala adalah dengan menggunakan transportasi laut, yakni dengan menggunakan Kapal Motor yang bergerak mulai dari Dermaga TPI Bagan Kuala, Tanjung Beringin yang lamanya perjalanan ± 3 jam sedangkan jika perjalanan dimulai dari Pelabuhan Belawan lama perjalanan ± 4 jam. Namun transportasi laut yang menuju pulau berhala tidak mempunyai frekuensi yang tetap dan harus melalui prosedur penyewaan yang tentunya membutuhkan biaya yang relatif mahal. Disamping itu juga disebabkan oleh pendangkalan di sekitar muara di Bagan Kuala maka kapal-kapal yang menuju ke perairan Selat Malaka yang melalui Muara Bagan Kuala sering mengalami hambatan, yakni terpacaknya perahu di sekitar muara.

* Pada waktu-waktu tertentu gelombang laut di sekitar Selat Malaka yang menuju Pulau Berhala sangat tinggi, sehingga jika ingin pergi ke Pulau Berhala harus memperhitungkan musim angin di kawasan perairan tersebut.

* Penduduk yang mendiami pulau tersebut tidak bersifat menetap, yakni petugas KAMLA (Keamanan Laut) dari TNI-AL dan petugas Navigasi dari Departemen Perhubungan yang sifatnya bergilir sesuai tugas masing-masing, sehingga kebutuhan hidup sehari-hari sifatnya sementara saja.

* Regulasi yang mengatur mengenai keberadaan Pulau ini adalah Perpres No. 78 Tahun 2005 dan Perda Kabupaten Serdang Bedagai No. 12 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Pulau Berhala Serdang Bedagai sebagai Kawasan Eco Marine Tourism (Wisata Bahari Berwawasan Lingkungan), namun dalam pelaksanaannya belum dinyatakan secara spesifik bagaimana bentuk pengelolaan pulau ini agar menjadi berkembang sebagaimana yang diharapkan.

Pulau Berhala Menjadi Salahsatu Ikon Wisata
Pulau Berhala kini mulai dibenahi Pemkab Sergai untuk menarik investor. Potensi wisatanya yang begitu besar sangat mungkin membuat pulau ini menjadi salah satu ikon wisata di Sumatera Utara. Pulau seluas 5 ha ini masuk dalam wilayah Kecamatan Tanjung Beringin dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatas dengan Malaysia. Berada di titik koordinat 030 46’38”U dan 990 30’03”T, Pulau Berhala hanya berjarak 17 km dari bibir pantai Tanjung Beringin atau 65 km dari Belawan Medan.

Kawasan pulau Berhala terdiri dari tiga pulau kecil yakni Pulau Berhala, Pulau Sokong Siembang dan Pulau Sokong Nenek. Potensi wisata yang dimiliki pulau ini memang luar biasa. Laut yang bersih dan jernis serta alam tropis yang benar-benar belum tersentuh. Dengan alam yang mempesona itu dan berada di perbatasan, April lalu, Bupati Sergai HT Erry Nuradi memacangkan plank nama pulau tersebut dalam acara peringatan hari Bumi. Pemancangan plank ini menurut Bupati untuk memperjelas bahwa pulau ini adalah wilayah Indonesia dan menghindari sengketa dengan daerah lain. Menurutnya pemerintah pusat telah berjanji akan memprioritaskan pembangunan di pulau-pulau terluar. “Anggarannya diambil dari APBN 2006, “katanya.

Untuk membangun pulau kecil yang memiliki panjang pantai 700 m berpasir putih ini kata Bupati diperlukan investor yang betul-betul serius. Karenanya Pemkab terus berupaya agar dapat mendatangkan pemodal yang mau membangun sarana dan prasarana wisata. Karenanya, untuk mendukung keinginan tersebut Pemkab terus memperhatikan beberapa fasilitas seperti listrik, air bersih, penginapan dan sarana transportasi. Setidaknya ini untuk memancing wisatawan lokal maupun mancanegara datang.

Eksotisme pulau Berhala
Anda yang ingin menikmati keindahan alam ditempat yang tenang jauh dari keriuhan, agaknya bisa mencoba wisata pulau ini: pulau Berhala. Kawasan pantainya asri, sementara agak jauh kedalam pulau, hutan lebat model Arizona dapat menjadi petualangan yang menakjubkan. Pulau Berhala, yang ada di kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai saat ini tengah dikembangkan menjadi objek wisata andalan Sumut setelah Danau Toba, Brastagi, dan pulau Nias. Perjalanan paling mudah ke sana bisa dimulai dari Restoran Marina, Belawan, Medan. PT. Dian Anugrah Victoria Indonesia adalah satu-satunya perusahaan penyedia jasa transportasi ke pulau ini dengan speed boat. Itupun masih terbatas pada hari-hari tertentu.

Jarak dari Belawan ke Pulau Berhala sekitar 65 km. Bila ditempuh dengan boat biasa, waktu tempuh yang bisa 4-8 jam. Tapi dengan Super Star yang dilengkapi GPS dan kabin yang nyaman, perjalanan hanya sekitar 1,5 jam. Bahkan untuk jenis Super Star Sporty, cukup satu jam. Karena waktu tempuh yang lebih cepat, tamu bisa berkunjung tanpa bermalam di pulau ini. Belum dibangunnya penginapan permanen berbentuk resort justru membuat suasana pulai terasa alami, back to nature.

Pulau Berhala sebenarnya merupakan kawasan yang terdiri dari tiga pulau, masing-masing pulau memiliki kekhasan sendiri. Pulau induk yang menjadi lokasi penginapan dan menara suar didirikan memiliki hutan yang lebat. Pohon-pohon besar seperti Rengat, Jeluntung dan Meranti menghiasi pulau seluar 50 ribu meter persegi ini. Dalam hutannya, hidup berbagai jenis hewan seperti Napu (sejenis kancil), Biawak, Penyu, Ular dan berbagai hewan lainnya. Yang unik di pulau ini ada musim-musim tertentu dimana berbagai jenis burung bisa sangat ramai. Penyu selalu naik ke pantai pada saat bertelur. Penyu menggali pasir hingga sedalam 1 meter dan menyimpan telurnya disana. Karena banyaknya penyu, pasir pantai selalu tampak berukir jejak binatang itu.

Snorkling dan diving
Pulau kedua adalah pulau Berhala terkecil yang paling dekat dengan pulau induk. Pulau ini terkadang menyatu dan kadang terpisah, tergantung pasang atau surut. Disinilah lokasi snorkling diving yang paling bagus. Kawasan snorkling ini memanjang mengikuti garis pantai ke arah dermaga di pulau induk. Bayangkan, pada kedalaman 9 meter, dasar laut masih bisa tampak dengan jelas. Di balik kebeningan itu, satu taman warna warni menunggu pengunjung. Tumbuhan ganggang, rumput laut, serta terumbu karang warna warni yang masih utuh. Disela-selanya, ikan-ikan dengan berbagai bentuk bergerombol, meliuk dan membentuk gerakan-gerakan yang khas, ikan-ikan berbagai ukuran dan variasi warna itu tidak mudah terganggu dengan kehadiran orang. Bisa dengan mudah didekati, hingga rasa-rasanya ingin menangkapnya. Karena keindahannya itu, sejumlah penyelam mengklaim taman-taman bawah air yang sebening kaca itu bisa dikatakan setara dengan yang terdapat di Long Island Malidives (Maladewa) di selatan India, Nusa Penida di Bali, perairan Maluku maupun Pulau Rubiah di Sabang, Aceh. Hal ini didukung pula koleksi biota lautnya yang juga unik dan langka seperti ketam kelapa, kima raksasa dan ikan bulu ayam. Sementara aktivitas diving yang bisa menembus kedalaman 9 meter dapat dilakukan dengan menggunakan alat selam yang bisa disewa dilokasi. Tentu saja tidak semua orang boleh melakukan diving disini. Pasalnya diving membutuhkan keahlian khusus.

Pulau ketiga jaraknya sekitar 50 meter dari pulau induk dan harus menyeberang menggunakan boat. Wisata yang tak kalah menarik untuk dilakukan disini adalah perjalanan memasuki gua. Gua itu menembus bukit yang di pulau tersebut. Separuh lubang gua tergenang air sementara bagian atasnya menjadi tempat bersarang burung walet. Perairan pulau ini merupakan yang terdalam dan curam. Seluruh bukit nyaris terdiri dari bebatuan raksasa yang oleh proses alam membentuk pola yang khas berlekuk indah dan enak dipandang. Jika memang punya waktu banyak dapat juga mencoba memancing. Ikan-ikan yang berukuran 3 kg ke atas siap mendebarkan jantung. Disini ikan kerapu bukan ikan yang istimewa lagi. Masih banyak jenis ikan lain yang ukuran dan tenaganya mengharuskan anda bermain tarik-tarikan sebelum berhasil menangkapnya. Karekteristik pula Berhala yang berbatu batu disekelilingnya memberikan kemungkinan bagi pemancing mendapatkan tempat yang strategis sekaligus nyaman untuk berburu ikan.

Sumber : http://serdangbedagaikab.go.id
Foto : http://doniismanto.files.wordpress.com

Wisata Pulau Penyengat


Oleh : Muhammad Nasir

Tepat di gerbang Pulau Bintan, sekitar 10 menit penyeberangan dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, terhampar sebuah pulau yang menyimpan sejuta khazanah kebesaran sejarah Melayu. Namanya Pulau Penyengat. Sebuah hamparan daratan eksotis yang menyimpan aneka situs dan taman perhelatan bagi penulis Melayu di era kejayaan Kerajaan Riau Lingga.

Dari kejauhan, pulau seluas sekitar 240 hektar ini memancarkan kemegahan Masjid Raya Penyengat, yang dibangun tahun 1832 Masehi (1 Syawal 1248 Hijriah). Masjid Raya berarsitektur rancangan konstruksi Turki dan Eropa ini tetap terjaga keasriannya meski dipugar beberapa kali. Masjid bersejarah ini tetap berdiri kokoh dan menjadi situs kebanggaan masyarakat Kepulauan Riau kendati beton-betonnya hanya direkat dengan bahan kuning telur.

Menelisik lebih jauh catatan bersejarah Pulau Penyengat, sekitar abad ke-19 para Pujangga Melayu Riau Lingga telah menjadikan pulau ini sebagai taman perhelatan untuk melahirkan karya-karya besar. Pada era itu, ketika Kepulauan Nusantara belum mengenal kegiatan baca-tulis, di pulau ini telah berdiri percetakan yang menerbitkan ratusan buku ilmiah dan keagamaan.

Salah seorang penulis besar yang lahir dan berkarya di pulau ini adalah Raja Ali Haji (1809-1873 M). Karya Raja Ali Haji tentang Silsilah Melayu dan Bugis serta Tuhfat al-Nafis telah melambungkan namanya menjadi sejarawan penting bangsa Melayu.

Para Pujangga Riau Lingga seolah menemukan arwana untuk melahirkan karya-karya gemilang di zamannya. Karya-karya besar itu sungguh variatif, tidak hanya mewakili karya sastra di bidang kebahasaan, namun juga memiliki muatan religius, filsafat, kenegaraan hingga ke soal seksualitas. Karya-karya besar itu, antara lain Syair Siti Shianah, Syair Awai dan Gurindam Dua Belas.

Karya-karya emas ini tidak hanya lahir dari tangan dingin kaum bangsawan, tapi juga dari seorang perempuan jelata bernama Khatijah Terung. Melalui karyanya berjudul Kumpulan Gunawan, Khatijah menceritakan tentang hubungan seksual suami isteri. Seorang nelayan bernama Encik Abdullah pada 1902 juga menulis tentang Buku Perkawinan Penduduk Penyengat.

Simbol Intelektualitas
Melalui Kitab Bustan Al-Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa, Raja Ali Haji dinobatkan sebagai bahasawan yang pertama kali menjelaskan secara ilmiah tata bahasa Melayu. Ini menjadi dasar penempatan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (lingua franca) di Nusantara.

Raja Ali Haji juga seorang filosof dan ulama besar. Hal ini tersurat dalam karyanya yang menempatkan substansi ke-Islaman sebagai rujukan. Atas jasa-jasanya yang besar bagi Melayu dan bangsa Indonesia, Raja Ali Haji dicatat sebagai pahlawan nasional.

Pulau Penyengat di masa lalui dapat dikatakan sebagai simbol intelektualitas. Berbagai buah pikiran konstruktif yang dimaktubkan secara mutidimensi terlahir dari pulau yang kini tampak lusuh. Pesatnya penerbitan karya sastra pada abad ke-19 didorong oleh adanya lembaga percetakan bernama Matba'atul Riauwiyah yang beroperasi sejak 1890. Pada masa itu, kesadaran intelektual para penghuni Penyengat telah terorganisasi melalui perkumpulan bernama Rusyidah Club.

Pulau Penyengat pada abad ke-19 juga dikenal sebagai basis perlawanan terhadap kolonial. Pulau ini dijadikan kubu penting selama berkecamuknya perang antara Kerajaan Riau dan Belanda (1782-1794 M). Dari sini kemudian dikenal nama Raja Haji Fisabilillah sebagai Marhum Teluk Ketapang. Ia adalah salah seorang putra Kerajaan Riau Lingga yang dinobatkan menjadi pahlawan nasional dan meraih gelar Bintang Mahaputera Adipradana.

Sayangnya, waktu tidak berpihak pada kegemilangan itu. Sejarah kemasyuran Pulau Penyengat hanya terdengar lamat-lamat. Jika kita berkunjung ke pulau ini, simbol kejayaan masa lalu hanya dapat diwakili oleh beberapa potret buram. Bekas percetakan Mathba'atul Riauwiyah dan Gedung Rasyidah tinggal puing yang ditumbuhi semak belukar. Namun 250 karya sastra putera-puteri Pulau Penyengat yang berumur ratusan tahun masih tersimpan rapi di Balai Maklumat Pulau Penyengat.

Dari catatan sejarah, kemunduran intelektualitas sastra di Pulau Penyengat terjadi setelah Raja Riau Lingga terakhir, Sultan Abdurrahman Muzamsah memutuskan untuk meninggalkan Penyengat menuju Singapura pada 1911. Sultan Abdurrahman menolak menandatangani kontrak politik yang dibuat Belanda. Kepergiannya diikuti oleh sebagian besar penduduk Penyengat termasuk para bangsawan dan penulis-penulis pulau ini.

Sumber : http://www.suarakarya-online.com
Foto : http://www.kompas.com

Pulau Bintan, Gurindam, Kopi O dan Konservasi Penyu


Oleh: Petrus M. Sitohang

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihatlah kepada budi dan bahasa


Itulah kutipan dua pertama dari pasal kelima, dari Gurindam Yang Duabelas Pasal maha karya pujangga besar Melayu Raja Ali Haji dari Bintan. Tak dapat disangkal Gurindam Duabelas, begitu karya itu disebut di sekolah-sekolah di Indonesia, karya itu memenuhi syarat sebagai sebuah maha karya karena keindahan bunyi dan kedalaman isinya yang ditulis tahun 1846 masih dibaca dan terasa sangat kontekstual hingga kini. Gurindam Duabelas tidak hanya mencakup nasihat mengenai ketuhanan tetapi juga tentang keluarga dan hidup sehari-hari, etika pergaulan hingga etika kenegaraan, gurindam pasal yang kedua belas. Kalau kita sepakat bahwa bahasa adalah satu puncak budaya tertinggi manusia, bahasa Indonesia adalah persembahan terbaik budaya Melayu dalam khazanah budaya Indonesia yang tak terbantahkan.

Raja Ali Haji, meski menyandang gelar raja, sebenarnya bukanlah seorang Raja yang memerintah secara politik. Ia adalah cucu Raja Haji Fisabillah pahlawan nasional yang gagah berani dan oleh Belanda sangat disegani. Raja Haji Fisabillah, Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau – Lingga adalah keturunan Bugis. Sejak disepakatinya traktat Melayu Bugis di awal abad ke19, Jabatan Yang Dipertuan Muda diberikan kepada para bangsawan keturunan Bugis dengan gelar Raja. Jabatan Yang Dipertuan Agung dipegang oleh bangsawan keturunan Melayu dengan gelar Sultan. Namun dalam operasionalnya, Yang Dipertuan Mudalah yang menyelenggarakan pemerintahan sehari-hari termasuk sebagai panglima perang. Raja Haji Fisabilillah dihormati karena pengaruh kepemimpinannya dan keberhasilannya mengalahkan armada perang Belanda yang terdiri dari 13 kapal perang dan 1,594 awak pada tanggal 6 Januari 1784. Raja Haji berhasil menggagalkan usaha pendaratan tentara Belanda di Tanjungpinang setelah pertempuran selama 3 bulan. Meskipun enam bulan kemudian armada Belanda akhirnya berhasil mengalahkan Raja Haji Fisabillah hingga tewas dalam peperangan di Malaka namun keberanian dan masa pemerintahan Raja Haji Fisabilillah dikenang sebagai masa kejayaan Kesultanan Riau Lingga dengan pusat pemerintahannya di Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang dari 2 kilometer dari kota Tanjungpinang Pulau Bintan. Untuk mengenang kepahlawanan Raja Haji Fisabililah, di lokasi yang diyakini sebagai tempat prajurit-prajurit Melayu memukul mundur armada perang Belanda di Tanjungpinang beridiri monumen pahlawan nasional tersebut yang sangat indah dan menghadap Pulau Penyengat Indera Sakti sebutan buat pulau kecil di seberang kota Tanjungpinang tempat dahulu para raja-raja Kesultanan Riau Lingga memerintah dan para pujangga serta ahli bahasa Melayu mengembangkan sastra dan bahasa Melayu yang kelak menjadi bahasa nasional di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei. Sementara itu, untuk mengenang dan melestarikan Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji, sebagai pembuka setiap acara penting di provinsi Kepulauan Riau , senantiasa disenandungkanlah pasal-pasal Gurindam Duabelas oleh penyanyi pilihan dengan sikap khusuk.

Bintan Menuju Destinasi Baru
Pulau Bintan yang luasnya sekitar 935 km2 terletak di pertemuan selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Pulau yang setara dengan dua kali Pulau Batam dihuni oleh sekitar 274,185 (sensus Depdagri tahun 2004). Karena letaknya yang berada diperlintasan perdagangan Sriwijaya-Cina dan Cina-India telah lama dicatat dalam tulisan sejarah pelaut dan pedagang Cina sebagai tempat perlindungan para bajak laut. Bahkan petualang Arab Ibnu Batuta menulis di abad ke13 tentang Pulau Bintan: ”Di sana terdapat pulau-pulau kecil tempat dari mana bajak-bajak laut hitam bersenjata dengan panah-panah beracun merampas kapal-kapal perang bersenjata; mereka menahan orang-orang tapi tidak memperbudaknya”.

Namun itu tinggallah catatan sejarah masa lalu. Saat ini Pulau Bintan adalah salah satu tempat paling aman di Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir, ketika berbagai tindak kekerasan terjadi di belahan lain tanah air, Pulau Bintan tetap aman. Padahal saat ini Pulau Bintan adalah rumah bagi hampir segala suku bangsa di tanah air. Keturunan Melayu dan Bugis yang telah lebih dahulu memerintah di daerah ini dapat hidup berdampingan dengan rukun dengan suku-suku lainnya yang datang kemudian, Cina, Jawa, Minang, Banjar, Batak, Flores, Maluku dan lain-lainnya. Sifat budaya Melayu yang terbuka terhadap pendatang telah menjadi perekat bagi semua etnis lainnya yang datang merantau ke Pulau Bintan, entah itu untuk mencari penghidupan baru maupun para pelaut dari berbagai daerah di Indonesia yang hanya ingin singgah sebelum betolak ke Singapura atau Malaysia untuk mencari pekerjaan di kapal-kapal asing. Tak jarang, para pendatang yang semula hanya ingin melintas di Pulau Bintan, akhirnya memutuskan untuk menetap dan membangun keluarga.

Kota-kota di Bintan mulai dari Tanjungpinang, Tanjung Uban dan Kijang sangat sibuk dengan pendatang, baik dari pelbagai pelosok tanah air maupun wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Banyak wisatawan dari kedua negara tetangga tersebut datang untuk menjenguk anggota kerabatnya di Pulau Bintan atau pulau-pulau lain di Kepulauan Riau. Hal ini dikarenakan kedekatan masyarakat Pulau Bintan, atau Kepulauan Riau pada umumnya, dengan penduduk negara tetangga Malaysia dan Singapura sudah terjalin sejak dahulu ketika Kesultanan Riau Lingga mempunyai kekuasaan hingga ke Johor dan Malaka. Bahkan Sultan terakhir Riau Lingga Abdul Rahman Muazzam Shah yang akhirnya dimakzulkan oleh Belanda tahun 1911 karena tidak bersedia tunduk pada perintah Belanda antara lain untuk menaikkan bendera kerajaan Belanda di depan istananya memilih mengasingkan diri dan tinggal di negeri Singapura yang saat itu telah dikuasai oleh Inggeris. Oleh karenanya banyak penduduk Bintan baik, yang keturunan Melayu Bugis maupun keturunan Tionghoa masih mempunyai talian persaudaraan garis pertama dengan warga negara Malaysia maupun Singapura. Ini juga dapat dilihat antara lain dengan banyaknya jadwal Ferry langsung yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Malaysia dan Singapura dengan pelabuhan-pelabuhan di Bintan yaitu Bandar Bentan Telani di kawasan pariwisata Internasional Bintan di Lagoi dan pelabuhan Tanjungpinang. Tidak kurang dari 15 kali jadwal ferry yang menghubungkan Bintan dengan Johor di Malaysia dan Singapura setiap harinya dengan jarak tempuh antara 1-2 jam tergantung pelabuhan keberangkatan dan tujuan. Sebagai contoh dari Pelabuhan Bandar Bentan Telani di Lagoi ke Pelabuhan Ferry Tanah Merah di Singapura memakan waktu tempuh berkisar antara 55-70 menit. Sedangkan waktu tempuh dari Tanjungpinang ke Pelabuhan Water Front City Singapura memakan waktu tempuh sekitar 90 menit

Kedekatan perhubungan dengan negara tetangga khususnya dengan Singapura juga sangat mempengaruhi perilaku bisnis di Bintan. Seperti halnya dengan daerah-daerah lainnya di Kepulauan Riau, di Bintan sebutan mata uang dollar bermakna Dollar Singapura. Disukai atau tidak, banyak tarif hotel di Bintan bahkan secara terang-terangan menggunakan tarif dollar Singapura meskipun tentu saja tamu dapat membayar dengan rupiah dengan menggunakan kurs yang ditentukan hotel. Oleh karenannya, di sekitar pelabuhan di Tanjungpinang sangat mudah dijumpai money changer dan umumnya mata uang asing yang utama ditukarkan adalah dollar Singapura dan Ringgit Malaysia.

Sifat sebagai daerah persinggahan ini sangat mendukung usaha penginapan dan makanan. Di Tanjungpinang misalnya, sangat mudah menemui tempat-tempat makan di lapangan terbuka yang biasanya disebut Akau yang biasanya buka mulai jam 6 sore hingga jam 12 malam. Beberapa yang terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan hingga saat ini adalah, Akau di Jalan Potong Lembu dan di Jl. Tugu Pahlawan atau yang populer disebut Meja Tujuh. Menu yang umum dijual di Akau sangat bervariasi, mulai dari masakan Padang, soto, chinese food dan sea food. Namun salah satu menu yang benar-benar khas Bintan adalah sejenis siput laut dengan kulit tebal yang disebut gonggong. Wisatawan harusnya jangan meninggalkan Bintan sebelum mencicipi gonggong. Harganya berkisar Rp.10,000 hingga 15,000 per porsi. Menu ikan bakar di Akau-akau sekitar Bintan juga mempunyai bumbu yang sangat khas. Cobalah memesan Ikan Lebam bakar yang berukuran telapak tangan, dan anda akan merasakan betapa khasnya rasa ikan bakar bumbu Bintan. Tapi jangan tergiur ukuran Ikan Lebam yang besar karena semakin besar ukurannya biasanya semakin keras dagingnya. Selain itu tentu saja anda juga bisa memesan sotong bakar atau Ikan Kerapu rasa asam pedas yang juga sangat populer untuk wisatawan asing.

Kalau siang panas terik menyengat kulit anda, singgahlah di sebarang kedai kopi yang sangat mudah dijumpai di Tanjungpinang, Tanjung Uban maupun Kijang. Mungking Bintan adalah salah satu pulau yang paling mudah menemukan kedai kopi. Kedai kopi di Bintan bukan hanya sekedar tempat menikmati secangkir Kopi O (sebutan untuk kopi manis tanpa susu) dan Teh O (sebutan untuk teh manis tanpa susu) atau minuman lainnya. Bagi masyarakat Pulau Bintan, termasuk para petingginya, kedai kopi adalah tempat pertemuan yang paling disukai dan umum. Bahkan banyak pejabat termasuk walikota Tanjungpinang Hj Suryatati Manan mengakui sering berkunjung ke kedai Kopi selain untuk bersantai juga untuk menyerap informasi yang apa adanya dari masyarakat.

Untuk yang mempunyai anggaran lebih, Bintan Resort di Lagoi adalah tujuan pelancongan baru yang dikembangkan dengan konsep modern dan terintegrasi. Kawasan wisata ini membanggakan dirinya sebagai tujuan wisata keluarga modern yang sehat dan berwawasan lingkungan. Salah satu ciri khas semua hotel di Bintan adalah beach front resort, resort yang langsung menghadap laut. Jadi jika Anda penikmat suara deburan ombak, angin dan aroma laut, Bintan Resort akan memanjakan Anda. Saat ini di Bintan Resort telah beroperasi hotel-hotel resor dari berbagai ukuran dan konsep. Ada Bintan Lagoon hotel resort dengan 500an kamar dan villa yang dilengkapi dengan 2 Golf Course. Ada juga Club Med Ria Bintan dengan konsep ”club hotel” nya. Pemilik resort ini juga menawarkan Ria Bintan Golf Course yang disebut sebagai salah satu golf course terbaik di Asia. Selain itu juga ada Banyan Tree Resort dengan villa-villa berarsitektur Bali diperbukitan yang menghadap laut. Angsana Resort & Spa akan memberikan pelayanan spa kelas atas dengan terapis-terapis yang dilatih di Thailand.

Dan yang tak kalah menarik juga adalah Nirwana Garden Resort yang menyediakan kamar hotel dan villa Banyu Biru dan Indera Maya. Sejak tahun 2005, Nirwana Gerden Resort bekerja sama dengan PT Bintan Resort Cakrwala, pengembang induk kawasan pariwisata ini, melakukan program penyelamatan penyu laut. Tahun lalu saja telah berhasil dilepaskan ke laut sebanyak 550 anak penyu di pantai Nirwana Gardens Resorts. Hingga bulan July 2006 telah berhasil dilepaskan 296 anak penyu kelaut. Ranan Samanya, pimpinan proyek ini mengatakan bahwa tujuan proyek ini adalah untuk mengembalikan masa-masa keemasan pantai utara Bintan sebagai habitat penyu laut di tahun 50an. Meski mengakui apa yang dilakukannya belum dapat disebut sebagai sebuah sukses, Ranan yakin bahwa proyek ini telah turut menyumbang dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dan upaya perlindungan hewan-hewan yang dilindungi.

(artikel ini dimuat di majalah udara ADAM SKY edisi Oktober 2006)

Sumber : http://sitohangdaribintan.blogspot.com

Prospek Pengembangan Ekowisata Kawasan Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan Sekitarnya


Oleh Irwanto

Pendahuluan
Definisi ekowisata yang pertama diperkenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society (1990) adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Namun dalam perkembangannya ternyata bentuk ekowisata ini berkembang karena banyak digemari oleh wisatawan. Wisatawan ingin berkunjung ke area alami yang dapat menciptakan kegiatan bisnis. Kemudian, ekowisata didefinisikan sebagai bentuk baru dari perjalanan bertanggungjawab ke area alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood, 1999).

Ekowisata merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi. Apabila ekowisata pengelolaan alam dan budaya masyarakat yang menjamin kelestarian dan kesejahteraan, sementara konservasi merupakan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumber daya alam untuk waktu kini dan masa mendatang. Sementara itu destinasi yang diminati wisatawan ecotour adalah daerah alami. Kawasan konservasi sebagai obyek daya tarik wisata dapat berupa Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata, dan Taman Buru. Tetapi kawasan hutan yang lain seperti hutan lindung dan hutan produksi bila memiliki obyek alam sebagai daya tarik ekowisata dapat dipergunakan pula untuk pengembangan ekowisata.

Di dalam pemanfaatan areal alam untuk ekowisata mempergunakan pendekatan pelestarian dan pemanfaatan. Kedua pendekatan ini dilaksanakan dengan menitikberatkan “pelestarian” dibanding pemanfaatan. Kemudian pendekatan lainnya adalah pendekatan pada keberpihakan kepada masyarakat setempat agar mampu mempertahankan budaya lokal dan sekaligus meningkatkan kesejahteraannya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur conservation tax untuk membiayai secara langsung kebutuhan kawasan dan masyarakat lokal.

Ekowisata tidak melakukan eksploitasi alam, tetapi hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik, dan psikologis wisatawan. Bahkan dalam berbagai aspek ekowisata merupakan bentuk wisata yang mengarah ke metatourism. Ekowisata bukan menjual destinasi tetapi menjual filosofi. Dari aspek inilah ekowisata tidak akan mengenal kejenuhan pasar. Pengembangan ekowisata di dalam kawasan hutan dapat menjamin keutuhan dan kelestarian ekosistem hutan. Ecotraveler (turis ekowisata) menghendaki persyaratan kualitas dan keutuhan ekosistem. Oleh karenanya terdapat beberapa butir prinsip pengembangan ekowisata yang harus dipenuhi. Apabila seluruh prinsip ini dilaksanakan maka ekowisata menjamin pembangunan yang ecological friendly dari pembangunan berbasis kerakyatan (community based).

Potensi dan Pengembangan Kawasan Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan Sekitarnya
Di Provinsi Maluku, hutan konservasi yang telah ditunjuk dan ditetapkan adalah sejumlah 12 unit Cagar Alam (satu di antaranya adalah Cagar Alam Laut), 3 unit Suaka Margasatwa, 1 Unit Taman Nasional, dan 5 unit Taman Wisata (tiga di antaranya adalah Taman Wisata Laut). Kawasan Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu berada di Kabupaten Seram Barat dengan luas sekitar 11.000 Ha ditetapkan sebagai Taman Wisata Laut pada 05 Maret 1999 dengan SK Menhutbun No. 114/Kpts-II/1999.

Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Sedangkan Pulau Marsegu telah ditetapkan menjadi Kawasan Hutan Lindung sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10327/Kpts-II/2002, tanggal 30 Desember 2002. Ekosistem perairan di Kawasan Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan sekitarnya (TWA) memiliki beberapa potensi yang perlu dikelola dengan baik. Pembentukan kawasan konservasi dimaksudkan untuk pengelolaan sumber daya hayati, yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan ketersediaan sumber daya tersebut.

Kawasan Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan sekitarnya mengandung nilai konservasi yang tinggi. Hal ini mengacu pada data potensi terumbu karang, mangrove, lamun, rumput laut dan biota lain, seperti lumba-lumba (mamalia laut) dan penyu dari jenis erelmochelys imbricata (penyu sisik) dan chelonia mydas (penyu hijau). Beberapa biota laut unik yang ditemukan juga di kawasan ini antara lain: kelinci laut (nudibranch), tunikata (acidian), dan sejumlah besar akar bahar kipas (gorgonian). Oleh karena itu, penataan kawasan di TWA sangat penting dan mendasar dalam rangka memelihara dan melestarikan keunikan dan kekayaan ekosistem yang ada.

Fungsi yang sangat mendasar Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan sekitarnya antara lain:
• Sebagai wahana konservasi sumber daya hayati pesisir dan lautan dalam rangka upaya perlindungan kawasan dan pelestarian sumber daya yang ada.
• Sebagai wahana penelitian (research) dan pemantauan (monitoring) sumber daya hayati, meliputi sarana dan pra sarana penelitian dan penyebarluasan informasi.
• Sebagai wahana partisipasi masyarakat dari segala lapisan, baik lokal maupun non-lokal dalam rangka pendidikan dan pembinaan yang berwawasan linkungan sehingga pembudayaan sadar dan cinta lingkungan dapat dicapai.
• Sebagai wahana pemanfaatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang meliputi kegiatan wisata alam dan usaha perikanan yang bersahabat dengan lingkungan.

Potensi sumber daya alam yang dapat didayagunakan dalam kawasan TWA dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu kegiatan wisata dan non-wisata yang menunjang kegiatan wisata. Pendayagunaan potensi sumber daya alam melalui kegiatan wisata antara lain: snorkling, scuba diving, perahu kaca dan perahu wisata biasa, pancing wisata, ski air, kawasan pendaratan penyu, areal pasir putih, areal kamping (camping ground), serta komplek peristirahatan (bungalow) dengan latar belakang panorama laut. Sedangkan kegiatan non wisata, antara lain: budidaya rumput laut, budidaya/pembesaran ikan jaring apung, penangkaran dan peneluran penyu, perikanan tradisional di sekitar kawasan, serta pendidikan dan penelitian. Kegiatan-kegiatan tersebut ditata sedemikian rupa sehingga setiap kegiatan memiliki daerah tetrtentu dengan mengacu pada zonasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu: kegiatan wisata, kegiatan non-wisata yang menunjang kegiatan wisata, dan kegiatan umum.

Pengembangan Wisata
Snorkling, scuba diving, dan perahu kaca merupakan kegiatan yang menikmati pemandangan di bawah air. Pemandangan yang menarik itu meliputi hamparan terumbu karang, padang lamun dan rumput laut, ikan hias dan ikan karang, serta berbagai biota laut lain yang menghuni di bawah dan di dasar laut, antara lain kelompok moluska (kerang-kerangan dan siput), coelenterata (ubur-ubur), ekhinodermata (bintang laut, bulu babi, teripang, lili laut, dan sand dollar), mamalia air, reptilia (penyu). Aktivitas snorkling dapat dilakukan pada perairan yang relatif dangkal sehingga pemandangan bawah air masih dapat dinikmati dengan jelas. Sedangkan untuk perairan yang lebih dalam dapat dilakukan aktivitas scuba diving yang menggunakan alat selam lengkap seperti masker, snorkel, regulator, tabung udara, BCD (Buoyancy Compensator Device), sepatu koral, fin (kaki katak) dan baju selam.

Aktivitas snorkling dan scuba diving hendaknya dapat dilakukan pada daerah tertentu (daerah yang sama atau terpisah) yang dapat dikatagorikan indah dan aman bagi pengunjung. Selain itu penjelasan dan pengawasan terhadap pengunjung dilakukan secara efektif sehingga kerusakan terhadap komunitas biota dan ekosistem kawasan dapat dicegah semaksimal mungkin. Kegiatan snorkling dapat dilakukan di sekitar pinggiran Teluk Kotania dan beberapa pulau kecil lainnya seperti Pulau Osi, sepanjang hamparan datar (flat) hingga tubir. Sedangkan kegiatan scuba diving di perairan yang lebih dalam, yaitu mulai dari daerah tubir ke arah laut.

Pemandangan bawah laut juga dapat dinikmati tanpa harus berenang, yaitu dengan menggunakan perahu kaca. Pengunjung dapat melihat dan menikmati pemandangan bawah air melalui kaca yang dipasang persis di bawah perahu. Lokasi aktivitas perahu kaca dipisahkan dengan lokasi aktivitas snorkling dan scuba diving, sehingga tidak saling mengganggu. Perahu kaca ini dapat memperkecil resiko kerusakan terumbu karang dan biota lainnya, karena tidak menyentuh dasar perairan sepanjang perahu tidak membuang sauh (jangkar) atau menabrak daerah terumbu karang yang dangkal. Lokasi yang baik adalah sepanjang batas tubir yang mempunyai kedalaman yang relatif dangkal sehingga pemandangan bawah laut masih jelas.

Aktivitas pancing wisata merupakan kegiatan memancing non profit yang menikmati suasana wisata. Kegiatan ini bukan merupakan kegiatan eksploitasi tetapi merupakan pemancingan terbatas pada daerah tertentu dimana populasi dan keanekaragaman ikannya masih cukup tinggi. Daerah yang direkomendasikan untuk kegiatan ini adalah di sebelah selatan pulau. Pemantauan dari kegiatan ini hendaknya dapat dilakukan dengan baik dalam usaha mencegah penurunan populasi ikan yang tinggi dan kemusnahan jenis. Pemantauan dapat dilakukan melalui pencacahan jumlah dan jenis ikan yang tertangkap, serta evaluasi komunitas ikan di alam.

Kegiatan wisata laut lainnya yaitu ski air. Ski air dapat dilakukan pada daerah bebas ombak, dimana pengunjung dapat menikmati dengan meluncur di permukaan air. Aktivitas ini mempunyai resiko kecil terhadap kerusakan lingkungan. Namun demikian, kegiatan ini sebaiknya tidak dilakukan di atas habitat terumbu karang. Hal ini untuk menghindari terinjaknya terumbu karang oleh peserta ski air sewaktu terjatuh ke dalam air. Di kawasan reef flat sebelah utara dan timur laut Pulau Marsegu ditemukan penyu (penyu sisik dan penyu hijau) yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penelitian dan rekreasi terbatas (hanya untuk kepentingan penelitian). Namun demikian, pengunjung yang diperbolehkan masuk ke kawasan penyu tidak boleh banyak, mengingat penyu sangat sensitif terhadap suara dan cahaya.

Di Pulau Marsegu sendiri menjadi habitat satwa kelelawar (pteropus vampirus) dalam jumlah besar sehingga oleh masyarakat setempat dinamakan Pulau Marsegu atau Pulau Kelelawar. Selain Kelelawar dapat ditemui juga satwa-satwa yang dilindungi seperti burung gosong (megaphodius reinwardtii) dan Kepiting Kelapa (birgus latro) atau yang bahasa lokalnya disebut kepiting kenari. Masih banyak satwa burung lain yang menjadikan pulau ini sebagai habitat makan, bermain dan tidur.

Penutup
Potensi alam non hayati yang dapat dimanfaatkan dan dinikmati oleh pengunjung adalah hamparan pantai pasir putih. Pasir putih ini merupakan suatu tempat dimana pengunjung dapat bermain-main pasir atau ombak, dan tempat istirahat sambil menikmati pemandangan laut atau sambil menjemur badan. Hal yang perlu diperhatikan di lokasi ini adalah sampah, baik dari pengunjung atau pihak pengelola, yang merupakan sumber pencemaran yang potensial. Selain itu perlu dijaga keutuhan estetika, seperti pemandangan, kebersihan, dan sebagainya.

Di Pulau Marsegu dan pulau-pulau di sekitarnya dapat dimanfaatkan sebagai areal kamping (camping ground) dan penginapan (bungalow). Khusus untuk areal kamping merupakan daerah terbuka dengan alam di mana sekelilingnya terdapat beberapa pohon. Sedangkan tempat penginapan/bungalow dapat dibangun di sekitar pantai, yaitu daratan setelah daerah pasang tertinggi atau rumah panggung diatas permukaan laut yang dangkal dan bebas ombak.

Daftar Pustaka
• -------. 1995. Penentuan Calon Kawasan Konservasi Laut di Pulau Marsegu dan Sekitarnya. Jakarta: Dirjen Pembangunan Daerah Depdagri Bekerjasama dengan Direktorat Bina Kawasan Suaka Alam dan Konservasi Flora Fauna, Dephut.

• Fandeli Chafid, dkk. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
__________
Irwanto, Staf Pengajar Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura.
Email: irwantoshut@yahoo.com, irwantoshut@gmail.com

Sumber : http://www.irwantoshut.com/ekowisata_marsegu.html
Foto : http://www.freewebs.com

Potensi Wisata Bahari Lingga, Menikmati Indahnya Terumbu Karang


Oleh: Muhammad Nur

Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30 WIB pagi itu, namun staf khusus Bupati Lingga Deddy Zulfriady Noor sudah tiba di bandara Hang Nadim. Ia menjemput tamu dari Jakarta.

Tamu-tamu tersebut antara lain, Direktur Pariwisata Akhyaruddin, Direktur Konservasi dan Taman Laut DKP Yaya Mulyana, Ihwanuddin dan Andrianti dari Bappenas, Bambang Priyono dan Abdul Mutalib dari Departemen Perhubungan, Asisten Deputi Pengembangan Daerah Tertinggal Kementrian PDT Andi Fathoni bersama rekannya Tulus—yang membidangi infrastruktur di PDT, dan pakar kehutanan UGM Prof Azwar serta sejumlah tamu penting lainnya, termasuk perwakilan dari Sampoerna serta beberapa tamu dari Batam.

Dengan menggunakan kapal feri Baruna, rombongan yang berjumlah 20 orang ini menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Di pelabuhan ini, sudah menunggu speed boat carteran yang akan dipergunakan rombongan menuju Lingga.

Pukul 10.45 WIB, rombongan meninggalkan Pelabuhan Sri Bintan Pura. Sepanjang perjalanan, tamu dari Jakarta tak henti-hentinya melayangkan pandangan ke perairan Lingga yang biru dengan gugusan pulau-pulau kecil. Sesekali mereka membidik pulau-pulau kecil dengan kamera digital dan kamera ponsel yang mereka bawa.

Hanya satu jam perjalanan, rombongan tiba di Pulau Benan, Kecamatan Senayang. Pulau ini letaknya paling dekat dengan Batam. Dari pulau ini bisa dilihat dengan jelas Galang Baru. Bahkan, jika berangkat dari jembatan enam dengan menggunakan kapal barang, Pulau Benan bisa dicapai kurang dari satu jam. Jika menggunakan speed boat, sekitar 25 menit.

Pulau ini dihuni lebih dari 153 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk lebih 1.000 jiwa. Umumnya etnis Melayu dan Tionghoa. Meski berbeda ras dan suku, namun kehidupan masyarakat di pulau ini sangat harmonis. Mereka menyatu satu sama lainnya.

Pulau Benan sebenarnya masih satu desa dengan Medang. Namun, setelah pemekaran, Benan menjadi desa tersendiri yang dipimpin kepala desa bernama Kamaruddin. Pulau ini diterangi dengan pembangkit listrik tenaga diesel dan hanya nyala malam hari.

Melihat pulau Benan, lagi-lagi pujian mengalir dari tamu-tamu asal Jakarta. Indah pantainya. Pohon kelapa yang tinggi dengan nyiurnya melambai.

Menariknya lagi, meskipun rumah warga berada di bibir pantai, namun tak terlihat sampah. Pantainya tetap bersih. Sebelum speed boat merapat, ratusan warga Benan sudah menunggu di pelabuhan bertiang beton dan berlantai kayu yang panjangnya kurang lebih 300 meter menjorok ke laut. Alunan musik kompang pun menyambut rombongan.

Rombongan pun bergerak ke Sekretariat Kelompok Masyarakat Pengelola Terumbu Karang. Letaknya bersebelahan dengan Masjid An Nur. Begitu tiba di sekretariat, tamu disuguhkan kelapa muda yang baru dipetik dari pohonnya. “Wow, segar dan manisnya alami,’’ ujar Direktur Pariwisata, Akhyaruddin.

Tidak hanya kelapa muda yang dihidangkan, sajian hasil laut juga sudah menanti. Ada Ranga (baca: Range) sejenis Gonggong. Namun, ukurannya lebih besar dan beberapa bagian cangkangnya berbentuk seperti jemari. Selain nikmat, cangkangnya bisa dibuat kerajinan tangan (Handycraf). Juga ada Kepik, sejenis kerang, namun agak pipih dan ukurannya cukup besar. Ada juga Remis, Kimah, Kepiting Bakau, dan rajungan. “Di sini banyak sekali hasil laut seperti itu (Ranga, kepiting, kepik dan lainnya, red),’’ ujar Ketua RW I, Abdul Gani.

Warga Benan tak perlu jauh-jauh melaut, karena potensi hasil laut di kawasan ini masih melimpah. Kawasan ini jauh dari pencemaran atau eksploitasi hasil laut dengan cara-cara yang dilarang. Hasil laut itu dijual ke Batam dan Singapura. “Berapapun kita bawa ke sana (Singapura), laku semua,’’ kata Sarlan, seorang pedagang pengumpul yang biasa menjual hasil laut ke Singapura via Batam.

Tak hanya itu, ikan beragam jenis dan ukuran juga disajikan warga Benan. Tamu-tamu dari Jakarta terkagum-kagum. “Tidak salah lagi. Kawasan ini sangat potensial untuk wisata bahari dan perikanan,’’ kata Ihwanuddin dari Bappenas.

“Letaknya juga sangat strategis, dekat dengan Batam yang juga berarti dekat dengan Singapura. Saya menyarankan kawasan Pulau Benan dan sekitarnya jadi titik awal pengembangan wisata bahari,’’ katanya lagi.

Usai menikmati hasil laut Pulau Benan, rombongan dari Jakarta kemudian diberi kesempatan melihat langsung objek wisata bahari di beberapa titik di kawasan Senayang. Antara lain, objek wisata terumbu karang di Kawasan Pulau Benan, kemudian kawasan Temiang, Manu, Berjung, Penaah, Sekanak dan Lembong.

Di kawasan Pulau Benan ada satu pulau yakni Pulau Katang Lingga yang memiliki terumbu karang Indah. Tidak perlu menyelam untuk melihat keindahan karang di pulau ini, cukup menatap dari atas boat, akan ditemui aneka karang yang sangat indah. Apalagi airnya saat rombongan ini berkunjung ke pulau itu jernih, sehingga dengan mudah menyaksikan keindahan alam bawah laut, lengkap dengan aneka jenis ikan, baik besar maupun kecil.

“Ini sangat potensial untuk wisata menyelam (diving),’’ kata Ketua Lembaga Pengelola Terumbu Karang (LPTK) yang merupakan ujung tombak dari Coral Refrehabilitation & Managment Program (Coremap), Amran, sambil menunjuk ke dasar laut yang terumbu karangnya tumbuh subur. “Masyarakat Benan dan sekitarnya kompak menjaga aset wisata bahari ini,’’ kata Amran lagi.

Hal ini juga dibenarkan oleh Direktur Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (Coremap) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Yaya Mulyana. “Kawasan ini masuk wilayah kerja Coremap dan sekarang udah tahap II,’’ katanya.

“Saya hanya bisa mengatakan The best in the World,’’ kata Yaya beberapa kali.

Tidak hanya di wilayah Pulau Benan dan sekitarnya yang memiliki terumbu karang yang masih asli dan terjaga, banyaknya pulau di Lingga juga berpotensi besar. Jumlah pulau di Lingga mencapai 531 pulau. Yang berpenghuni baru 92 pulau, sisanya belum berpenghuni.

Ihwanuddin dari Bappenas menyarankan, jika Kabupaten Lingga ingin maju, pembangunannya harus fokus. Ia merekomendasikan pariwisata dan perikanan sebagai motor penggerak percepatan pembangunan Lingga. Bahkan, ia menyarankan, pengembangan wisata diawali di kawasan Benan. Selain potensi alamnya bagus, juga punya kedekatan dengan Batam dan Singapura. Ia juga menyarankan pada Kepala Dinas Pariwisata Lingga, Ishak, agar secepatnya membuat Rencana Induk Pariwisata.

“Tidak perlu menunggu RUTR dan RTRW rampung. Kalau menunggu itu kapan pariwisatanya maju,’’ ujar Ihwanuddin.

Bahkan, Ihwanuddin menantang pemerintah Lingga untuk berani melakukan terobosan bidang pariwisata. Salah satunya dengan menyewakan pulau pada investor untuk pengembangan wisata. “Berani tak menyewakan pulau selama 70 tahun pada investor? Harus beranilah, mana ada investor mau menyewa kalau hanya diberi waktu 20 tahun,’’ katanya.

Menurutnya, membangun pariwisata dan perikanan Lingga, tidak mesti dengan diawali ketersediaan anggaran yang besar. Tapi, bisa diawali dengan regulasi atau kebijakan.

“Kebanyakan orang Indonesia berfikir membangun harus dengan dana besar dulu. Alasannya selalu anggaran. Padahal bisa dengan regulasi. Caranya, berikan kemudahan bagi investor untuk masuk, bisa dengan rentang sewa pulau yang lama dan kemudahan perizinan lainnya,’’ katanya.

Menanggapi hal ini, Bupati Lingga Daria mengatakan, saat ini pihaknya sedang melobi investor yang akan membangun pariwisata di Lingga. Salah satunya Hano Bali yang sejak 2004 sudah mengajukan proposal untuk membangun pariwisata di Lingga. “Rencananya awal Desember ini mereka akan datang melihat lokasi,’’ katanya, yang dibenarkan Ishak dan Deddy.

Usai menyaksikan terumbu karang di kawasan Benan, speed boat kemudian bergerak ke Daik Lingga. Sepanjang perjalanan, lagi-lagi rombongan disajikan dengan keindahan pulau-pulau kecil yang menyebar di wilayah Lingga.

Sumber :http://batampos.co.id
Foto : http://cache.virtualtourist.com