Bloggernyo urang sikaladi By. Boim
Tampilkan postingan dengan label Sistem Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Teknologi. Tampilkan semua postingan

Tombak


Tombak menurut bahasa Lampung disebut payan. Sama halnya dengan keris, pengguna dari berbagai tombak yang masih dimiliki masyarakat ternyata berdasarkan bentuknya dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu:

Tombak panjang (payan kejang)
Tombak pendek (payan buntak/linggis)

Dari berbagai informasi yang diperoleh ada juga tombak yang didatangkan dari Lampung, terutama dari Jawa, dalam hal ini Banten (surosoan). Tombak yang didatangkan atau hadiah dari luar Lampung, biasanya dipan dang memiliki kualitas yang lebih baik, Ini dapat dimaklumi karena ia dijadikan ikatan lahir batin dalam persahabatan. Mata tombaknya sama dengan keris yaitu memiliki pamor berlapis. Banyak Tombak Lampung ini dipandan memiliki kekuatan magis, apalagi jika tombak tersebut merupakan benda pusaka warisan dari leluhur. Biasanya tombak yang demikian ini di lengkapi dengan sarung untuk mata tombaknya sedang tombak yang tidak memiliki kekuatan magis, banyak yang tidak dilengkapi dengan sa¬rung (wrangka/sakhung, Lampung), namun kadang ada juga yang memiliki sarung atau wrangka. Tombak yang mempunyai kekuatan magis cara me¬nyimpannya tidak sembarang, biasanya disimpan di suatu tempat khusus, berbeda dengan tempat penyimpanan keris biasa.

Dari bukti-bukti arkeologis, fragmen tombak banyak ditemukan di situs-situs purba¬kala, misalnya ditemukan di situs Pugungrahar¬jo (situs masa prasejarah dan klasik), situs Bentengsari (situs masa Islam) di kedua situs tersebut ditemukan pula lelehan-lelehan atau kerak besi dan logam lainnya. Kecuali itu di¬temukan pula wadah pelebur logam, terutama di¬temukan di situs Bentengsari. Dengan demikian dapat diduga bahwa di kedua situs tersebut terdapat perbengkelan atau pandai pembuatan senjata termasuk pembuatan tombak. Kesimpulan yang dapat kita tarik dari pembuktian tadi berarti di daerah Lampung sejak zaman klasik telah dikenal adanya pembuatan senjata terma¬suk tombak.

Menyinggung klasifikasi bentuk tombak yang dikatakan bahwa ada dua bentuk yaitu tom¬bak panjang dan tombak pendek, yang dimaksud dengan tombak panjang yaitu tombak yang memi¬liki gagang yang terbuat dari kayu yang beru¬kuran lebih dari 150 cm. Sedang mata tombaknya berukuran sama dengan jenis tombak pendek yai¬tu dapat mencapai 34 cm sampai 40 cm. Sedang yang dimaksud dengan tombak .pendek langka, karena biasanya berkualitas sangat tinggi, yang kadang diberi bulu ekor kuda yang disebut tunggul. Seperti halnya keris, tombak menurut penggunaannya dapat diklsifikasikan menjadi empat kategori :

1. Tombak sebagai Benda Pusaka
Tombak sebagai benda pusaka biasanya merupakan tombak yang berkualitas tinggi, dan cara pemilikannyapun diperoleh berdasarkan warisan dari leluhurnya. Memperlakukan terhadap tombak jenis ini sama dengan memperlakukan terhadap "keris sebagai benda pusaka". Ada tata cara tertentu yang harus dilakukan apabila hendak memegang, membawa, dan memandikannya Tombak yang demikian ini memiliki kekuatan magis, dan memiliki pengaruh sugesti terhadap sipemiliknya.

2. Tombak sebagai Alat Berburu
Tombak sebagai alat berburu adalah tombak yang tidak memiliki kekuatan magis. Kadang mata tombaknya sederhana, tidak berlapis atau tidak berpamor. Tombak seperti ini dipandang sama dengan senjata-senjata lainnya yang digu nakan sehari-hari. Memperlakukan tombak sebagai alat berburu tidak perlu melakukan tata cara tertentu, dan tempat penyimpanannya tidak sesuci tombak benda pusaka, bahkan tidak memiliki sarung. Cara pemilikan tombak jenis itu bukan berdasarkan warisan saja akan tetapi juga yang diperoleh dengan cara membeli.

3. Tombak sebagai Alat Upacara
Tombak yang digunakan sebagai alat untuk upacara yaitu tombak yang dipakai untuk upacara perkawinan, terutama pada acara turun di Way. Biasanya tombak tersebut dipegang oleh kedua mempelai, pengantin pria memegang ujung tombak bagian depan dan pengantin wanita memegang ujung bagian belakang. Di samping tombak yang dibawa kedua mempelai ada juga beberapa tombak yang dipegang oleh beberapa penari yang mengiringi mempelai. Tombak jenis ini dipandang tidak sesakral tombak pusaka, sekalipun kadang-kadang berkualitas tinggi dan indah bentuknya.

4. Tombak sebagai Benda Religi
Tombak sebagai benda religi, adalah se¬buah tombak yang digunakan untuk kelengkapan ritual keagamaan tertentu. Di daerah Lampung baik di kota-kota maupun di desa-desa ternyata sampai saat ini masih dijumpai adanya pelaksa¬naan sembahyang jum'at, dimana muazin dan kho¬tib sebelum dan sedang khotbah berlangsung, tombak ada dalam genggamannya (dahulu di bebe¬rapa tempat dilaporkan, bahwa sebagai penggan¬ti tombak muazin dan khotib menggunakan pe¬dang). Berdasarkan penjelasan dari masyarakat yang bersangkutan, dikatakan bahwa sekalipun pada pelaksanaan khotbah jum'at tidak dileng¬kapi dengan tombak atau pedang, sembahyang ti¬dak akan batal. Sekalipun demikian sebagian masyarakat akan terheran bahkan tanda tanya besar apabila tombak atau pedang tidak diikutsertakan pada khotbah sembahyang jum'at. Teru¬tama bagi mimbar yang tidak memiliki podium

Sumber :
Fachruddin drs dkk, Senjata Tradisional Lampung, 1991/1992 , Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai tradisional Bagian Proyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah Lampung.

Foto : http://www.geticagame.com

Keris


Keris sebagai Benda Upacara
Keris jenis ini biasanya tidak dipandang mamiliki kekuatan magis. Asal pemilikannya pun biasanya bukan merupakan warisan dari orang tua. Bentuknya biasanya merupakan sebuah keris yang indah, kadang berlapis logam mulia, mulai dari gagang hingga ke sarungnya. Tidak 0Jarang sarungnya diukir sedemikian rupa menyerupai ukiran barang-barang dari emas. Di dae¬rah Lampung keris ini disebut tekhapang/punduk keris yang indah seperti ini digunakan untuk upacara perkawinan dan dipakai oleh pengantin Aria, yang diselipkan di pinggang bagian depan atau dipegang dengan tangan kanan (berbeda dengan pengantin Jawa, keris diselipkan di pinggang bagian belakang/punggung).

Keris sebagai Bagian dari Kesenian
Dahulu menurut orang-orang tua, apabila nda kesenian silat orang memegang keris dalam pertunjukannya, di samping juga digunakannya tombak dan pedang. Keris yang digunakan untuk pertunjukan silat ini, biasanya tidak dipan¬dang memiliki kekuatan magis. Kini orang Lam¬pung dalam pertunjukan seperti ini tidak lagi Menggunakan keris.

Untuk melihat bagaimana cara pembuatan keris di daerah Lampung perlu penelitian lebih lanjut, karena:

1. Di daerah Lampung keris saat ini banyak di buat di Lampung Utara terutama di Tulangbawang udik.

2. Penggunaan keris di daerah Lampung, hanya merupakan benda pusaka, atau benda seni (sebagai benda kelengkapan upacara pernikahan dan seni pencak silat).

Sebagaimana diketahui bahwa keris yang ada di daerah Lampung banyak mendapat pengaruh dari daerah Jawa, hal ini dapat dimengerti ka¬rena dahulu daerah Jawa memiliki kerajaan-kerajaan besar. Sedang empu pembuat keris ketika itu merupakan penjual jasa bagi kebutuhan orang-orang/pembesar kerajaan, sedang empu dl Lampung banyak juga yang berasal dari meranjat (ogan Komering Ilir Sumatera Selatan) yaitu etnis Lampung Kayu Agung yang secara geografli sekarang meniadi wilayah Sumatera Selatan. Sampai kini ternyata keris masih dibuat oraw Lampung khususnya di Tulang Bawang Tengal (Lampung Utara).

Di daerah Jawa dikatakan bahwa bahan pembuatan keris meliputi besi, Baja, pamor yang berasal dari batu bintang (meteorit) atau nikel. Menurut informasi bahwa daya tahan panas batu meteorit dalam proses garap keris jauh lebih tahan. Pada temperatur tertentu in buah besi. tang dipanggang api akan luluh, tetapi sebuah meteorit yang lazim untuk pamor pada temperatur yang sama tidak luluh.

Pada dewasa ini di Lampung keris bukan lagi untuk senjata perang, tinggal fungsi lain yang masih lazim dikenal: Umpamanya, pelengkap pakaian adat tradisional, pelengkap upacara tradisional, pelengkap konsep hidup ideal sebagai apa yang disebut gagaman/peselok, pelengkap eksotisme lama dalam hidup zaman mo dern. Di Lampung dikenal ada konsep hidup lengkap bagi seorang pria dewasa, yaitu antar lain wisman (bulamban), tenangga, kukila (segokan), jama (istri) dan pemenah (pusaka).

Untuk melihat apakah konsep itu terpakai oleh masyarakat suku bangsa Lampung, secara tersamar, namun terlalu banyak variasi untuk mengatakan bahwa di daerah Lampung konsep tersebut juga berlaku, bahkan bukan tidak mungkin konsep itu tidak ada, karena secara tradisi Lampung secara setempat-setempat sedikit banyaknya ada perbedaan dengan tradisi yang berlaku secara umum. Namun demikian yang pasti setiap berbusana adat punduk/tekhapang harus hadir.

Sumber :
Fachruddin drs dkk, Senjata Tradisional Lampung, 1991/1992 , Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai tradisional Bagian Proyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah Lampung.

Foto : http://4.bp.blogspot.com

Arsitektur dan Tata Ruang Rumah Tradisional Sasak Lombok


Oleh : Khaerul Anwar

RUMAH bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.

ITU terlihat pada rumah tradisional suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, seperti di Dusun Limbungan, Desa Perigi, Kecamatan Suwela, Lombok Timur; Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah; dan Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Barat.

Memang fungsi dan bentuk fisiknya, rumah tradisional itu ada yang berubah dan berbeda, sejalan dengan bertambahnya jumlah penghuni maupun tergantung risiko (kondisi keamanan, geografis, dan topografis) di masing-masing dusun. Namun konsep pembangunannya: arsitektur, tata ruang, dan pola tampaknya merujuk tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya.

Pola hunian di tiga dusun itu mengompleks meski lokasinya di tempat datar, seperti Dusun Segenter, atau dataran tinggi sebagaimana di Dusun Limbungan dan Dusun Sade. Sedangkan bangunan yang ada meliputi bale (rumah), berugak (bale-bale bertiang empat disebut sekepat atau bertiang enam atau sekenem), lumbung dan kandang (bare) ternak. Bangunan-bangunan itu mengikuti kontur tanah, khusus bangunan rumah seluas 7 x 6 meter (dihitung dari luar) dan 6 x 5 meter (dihitung dari dalam) per unit.

Bagian rumah terdiri atas atap yang umumnya berbentuk gunungan, menukik ke bawah jarak 1,5-2 meter dari permukaan tanah (fondasi). Atap dan bubungan (bungus)-nya adalah alang-alang yang umumnya menghadap Gunung Rinjani dan berdinding anyaman bambu (kampu). Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah bila ada penghuninya sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben dan dapur, sempare (tempat menyimpan makanan, peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) tanpa jendela. Lantai rumah umumnya tanah yang dicampur dengan kotoran kuda, getah, dan abu jerami, seperti terlihat di Dusun Sade dan Limbungan.

Kompleks perumahan itu tampak teratur seperti ada "pagar hidup" yang membatasi kompleks tempat tinggal itu, jalan tanah dan berugak di mana tiap rumah diapit dua rumah. Penataan itu selain tampak demikian teratur yang seakan menggambarkan kehidupan harmoni penduduk, juga sama dengan pola hunian modern dewasa ini.

Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Misalnya, ruang tamunya terbuka tanpa dinding, tiang penyangga bangunan bagian atas diberi ukiran.

Malah dalam waktu 15 tahun terakhir ini, arsitektur Lombok dijadikan pelengkap pada bangunan perkantoran dinas/instansi di Mataram. Lumbung dibangun di bagian depan atau pintu keluar-masuk kantor. Materi bangunannya disesuaikan dengan bahan bangunan kantor berupa semen, pasir, dan genteng. Tujuan pendirian lumbung adalah menunjukkan kekhasan dan pelestarian kebudayaan fisik, terutama di Pulau Lombok.

SEPERTI disinggung di atas, selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran sapi di bagian permukaan lantai.

Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.

Arsitektur rumah warga di tiga dusun itu relatif mirip, yang agak berbeda mungkin fungsi ruangannya. Hanya rong dalam rumah di Dusun Segenter lekat tradisi wetu telu-nya. Misalnya, di inan bale, kecuali menyimpan beras dalam gentong (temberasan/kemeras), barang berharga lainnya, juga tempat menyimpan nenoq (sesaji bagi arwah leluhur dan roh penghuni rumah), dan saat tertentu dijadikan tempat pemujaan/meditasi keluarga.

Rumah tinggal di Dusun Segenter dibangun dengan asas cermin, (pintu rumah yang satu dengan rumah di depannya saling berhadapan dan diselingi sebuah berugak di tengahnya), bukan saling membelakangi seperti rumah di Dusun Limbongan maupun di Dusun Sade yang arahnya ada yang berhadapan, ada pula yang saling membelakangi.

Pemilihan lokasi permukiman itu terkait dengan pola bercocok tanam khas masyarakat agraris, kata M Yamin, pemerhati budaya Sasak, Lombok. Mereka memerlukan air untuk irigasi maupun kegiatan rumah tangga yang biasanya jadi sumber mata air, umumnya berada di dataran tinggi.

Gunung yang dekat dengan hutan memudahkan mereka mendapat sumber makanan tiap hari. Mungkin juga ada kaitannya dengan kepercayaan tradisional bahwa gunung dan dataran tinggi menjadikan "hubungan komunikasi" manusia dengan Sang Pencipta "lebih dekat".

Karena letaknya di dataran tinggi, seperti Dusun Segenter dan Dusun Limbungan, fungsi dapur juga sebagai penghangat, sedangkan penerangan pada siang hari hanya dengan sinar matahari yang menyelinap dari balik pagar, yang juga berfungsi sebagai sirkulasi udara, untuk keamanan bila ada serangan binatang buas dan memantau orang yang bermaksud jahat terhadap tuan rumah.

Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati, simbol keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas).

Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.

Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, umpamanya guna mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.

Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, "Kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit," tutur Amak Yani, warga Dusun Limbungan Timur.

Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.

Dipertahankannya bahan konstruksi dan bentuk rumah itu merupakan ketentuan yang tidak bisa ditawar-tawar. Karenanya yang tinggal dalam kampu mematuhi ketentuan itu, tetapi memilih lokasi agak jauh dari rumah orangtuanya. Pertimbangannya, "Khawatir, jangan sampai ibu saya ngomong biasa misalnya, lalu didengar dan salah dimengerti oleh istri saya, membuat hubungan kami dengan orangtua jadi keruh," ucap Suparman, Kepala Dusun Limbungan.

Sumber : http://labulia.blogsome.com

Batik “Gajah Uling”, Khas Banyuwangi


Batik Gajah uling melambangkan sesuatu kekuatan, yang tumbuh dari dalam jati diri masyarakat Banyuwangi. Pemaknaannya berkaitan dengan karakter masyarakat yang bersifat religius. Dengan penyebutan Gajah Eling, yang artinya eling (mengingat) kemahabesaran sang pencipta adalah sebuah jalan terbaik dalam menjalani hidup masyarakat Banyuwangi.

Selain itu, adanya keterkaitan dengan sosok misteri pada sejarah Blambangan. Penaklukan Blambangan oleh Mataram, yakni pada masa Sultan Agung Hanyokro Kusumo (1613-1645 M). Dimana kekusaan Mataram inilah banyak kawula Blambangan yang dibawa ke pusat pemerintahan Mataram Islam di Plered, Kotagede.

Mereka banyak yang belajar membatik di Keraton Mataram Islam.

Sejarah batik sudah dikenal oleh tradisi keratin di Jawa sejak abad 15. Khususnnya pada pemerintahan Sultan Agung. Setelah perkembangan zaman terjadi kepentingan politik mutualisme, dengan menetapkan tradisi membatik sebagai sebuah tradisi sebuah identitas. Penguasaan terhadap budaya yang dilingkupinya. Menariknya, sosok batik khas Banyuwangi tidak terpengaruh unsur Mataram atau pun Bali.

Kurang gregetnya batik di Banyuwangi bukan berarti Banyuwangi tidak memiliki nilai estetika ragam hias arsitektural atau ragam hias ornamental. Justru menumbuh kembangkan batik Banyuwangi berarti menggali kembali segi atau nilai estetika Blambangan yang tersebar pada tinggalan Arkeologi yang ada.

***

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, adalah salah satu wilayah produsen batik, yang jarang ditengok orang. Padahal, kekhasan batik Banyuwangi dengan ciri gajah uling-nya, tak dapat dikesampingkan begitu saja.

Gajah uling memang bentuk dasar batik Banyuwangi. Pada kain batik produksi kota ini, selalu ada gambar gajah uling. Dari asal katanya, kata itu merupakan gabungan kata dari gajah, dan uling, yaitu sejenis ular yang hidup di air (semacam belut).

Ciri itu berbentuk seperti tanda tanya, yang secara filosofis merupakan bentuk belalai gajah dan sekaligus bentuk uling. Di samping unsur utama itu, karakter batik tersebut juga dikelilingi sejumlah atribut lain. Di antaranya, kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan laut), dan manggar (bunga pinang atau bunga kelapa).

“Itu konsep dasar gajah uling. Kalau ada batik dengan unsur-unsur itu, dan latar belakangnya putih, berarti itu batik khas Banyuwangi,” kata Pemimpin Kelompok Pengrajin Batik “Sayu Wiwit”, Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi, Soedjojo Dulhadji.

Dari arti katanya, gajah yang merupakan hewan bertubuh besar, berarti mahabesar. Sedangkan uling berarti eling, atau ingat. “Jadi, berdasar telaahan saya pribadi, gajah uling ini mengajak kita untuk selalu ingat kepada yang mahabesar, kepada Tuhan,” katanya.

Toh, sampai sekarang belum ada kesepakatan final mengenai dasar filosofi gajah uling. Sehingga, masing-masing pengusaha batik memilikikeyakinan sendiri-sendiri tentang keberadaan trade mark batik Banyuwangi ini.

Soedjojo, bisa dikelompokkan sebagai penganut aliran konvensional yang masih setia pada pakem gajah uling. Tak heran, kain batik produksiSayu Wiwit, selain menampakkan wajah gajah uling dengan kentara, juga banyak yang berlatar belakang putih. Pasalnya, ia berpendapat batik khas Banyuwangi memang seharusnya berwarna dasar putih.

Mempekerjakan 25-30 tenaga kerja, Sayu Wiwit selama ini melayani pasaran batik di Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Pasar andalannya, baju seragam siswa dan karyawan di lingkungan Banyuwangi, yang digerakkan atas rekomendasi Bupati Banyuwangi.

***
Lain halnya dengan Suyadi, pemilik Sanggar Batik Virdes di Desa Simbar, Kecamatan Cluring. Bagi Suyadi, pakem gajah uling bisa dikembangkan konsepnya dengan sedemikian rupa, mengikuti selera pasar. “Prinsip saya, pembeli adalah bos. Sehingga bagaimana kata konsumen, saya akan ikuti. Yang penting bentuk gajah uling tidak ditinggalkan,
masih tetap ada,” jelasnya.

Tak heran, corak batik Virdes terlihat lebih dinamis, karena lebih berani mengacak pakem gajah uling. Akibatnya, wajah trade mark khas Banyuwangi itu terselip di antara keramaian warna dan gambar lainnya.

Suyadi tak terlalu pusing dengan omzet produksi batik yang banyak dari segi kuantitatif. Untuk setiap corak baru yang dibuatnya-misalnya corak baru batik sutra-ia hanya membuat sepanjang enam meter saja, sebagai sampel.

Sampel itu kemudian dipajang di galeri mininya di Desa Simbar, atau dipamerkan di stan-stan pameran. Biasanya, tak lama setelah motif baru itu dipasarkan, sudah ada pembeli yang memesan, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, misalnya mencapai 100 lebih.

“Sesudah ada pesanan dari konsumen itulah, saya memproduksi batik motif itu sesuai jumlah yang dipesan,” katanya. Dengan corak baru yang sering berganti dan jenis kain yang juga disesuaikan keinginan pembeli, ia berani mematok harga tinggi untuk batik produksinya.

Harga batik tulis dan batik cap di Virdes, berkisar antara Rp 14.000 per meter, sampai Rp 1 juta per meter. Harga itu bisa dinilai wajar, karena konsumen langganan batik Virdes adalah kalangan pejabat, pengusaha, dan pelanggan mancanegara.

Sejumlah pasar yang telah dirambahnya, antara lain Palembang, Jambi, sejumlah kota di Kalimantan, dan hampir semua kota di Jawa Timur. Selain itu, Suyadi juga sering memasok batik gajah uling ke Italia, Perancis, Inggris, dan Australia.

Sumber :
http://vindisweet.blogspot.com
http://kangirwan.wordpress.com
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Rumah Adat Karo


Oleh : Eddy Suranta Sembiring

Mengenal sejenak Rumah Adat
Karo Suku Karo mendiami daerah bagian utara Propinsi Sumatera Utara, terutama di daerah tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, dan sebagian Dairi. Sebagian besar orang Karo masih hidup di desa-desa yang disebut kuta. Kuta merupakan kesatuan territorial yang dihuni oleh penduduk dari beberapa merga (klen) yang berbeda. Dalam kuta terdapat dua atau lebih deretan rumah adat. Namun, sekarang tidak semua kuta memiliki rumah adat. Di beberapa tempat kita masih dapat menemukan rumah adat Karo yang sudah berusia ratusan tahun diantaranya di desa Lingga, Dokan dan Peceren. Rumah Adat Karo terkenal karena keunikan teknik bangunan dan nilai sosial-budayanya. Rumah adat Karo memiliki konstruksi yang tidak memerlukan penyambungan. Semua komponen bangunan seperti tiang, balik, kolom, pemikul lantai, konsol, dan lain-lain tetap utuh seperti aslinya tanpa dilakukan penyerutan ataupun pengolahan. Pertemuan antarkomponen dilakukan dengan tembusan kemudian dipantek dengan pasak atau diikat menyilang dengan ijuk untuk menjauhkan rayapan ular. Bagian bawah, yaitu kaki rumah, bertopang pada satu landasan batu kali yang ditanam dengan kedalaman setengah meter, dialasi beberapa lembar sirih dan benda sejenis besi. Rumah adat Karo berbentuk panggung dengan dinding miring dan beratap ijuk. Letaknya memanjang 10-20 meter dari timur ke barat dengan pintu di kedua jurusan mata angin itu. Posisi bangunan Rumah Adat Karo biasanya mengikuti aliran sungai yang ada di sekitar desa. Pada serambi muka terdapat semacam teras dari bambu yang disusun yang disebut ture.

Nilai Kepercayaan dalam Pembangunan Rumah Adat Karo
Sebelum membangun rumah, orang Karo mengadakan musyawarah dengan teman satu rumah mengenai besar, tempat, dan hal-hal lain. Waktu membersihkan dan meratakan tanah ditentukan oleh guru (dukun) untuk mendapatkan hari yang baik. Ketika akan mengambil kayu ke hutan mereka kembali menanyakan hari yang baik untuk menebang pohon kepada guru. Sebelum menebang kayu guru akan memberi persembahan kepada penjaga hutan agar jangan murka terhadap mereka karena kayu itu dipakai untuk membangun rumah. Dalam proses pembangunan mulai dari peletakan alas rumah selalu ada ritual yang dibuat agar pembangunan rumah tersebut diberkati oleh yang maha kuasa dan agar tidak tejadi hal-hal yang buruk. Setelah rumah selesai dibangun masih ada ritual yang diadakan. Guru dan beberapa sanak keluarga yang membangun rumah akan tidur di rumah baru itu sebelum rumah itu ditempati. Mereka akan memimpikan apakah rumah tersebut baik untuk dihuni atau tidak. Waktu memasuki rumah baru biasanya diadakan kerja mengket rumah mbaru (pesta memasuki rumah baru). Pesta ini menunjukkan rasa syukur atas rumah baru tersebut kepada saudara-saudara dan kepada yang maha kuasa. Dalam pesta ini ada acara makan bersama dengan para kerabat, kenalan, dan orang-orang sekampung. Lalu, acara dilanjutkan dengan acara ngerana (memberi kata sambutan dan petuah-petuah) oleh pihak-pihak yang berkompeten seperti: Kalimbubu, Anak beru, dan Senina. Dalam pesta ini juga biasanya ada acara tepung tawar untuk rumah baru. Guru akan menepungtawari bagian-bagian tertentu dari rumah. Tujuannya ialah agar segala yang jahat keluar dari rumah dan yang baik tinggal dalam rumah untuk membuat para penghuni rumah bisa bahagia menempati rumah tersebut. Acara lain yang kadang dibuat adalah gendang. Gendang ini bertujuan untuk mengusir hal-hal jahat yang masih tinggal di dalam rumah tersebut. gendang tersebut juga menunjukkan rasa gembira dan syukur bersama warga sedesa.

Nilai Kepercayaan dalam Bentuk Bangunan Rumah Adat Karo
Struktur bangunan rumah adat Karo terbagi atas tiga bagian, yaitu atap sebagai dunia atas, badan rumah sebagai dunia tengah, dan kaki sebagai dunia bawah, yang dalam bahasa Karo disebut Dibata Atas, Dibata Tengah, dan Dibata Teruh (Allah Atas, Allah Tengah, dan Allah Bawah). Pembagian anatomi rumah adat Karo menggambarkan: dunia atas tempat yang disucikan, dunia tengah tempat keduniawian, dan dunia bawah tempat kejahatan sehingga layak untuk tempat binatang piaraan, yang dalam kepercayaan suku Karo dikuasai oleh Tuhan Banua Koling. Penguasa yang jahat dipuja dan dihormati agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Dalam pembangunan rumah adat, hal yang terpenting adalah prosesnya yang sakral dibandingkan segi fisiknya. Hal ini tampak mulai dari penentuan tapak/lahan, pemilihan kayu di hutan, hari baik untuk pendirian rumah, pemasangan atap sampai memasuki rumah. Kesemuanya dilakukan melalui upacara-upacara ritual dengan kerbau sebagai korban. Upacara-upacara ini menunjukkan kepercayaan yang besar orang Karo akan kekuasaan yang melebihi kekuatan manusia.

Nilai Kebersamaan dari Rumah Adat Karo
Suatu rumah adat biasanya dihuni oleh empat atau delapan bahkan sampai enam belas keluarga batih (jabu), yang masih terikat hubungan kekerabatan secara patrilineal. Penempatan jabu di dalam rumah diatur menurut ketentuan adat. Inilah yang menjadi kekhasan rumah adat Karo bila dibandingkan dengan rumah adat lain. Jumlah anggota keluarga ini berkaitan dengan tungku masak di dalam rumah. Tiap tungku digunakan oleh dua keluaga sehingga dua keluarga biasanya memakan makanan yang sama. Ini juga menjadi keunikan yang menunjukkan kebersamaan dalam Rumah Adat Karo. Kegembiran atau kesusahan satu anggota keluarga menjadi kegembiran seluruh penghuni rumah adat. Dan lewat perayaan-perayaan hidup seperti membangun rumah, pesta tahunan, kerja di ladang, pernikahan, kelahiran anak, dan kematian tampaklah kebersamaan itu semakin hidup.

Sumber : http://deparita.multiply.com

Model Pariwisata Budaya Berbasis Tenun di Lombok


Abstrak
Hasil penelitian mengenai Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Indonesia: Studi Kasus Tenun Lombok menunjukkan bahwa tenun Lombok mempunyai potensi untuk diberdayakan sebagai basis pariwisata. Pemilihan topik didasarkan pada tren industri pariwisata abad XXI, yaitu cultural tourism, di mana tenun diyakini mampu mengambil peran di dalamnya. Acuan lainnya adalah kebijakan Pemerintah Daerah NTB yang menempatkan industri pariwisata dan kerajinan berskala ekspor sebagai prioritas bagi peningkatan potensi daerah. Ruang lingkup pariwisata dipilih karena pariwisata merupakan sektor industri yang bersifat quick yielding dan membuka peluang baru bagi industri pariwisata di Lombok yang selama ini hanya memfokuskan pada wisata alam bahari dan pegunungan..

Mengingat tenun adalah cultural hetitage, maka pendekatan yang digunakan dalam penelian ini adalah pendekatan Cultural Resources Management (CRM) dengan kerangka pikir bahwa aspek perlindungan dan pelestarian tenun ditujukan untuk pemberdayaannya secara ekonomi agar dapat memberikan manfaat masyarakat secara berkesinambungan. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan unit-unit analisis potensi wisata Lombok, tren pariwisata, sumber acuan hukum, serta prasarana dan sarana pariwisata.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang layak ditawarkan adalah Pariwisata Budaya Berbasis Tenun, karena di dalamnya mengandung konsep pelestarian, ekonomi, edukasi, dan berbasis masyarakat. Selanjutnya, potensi tenun yang telah dipetakan sebarannya dikorelasikan dengan objek-objek wisata yang telah diunggulkan oleh Pemerintah Daerah NTB sehingga menghasilkan kluster-kluster. Masing-masing kluster dikembangkan menjadi paket-paket wisata yang diorientasikan kepada permintaan pasar, hasilnya adalah paket-paket wisata berbasis destinasi dan berbasis program.

Meskipun tenun diyakini mampu meningkatkan pasar wisata Lombok, akan tetapi masih terdapat sejumlah kendala, yaitu bidang promosi, penguatan tenun, dan penciptaan masyarakat sadar wisata. Akar permasalahan dari ketiga kendala tersebut adalah kepedulian masyarakat terhadap tenun Lombok. Oleh karena itu, pada tahun ketiga, diusulkan penelitian yang memfokuskan pada topik kajian peningkatan kepedulian masyarakat terhadap tenun Lombok.

1. Pendahuluan
Hasil penelitian Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Lombok (Atmosudiro, dkk., 2003) menemukan bahwa tenun yang dijumpai di hampir semua desa di Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Barat mempunyai potensi yang bernilai tinggi, baik dari segi material maupun nilai intrisiknya. Secara kolektif, tradisi dan kehidupan masyarakat Sasak mengkondisikan keberlanjutan tenun. Akan tetapi, ditemukan pula sejumlah permasalahan yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi keberlanjutannya, antara lain adalah bahwa tenun kurang diorientasikan ke arah profit. Padahal, penciptaannya sendiri memerlukan modal kerja yang tidak sedikit (Ibid.)

Gambaran lain yang diperoleh dari penelitian Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Lombok (Ibid.) adalah bahwa tenun merupakan asset potensial dalam menciptakan lapangan kerja. Tidak hanya itu, bahkan mempunyai peluang sebagai sumber pendapatan daerah hingga devisa negara. Kondisi tersebut dapat dicapai apabila tenun dimanfaatkan dan dikelola secara terarah dan terencana. Salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya budaya tenun Lombok yang kami pandang sejalan dengan potensi dan kondisinya adalah dengan menempatkannya sebagai bagian dalam industri pariwisata.

Pemilihan bentuk pemanfaatan ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa tren dalam industri pariwisata abad XXI adalah cultural tourism (Butler, 1997. Fletcher, 1997), di mana tenun diyakini mampu mengambil peran di dalamnya. Hal yang tidak kalah pentingnya, yang juga kami jadikan sumber acuan adalah kebijakan pemerintah daerah yang menempatkan skala prioritas bagi peningkatan potensi daerah melalui sektor pariwisata dan industri kerajikan berskala ekspor (Depdikbud, 1992: 5. lihat juga Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi NTB 2000-2015).

Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemanfaatan tenun yang merupakan cultural heritage agar supaya dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat pendukungnya, sehingga dapat memberikan solusi bagi ancaman kepunahannya. Secara spesifik, tujuan penelitian ini diselaraskan pula dengan kebijakan regional Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, yang mencanangkan target pengembangan kerajinan berorientasi ekspor (Depdikbud, 1992: 5). Untuk itulah dunia pariwisata dipandang sebagai wahana strategis untuk menampilkan potensi tenun secara maksimal untuk memenuhi berbagai kepentingan, mulai dari kepentingan peningkatan sektor ekonomi di tingkat individu sampai dengan negara hingga kepentingan proteksi dan konservasinya.

Mengingat tenun adalah cultural hetitage yang merupakan unrenwable sources (Saraswati, 1998), maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan cultural resource management. Hal ini berarti bahwa perlindungan (protection) dan pelestarian (conservation) tenun tradisional diutamakan untuk tujuan memberdayakan masyarakat pendukungnya (Hutter dan Rizzo, 1997). Mengingat penelitian ini bersifat problem-solving.

Model penalaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah penalar induktif (Tanudirjo, 1988), sehingga generalisasi empiris yang dihasilkan dapat pula diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan serupa di daerah lain. Karena menggunakan penalaran induktif, maka rumusan hipoteses tidak diperlukan. Teori¬teori baik yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya budaya maupun pariwisata mempunyai kedudukan sebagai pengarah penelitian dan supporting argument. Analisis yang dilakukan adalah analisis yang bersifat kualitatif, terhadap unit-unit analisis (Kusmayadi dan Sugiarto, 2000: 73), yang terdiri atas :

a. Potensi wisata di Lombok, meliputi:
• Basis Wisata yang sudah ada di Lombok
• Aspek budaya yang terkait dengan tenun
• Kualitas SDM
• Sarana dan prasarana wisata
b. Trend pariwisata pada kultur dan kurun waktu tertentu dalam skala regional NTB
c. Perilaku Wisatawan yang menentukan
d. Peranan unit kelembagaan yang berkaitan dengan dunia kepariwisataan dan aspek perilaku kolektif terhadap tenun Lombok
e. Aspek promosi tenun

Pembahasan
Kondisi eksisting pariwisata yang menonjol di kawasan Nusa Tenggara Barat adalah potensi wisata alam, yang didudukkan sebagai ‘cabang kecil‘ dalam bisnis wisata Bali. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa Lombok tampaknya dipersepsikan dengan konsep komoditas yang dibangun dengan pikiran pragmatik. Dalam hal ini, tampak bahwa Lombok hanya dilihat secara fisik sebagai ‘objek‘ yang lepas dari ikatan tradisi dan kulturalnya. Konsep ini seolah-olah didasarkan pada rasionalitas yang pragmatik sebab potensi kasat mata, yakni kekayaan alam yang mempesona, dijadikan satu-satunya potensi yang dapat dikelola dan dijadikan aset perdagangan, dalam hal ini kepariwisataan.

Walaupun diakui bahwa pantai masih menjadi objek wisata yang terpenting (Soekadijo, 2000: 7), akan tetapi munculnya tren baru dalam industri pariwisata abad XXI yang berkiblat pada cultural tourism (Butler, 1997; Fletcher, 1997) memberikan peluang baru baik bagi negara maupun pemerintah daerah yang menitikberatkan pendapatannya pada industri pariwisata.

Apabila akan dibangun sebuah konsep pariwisata berbasis budaya, tampaknya perlu mempertimbangkan visi dan misi pariwisata daerah NTB, visinya adalah Kepulauan Sejuta Pesona. Sementara itu, misinya adalah: (a) mengembangkan pariwisata yang berbasis alam tanpa merusaknya; (b) mengangkat budaya setempat sebagai pendukung wisata alam; (c) mengembangkan pariwisata terpadu antara alam dan budaya; (d) membuat paket-paket wisata untuk memperkenalkan seluruh potensi yang ada; dan (e) pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kepariwisataan.

Tenun Lombok adalah salah satu pesona budaya yang diyakini dapat mewakili visi tersebut. Sementara tenun sebagai cultural attractions beserta segala aspek budaya yang menyertainya (social attractions) adalah atraksi wisata yang diyakini mampu membangkitkan motivasi wisatawan untuk memperpanjang lama tinggalnya di Lombok, karena menurut De Cuellar (1996: 56) motivasi utama wisatawan adalah mendapatkan pengetahuan serta perkayaan pengalaman melalui budaya, adat istiadat, dan keseharian masyarakat lain.

Mengingat tenun dan budaya yang melatarbelakangi adalah cultural hetitage yang bersifat unrenwable sources, maka penempatan sebagai basis pariwisata budaya tidak semata-mata dirancang untuk meningkatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga yang berwawasan perlindungan dan pelestarian, yang bersifat dinamis dengan memberikan ruang bagi budaya untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, kami sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Geertz (1997: 19) bahwa budaya tidak dapat dimandegkan dan secara konstan selalu berkembang, dibangun, serta diciptakan kembali untuk menjawab tantangan zaman dan perkembangan kebutuhan. Bahwa tenun tradisional Lombok pun diprediksikan mengalami perkembangan dan penciptaan kembali untuk menjawab kebutuhan dan tuntutan zaman.

Selain mempertimbangkan faktor ekonomi dan konservasi, pariwisata budaya berbasis tenun juga mengandung konsep pariwisata berbasis rakyat. Persyaratan ini kami masukkan ke dalam model pengembangan pariwisata budaya berbasis tenun tersebut karena tenun merupakan kerajinan rakyat, sehingga keberadaan dan keberlanjutannya tidak dapat dilepaskan dari peran aktif masyarakat sebagai pemilik tenun dan budaya yang melatarbelakanginya. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa pariwisata berbasis masyarakat mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan event-event pariwisata berskala kecil yang dapat dikelola sendiri oleh kelompok-kelompok masyarakat, termasuk pengusaha lokal. Karena dikelola sendiri, maka masyarakat dapat terlibat langsung di dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk menentukan mana yang boleh untuk konsumsi touris dan mana yang tidak boleh. adalah keputusan kelompok yang memiliki budaya tersebut.

Apabila kondisi semacam itu dapat dipertahankan, maka kegiatan pariwisata dapat menekan dampak sosial dan kultural yang ditimbulkan, sehingga ke depannya dapat diterima masyarakat. Karena diterima masyarakat, maka pariwisata berbasismasyarakat mempunyai peluang berumur panjang, dan menjadi sustainable tourism (Fandeli, 2000:27).

Dalam industri pariwisata, terdapat sejumlah variabel, yaitu konsumen, produsen, demand, dan suply (Sukadijo, 2000: 28), yang hubungan relasionalnya dapat dilihat pada diagram alir berikut ini.



Melalui diagram tersebut dapat dijelaskan bahwa konsumen adalah wisatawan, produsen adalah para pelaku pariwisata yang menghasilkan produk dan jasa wisata, demand adalah kebutuhan wisatawan yang harus dipenuhi, sedangkan suply adalah kemampunyai memenuhi permintaan konsumen.

Permintaan konsumen dapat diidentifikasikan berdasarkan motivasi wisata. Secara garis besar wisatawan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu wisatawan yang orientasinya pada destinasi dan wisatawan yang orientasinya pada program. Oleh karena itu, paket wisata yang ditawarkan pun kami sesuaikan dengan segmentasi konsumen tersebut, yaitu paket wisata yang bersifat mass tourism bagi wisatawan yang mengutamakan destinasi dan paket wisata yang special interest tourism bagi wisatawan yang mengutamakan program.

Untuk membuat paket-paket wisata, terlebih dahulu dilakukan ploting sentra tenun pada peta wisata dengan objek yang sudah diunggulkan (lihat Lampiran Peta 1), dilakukan untuk mengetahui sebaran tenun serta asosiasinya dengan objek-objek unggulan tersebut. Dari peta sebaran tersebut, dibuat kluster yang berpatokan pada wisata unggulan yang sudah ada (lihat Lampiran Peta 2), yang terdiri atas: (a) Kluster I : Senggigi; (b) Kluster II: Rinjani; (c) Kluster III: Otak Kokok; (d) Kluster IV: Kuta-Sade-Sukarara; dan (e) Kluster V: Lembar-Gili-gili. Di antara kelima kluster yang dihasilkan, hanya Kluster V yang tidak memiliki komponen desa tenun.

Pada paket wisata yang bersifat masal, keberadaan tenun, baik tenun itu sendiri maupun desa serta sentra tenun menjadi destinasi dari sejumlah paket yang telah dirancang. Penawaran paket-paket wisata sebagaimana ditawarkan melalui internet (lihat Atmosudiro, 2005: 85-86 dan 80) adalah contoh paket yang diperuntukkan bagi konsumen mass tourism. Dalam paket-paket tersebut tampak bahwa Sukarara dan Sade sebagai desa-desa penghasil tenun ditempatkan sebagai destinasi. Demikian juga Pasar Sweta, yang selain merupakan pasar tradisional juga merupakan pasar kerajinan dimana tenun Lombok dapat dibeli, juga hanya didudukkan sebagai destinasi. Diagram alir berikut ini memberikan gambaran tentang kedudukan tenun dalam mass tourism.



Diagram di atas menggambarkan bahwa wisatawan yang datang di kota kedatangan (Mataram, Lembar, atau Labuanhaji) pada umumnya mempunyai destinasi utama objek wisata unggulan, yaitu objek wisata alam (bahari dan gunung) serta objek wisata situs-situs kuna, kemudia baru menuju destinasi tenun, sehingga tenun hanya menjadi objek sampiran. Bandingkan dengan diagram alir berikut ini:



Diagram alir di atas menggambarkan satu paket mass tourism yang dikembangkan dari kluster I—Senggigi. Dalam model tersebut tenun masih ditempatkan sebagai destinasi, akan tetapi dijadikan destinasi utama. Dalam kasus yang digambarkan oleh dua diagram alir di atas, wisatawan disuguhi atraksi orang menenun dan tenun sebagai souvenir. Akan tetapi, tenun sebagai souvenir mempunyai kelemahan, antara lain adalah harga yang mahal, sehingga tidak setiap wisatawan mampu membeli tenun. Akibatnya, tenun dan penenun hanya menjadi ‘tontonan‘. Para Penenun kurang, bahkan tidak, mendapat manfaat dari kegiatan pariwisata tersebut.

Selain basis destinasi, dikembangkan pula paket wisata berbasis program, yang ditujukan bagi wisatawan yang mempunyai minat khusus. Karena wisatawan tipe ini pada umumnya well educated (Fletcher, 1997: 136), maka program yang ditawarkan dirancang agar wisatawan dapat memperoleh pengalaman dan pemahaman yang mendalam tentang tenun dan berbagai aspek budaya yang melatarinya, termasuk berinteraksi secara aktif dengan masyarakat pendukungnya. Berikut ini adalah spesimen program untuk special interest tourism yang dikembangkan dari kluster IV--Sukarara-Sade-Kuta.


Aktivitas menenun yang dapat ditawarkan kepada wisatawan





Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata: menjelaskan jenis tenun dan cara memakai pakaian adat Sebagai basis pariwisata, tenun perlu mendapat penguatan agar supaya kegiatan pariwisata yang melibatkan tenun tidak mengorbankan tenun itu sendiri. Penguatan yang pertama adalah dilakukan identifikasi produk tenun berserta konteksnya, sehingga dapat ditentukan tenun manakah yang seharusnya dikonservasi dan tenun yang manakah yang dapat adaptasi untuk kepentingan tenun pengembangan, termasuk untuk produk-produk turistik. Keputusan mengenai hal tersebut dipegang sepenuhnya oleh masyarakat pemilik tenun tersebut.

Penguatan yang kedua adalah penguatan terhadap budaya pendukung. Sebagaimana disebutkan dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Atmosudiro, dkk. (2003), bahwa potensi tenun sebagai objek wisata tidak hanya terletak pada nilai produknya, akan tetapi juga pada nilai intrisik yang terkandung di dalamnya, yang berkenaan dengan berbagai aspek budaya dari masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena itu, diperlukan penggalian terhadap budaya pendukung, baik dalam konteks budaya lama maupun dalam konteks baru.

Mengingat tenun Lombok sebenarnya belum dikenal banyak oleh masyarakat di luar Pulau Lombok, maka strategi penguatan yang berikutnya adalah promosi. Promosi dapat dilakukan secara formal melalui media-media advertensi atau dilakukan secara informal, dengan melibatkan sebanyak mungkin produk tenun ke dalam kegiatan pariwisata maupun even-even lainnya. Demikian juga penggunanaan tenun atau motif tenun untuk produk lain baik yang brsifat turistik maupun untuk kepentingan non-turistik, misalnya sampul publikasi, kartu undangan, seminar kit, bahkan diperlukan memperbanyak publikasi tenun Lombok, agar supaya masyarakat dapat ,mengenali, memahami, dan mengapresiasinya.


Contoh promosi tenun dengan memanfaatkannya sebagai seminar kit. Tenun yang digunakan untuk produk seperti ini adalah tenun produk pengembangan

Menarik untuk disimak adalah penciptaan idola atau patron yang bersedia mengenakan tenun Lombok untuk dijadikan panutan bagi masyarakat. Kasus serupa pernah dilakukan, misalnya oleh desainer Adjie Notonegoro, yang menggunakan patron Presiden Abdulrahman Wahid untuk mengangkat batik Yogya yang hampir punah, sehingga batik tersebut bangkit lagi dan dikenal di seluruh Indonesia sebagai ‘batik Gus Dur‘. Ratu Sirikit dari Kerajaan Thailand juga melakukan hal serupa untuk mengangkat sutera tradisional Thailand sehingga tekstil tersebut pun dikenal sebagai ‘sutera Sirikit‘.

Hal yang dipandang mempunyai urgensi tinggi untuk memberikan penguatan terhadap tenun yang digunakan sebagai basis pariwisata adalah panduan wisata yang menyertai program-program pariwisata budaya berbasis tenun, mengingat pemahaman masyarakat, termasuk pemandu wisata, terhadap jenis, fungsi , dan makna motif-motif pada tenun Lombok, rata-rata kurang memadai. Oleh karena itu, penelitian ini pun menghasilkan spesimen Modul Wisata Budaya Tenun Lombok (lihat suplemen terpisah). Di dalam modul tersebut diungkapkan pula budaya yang terkait dengan tenun, mulai dari upacara ritual, even-even tradisi, hingga mitos yang ada. Oleh karena itu, modul tersebut juga berguna untuk meningkatkan kemampuan pemandu wisata, terlebih apabila dilengkapi dengan Katalog Ragam Tenun Lombok yang dihasilkan dari penelitian mengenai Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Indonesia: Studi Kasus Tenun Lombok yang dihasilkan oleh Atmosudiro, dkk. (2003).



Modul pendamping untuk paket wisata yang dihasilkan oleh Atmosudiro, dkk. (2004)
Dalam kegiatan pariwisata, masyarakat di daerah tujuan wisata seringkali dijadikan bagian dari atraksi wisata, terlebih lagi apabila atraksi wisata yang dicari oleh wisatawan adalah cultural dan social attractions. Akan tetapi, sangatlah tidak etis apabila dalam hal ini masyarakat di daerah tujuan wisata dipandang sebagai objek yang dinikmati oleh wisatawan (Sukadijo, 2000: 57). Sebaliknya, dengan mengacu kepada Bramwell dan Lane (1993), sebagaimana dikutip Go (1996: 115), bahwa pariwisata adalah hubungan yang langgeng antara sumberdaya turisme dengan sumberdaya manusia, diwujudkan dalam interaksi yang kompleks antara pengelola industri pariwisata, wisatawan, lingkungan, dan masyarakat sebagai tuan rumah. Dalam hal ini, masyarakat sadar wisata adalah masyarakat yang sadar atas hak dan kewajibannya dalam menjalankan kegiatan pariwisata, tidak hanya berkewajiban melayani wisatawan-- sebagaimana yang selama ini didengunkan oleh slogan sapta pesona, bahwa masyarakat harus menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan—melainkan juga mempunyai kekuatan untuk keputusan mengenai hal¬hal apa yang menjadi bagian budayanya dapat dikonsumsi turis. Dengan demikian masyarakat dapat berperan aktif menjadi kontrol aktivitas pariwisata yang terjadi, termasuk menciptakan program-program paket wisata beserta sarana pendukungnya.

Kesimpulan
Penelitian “Pengembangan Pariwisata Budaya Berbasis Tenun di Lombok” ini merupakan upaya yang kami rekomendasikan untuk memberdayakan tenun sebagai basis pariwisata budaya di Lombok. Mengingat tenun adalah cultural heritage yang merupakan unrenwable sources, maka pariwisata yang dikembangkan tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan ekonomi, akan tetapi ditujukan pula untuk meminimalkan dampak negatif kegiatan parowosata terhadap lingkungan dan sosial-budaya masyarakat pendukungnya. Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, maka strategi pemanfaatan tenun sebagai komponen kegiatan pariwisata yang kami tawarkan adalah yang berwawasan ekonomi, edukasi, perlindungan dan pelestarian dalam arti luas, serta berbasis masyarakat. Selain itu, pariwisata budaya berbasis tenun ini pun membuka peluang baru untuk memberikan nilai tambah bagi industri pariwisata di Lombok yang selama ini hanya menitik beratkan kepada potensi alamnya, khususnya yang berupa pantai dan gunung.
Untuk mengembangkan pariwisata budaya berbasis tenun, diperlukan penyusunan program yang melibatkan tenun dalam setiap kegiatan pariwisata, baik yang bersiafat massal maupun wisata minat khusus, dilakukan dengan cara memplotkan desa/sentra tenun ke dalam peta wisata Lombok. Malalui ploting tersebut diketahui sebarannya seingga dapat dibuat kluster-kluster wisata. Dari kluster-kluster tersebutlah dikembangkan paket-paket wisata yang disertai dengan modul pendukung. Modul yang dimaksud sekaligus berfungsi sebagai acuan untuk meningkatkan kemampuan pemandu wisata.

Meskipun tenun diyakini mampu memberikan nilai tambah, guna meningkatkan pangsa pasar wisata Lombok, akan tetapi masih diperlukan sejumlah penguatan di bidang: (a) promosi yang sampai saat ini promosi tenun Lombok dirasa masih sangat lemah; (b) penciptaan produk turistik, yang hingga saat inipun produk turistik tenun masih kurang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya; (c) peningkatan kualitas pemandu wisata; dan (d) penciptaan masyarakat sadar wisata.

Berdasarkan pengamatan terhadap kegiatan pariwisata di Lombok, tampak bahwa masih terdapat perhatian yang tidak seimbang antara potensi wisata alam dan budaya. Oleh karena itu, agar supaya aspek budaya Lombok mampu meningkatkankualitas pariwisata Lombok, kami merekomendasikan untuk meningkatkan hal-hal sebagai berikut:

1. Perlu dilakukan penggalian budaya Lombok, termasuk budaya-budaya yang terkait dengan tenun, dan didokumentasikan dalam bentuk publikasi sehingga mudah diakses publik.

2. Perlu secara terus menerus dilakukan sosialisasi budaya Lombok dengan baik dan benar, agar supaya masyarakat dapat mengapresiasinya

3. Selayaknya dilakukan diklat dan pendampingan mengenai berbagai komponen pariwisata, yaitu: penciptaan produk-produk turistik, kemampuan pemandu wisata, dan penciptaan masyarakat sadar wisata

4. Secara spesifik diperlukan penggalian dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap tenun Lombok, karena kepedulian masyarakat merupakan fondasi dari keberlanjutan tradisinya, baik untuk kepentingan tradisi maupun pariwisata.

Daftar Pustaka
Anonimus, 2000. Pokok-Pokok Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Atmosudiro, Sumijati, D.S. Nugrahani, Chr. Wisma Nugraha Rich., Sektiadi, 2003. ...

Buttler, Richar W., 1997. “The Destination Life Cycle: Implication for Heritage Site Managemen and Attractivity”. Dalam Wiendu Nuryanti (ed.), 1997. Tourism and Heritage Management. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hlm 44-53.

Depdikbud, 1992. Pengrajin Tradisional Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Fandeli, Chafid dan Mukhlison, ed., 2000. Pengusahaan Ekowisata. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Fletcher, John, 1997. “Heritage Tourism: Enhancing the Net Benefits of Tourism”. dlm Wiendu Nuryanti (ed.), Tourism and Heritage Management. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hlm 134-46.

Geertz, Clifford, 1997. ”Cultural Tourism: Tradition, Identity and Heritage Construction”. dlm Wiendu Nuryanti (ed.), 1997. Tourism and Heritage Management. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, pp 14-24.

Hutter, Michael and Ilde Rizzo, 1997. Economic Perspectives on Cultural Heritage. New York: ST. Martin‘s Press, Inc.

Kusmayadi dan Endar Sugiarto, 2000. Metodologi Penelitian dalam Bidang Kepariwisataan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Saraswati, Baidyanath, 1998. The Use of Cultural Heritage as a Tool for Development. New Delhi: UNESCO Chair in the Field of Cultural Development bekerjasama dg Indira Gandhi National Centre for the Arts.

Soekadijo, 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata sebagai “Systemic Linkage ”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tanudirjo, Daud Aris, 1988. “Ragam Metoda Penelitian Arkeologi”, Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.
__________
Sumijati Atmosudiro; DS. Nugrahani; Wisma Nugraha, Ch.R.; dan Sektiadi adalah Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan peneliti pada Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada

Sumber : arkeologi.ugm.ac.id - Merupakan bagian dari penelitian Hibah Bersaing XI/2, 2004.
Foto :
http://4.bp.blogspot.com
http://www.lomboksouvenir.com