Bloggernyo urang sikaladi By. Boim
Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan

Legenda situs Karangkamulyan



Legenda situs Karangkamulyan berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak dibumbui dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang Kerajaan Galuh (zaman sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati tibanya ajal, sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada Patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama (Dewi Naganingrum). Singkat cerita, dalam memerintah Raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi penerus resmi kerajaan Galuh yang adil dan bijaksana.

Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda. Batu-batu ini berada di dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.

Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan menyimpan kisahnya sendiri, begitu pula di beberapa lokasi lain yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau mitos tentang kerajaan Galuh seperti ; pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan.

Situs Karangkamulyan terletak di daerah berhawa sejuk dan telah dilengkapi dengan areal parkir yang luas dengan pohon-pohon besar. Setelah gerbang utama, situs pertama yang akan dilewati adalah Pelinggih (Pangcalikan). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan Yoni (tempat pemujaan) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni tersebut terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen (kubur batu). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.

Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang kerajaan Galuh ( sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran ). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati ajal tiba Sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama ( Dewi Naganingrum ). Singkat cerita, dalam memerintah raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi peenrus kerajaan Galuh dengan adil dan bijaksana.

Bila kita telusuri lebih jauh kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda, berada dalam sebuah tempat berupa struktur bangunan terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.

Situs Karangkamulyan merupakan peninggalan Kerajaan Galuh Pertama menurut penyelidikan Tim dari Balar yang dipimpin oleh Dr Tony Jubiantoro pada tahun 1997. Bahwasannya di tempat ini pernah ada kehidupan mulai abad ke IX, karena dalam penggalian telah ditemukan keramik dari Dinasti Ming. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis atau dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 30 menit.

Situs ini juga dapat dikatakan sebagai situs yang sangat strategis karena berbatasan dengan pertemuan dua sungai yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur, dengan batas sebelah utara adalah jalan raya Ciamis-Banjar, sebelah selatan sungai Citanduy, sebelah barat merupakan sebuah pari yang lebarnya sekitar 7 meter membentuk tanggul kuno, dan batas sebelah timur adalah sungai Cimuntur. Karena merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga, akhirnya kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah.

Udara yang cukup sejuk terasa ketika kita memasuki gerbang utama situs ini. Tempat parkir yang luas dengan pohon-pohon besar disekitar semakin menambah sejuk Setelah gerbang utama, situs pertama yang akan kita lewati adalah Pelinggih ( Pangcalikan ). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni ( tempat pemujaan ) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen ( kubur batu ). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.

Sahyang Bedil
Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitik. Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Bedil dapat dijadikan pertanda datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi.

Penyabungan Ayam
Tempat ini terletak di sebelah selatan dari lokasi yang disebut Sanghyang Bedil, kira-kira 5 meter jaraknya, dari pintu masuk yakni berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.

Lambang Peribadatan
Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 m, tinggi 60 cm. Batu kemuncak ini ditemukan 50 m ke arah timur dari lokasi sekarang. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.

Panyandaran
Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.

Cikahuripan
Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan, air merupakan lambang kehidupan, itu sebabnya disebut sebagai Cikahuripan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Dipati Panaekan
Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga, yakni merupakan susunan batu kali. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.

Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://navigasi.net
Foto :http://i696.photobucket.com

Cagar Budaya Prasasti Astana Gede


Cagar Budaya Astana GedeTerletak di Desa/Kecamatan Kawali, kurang lebih 21 km arah utara kota Ciamis.

Di sini terdapat beberapa buah Batu Bertulis (Prasasti) yang merupakan cikap bakal bukti keberadaan kerajaan Sunda yang dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kencana.

Salah satu dari batu bertulis tersebut bertuliskan "Mahayunan Ayunan Kadatuan" yang dijadikan sebagai motto juang kabupaten Ciamis.

Selain batu-batu prasasti terdapat pula peninggalan lainnya berupa:

1. Seperangkat batu disolit, yakni batu tempat pelantikan raja yang disebut Palangka.
2. Batu telapak kaki dan tangan dengan garisBatu telapak kaki retak-retak menggambarkan kekuasaan dan penanggalan (kalender).
3. Tiga buah batu menhir:

a. Batu Panyandaan,
b. Batu Panyandangan,
c. Batu Pamuruyan (alat untuk bercermin).

Prasasti Astana Gede
Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali merujuk pada beberapa prasasti yang ditemukan di kawasan Kabuyutan Kawali, kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terutama pada prasasti "utama" yang bertulisan paling banyak (Prasasti Kawali I). Adapun secara keseluruhan, terdapat enam prasasti. Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda (Kaganga). Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja.

Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya seperti naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, dapat disimpulkan bahwa Prasasti Kawali I ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat.

Isi teks Prasasti Kawali
* Alihaksara diplomatis

Teks di bagian muka:
1. nihan tapa kawa-
2. li nu sang hyang mulia tapa bha-
3. gya parĕbu raja wastu
4. mangadĕg di kuta ka-
5. wali nu mahayuna kadatuan
6. sura wisesa nu marigi sa-
7. kuliling dayĕh. nu najur sakala
8. desa aja manu panderi pakĕna
9. gawe ring hayu pakĕn hebel ja
10. ya dina buana

Teks di bagian tepi tebal:
1. hayua diponah-ponah
2. hayua dicawuh-cawuh
3. inya neker inya angger
4. inya ninycak inya rempag

Alihbahasa
Teks di bagian muka:
Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia.

Teks di bagian tepi tebal:
Jangan dimusnahkan!
Jangan semena-mena!
Ia dihormati, ia tetap.
Ia menginjak, ia roboh.

Masa Penjajahan Belanda
Pada masa penjajahan Belanda, perhatian sangat besar ditujukan terhadap keberadaan dan kelestarian Nusa Gede. Sebagai bentuk penghargaan kepada Dr. Koorders, ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming, sebuah perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863, Nusa Gede berubah nama menjadi Pulau Koorders.

Bahkan, pada 21 Februari 1919 area Situ Lengkong dengan Nusa Gede atau Nusa Panjalu atau Nusalarang-nya dinyatakan sebagai kawasan cagar alam yang benar-benar dijaga kelestarian alam serta budaya yang ada di dalamnya.

Koorders pada zamannya, dikenal sebagai seseorang yang menaruh perhatian besar pada botani. Bersama perkumpulannya yang diketuai, dirinya memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau Jawa. Dibantu TH Valenton seorang ahli botani, pekerjaan mengumpulkan herbarium dan penelitian ilmiah komposisi hutan tropika.

Karen Koorders dan Valenton serta rekannya, akhirnya berhasil memberikan sumbangan yang tidak kecil pada dunia ilmu pengetahuan mengenai tumbuhan. Kemudian hasil penelitian tersebut dituangkan dalam bukunya, "Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java", sebuah buku tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.

Astana Gede Dijadikan Tempat Wisata
Sebagai kawasan cagar alam yang berada dalam pengawasan KPH Ciamis, Nusalarang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh secara alami. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati berbagai jenis flora.

Saat memasuki kawasan, pengunjung sudah disambut pepohonan rotan (Calamus Sp), tepus (Zingiberaceae), dan langkap (Arenga). Semakin masuk ke dalam, pengunjung akan melihat pepohonan besar kileho (Sauraula Sp), kihaji (Dysoxylum) dan kikondang (Ficus variegata).

Selain jenis flora, di kawasan Nusa Gede juga dapat ditemui berbagai jenis fauna, sebut saja antara lain tupai (Calosciurus nigrittatus), burung hantu (Otus scops), dan kalong (Pteropus vampyrus). Sementara Elang jambul putih hanya sesekali mendatangi Nusa Gede.

Belakangan menurut keterangan Wawan, salah seorang petugas Perhutani KPH Ciamis, populasi kalong di daerah itu bertambah dengan berdatangannya kawanan kalong dari Astana Gede Kawali.

Kawanan kalong yang bersarang di situs tersebut dikabarkan sudah lebih dulu hijrah ke Situ Lengkong, jauh sebelum terjadi bencana angin ribut melanda situs Astana Gede Kawali. Situs Astana Gede Kawali dipercaya mempunyai hubungan sejarah dengan situs Panjalu di Nusalarang.

Selain menikmati keindahan alam Situ Lengkong dan Nusa Gede, dan menyaksikan flora dan faunanya, wisatawan yang datang dapat mengunjungi pulau tempat makam leluhur masyarakat Panjalu yang menjadi perintis penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Nusa Gede atau Nusa Larangan merupakan pemakaman raja-raja Panjalu dan keturunannya sampai Bupati Panjalu terakhir, Dalem Tjakranegara III. Berdasarkan gambar dan buku klasiran desa tahun 1937, luas Situ Lengkong mencapai 69,98 hektare dan Nusa Gede hanya 9,25 hektare.

Pemilik keturunan terakhir Situ Lengkong, Demang Prajadinata, dikabarkan meninggal di Mekah. Namun, sebelum berangkat pada tahun 1908, beramanat agar Situ Lengkong dijadikan tanah hak kulah. Air dan ikannya dizariahkan, sedangkan pemeliharaannya diserahkan ke pemerintah desa.

Di kalangan warga adat Panjalu atau keturunanannya, Situ Lengkong berdasarkan kisah-kisah lisan yang beredar selama ini tidaklah dengan sendirinya terbentuk. Situ tersebut terbentuk sebagai bagian dari proses pengislaman yang dirintis Prabu Borosngora, anak kedua dari Prabu Sanghyang Tjakradewa.

Berdasarkan Babad Panjalu, Prabu Borosngora disebut sebagai buyut Sanghyang Ratu Permanadewi, Ratu Kerajaan Soko Galuh yang membawa ajaran karahayuan (kemakmuran). Karena dipimpin seorang wanita, kerajaan tersebut dinamakan Kerajaan Panjalu. Dalam bahasa Sunda, berarti laki-laki.

Kerajaan Panjalu pernah kuat dan besar. Namun sayang, dalam perjalanan selanjutnya, kerajaan tersebut pernah masuk menjadi bagian Kesultanan Cirebon sampai akhirnya menjadi kabupaten. Wilayahnya kemudian digabung dengan Kabupaten Imbanagara dan Kawali sehingga menjadi Kabupaten Ciamis sekarang.

Upacara Nyangku
Selain merupakan objek wisata, sebagai bekas kerajaan, Panjalu sebenarnya masih memiliki daya tarik lainnya berupa upacara nyangku. Upacara itu setiap tahun diselenggarakan pada hari Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud.

Nyangku yang berasal dari bahasa Arab yanko artinya sama dengan membersihkan. Dalam upacara tersebut, pedang hadiah dari Sayidina Ali dan barang pusaka lainnya seperti cis, keris, dan tombak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit untuk dibersihkan.

Prosesi upacaranya dilanjutkan dengan membawa barang-barang pusaka tersebut ke Nusalarang, lalu kembali ke balai desa untuk dibersihkan. Menjelang tengah hari, barang-barang pusaka itu disimpan kembali ke tempat asalnya.

Bagi masyarakat Panjalu, nyangku memiliki makna yang lebih luas. Dan sesuai dengan ajaran leluhur mereka, setiap langkah dalam upacara tersebut memiliki makna tersendiri yang bertujuan meningkatkan kebahagiaan lahir-batin keturunan Panjalu.(dd)

Sumber :
http://sis.smkn1-cms.sch.id
http://id.wikipedia.org
http://www.mail-archive.com

Batu Tulis Barukai


Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Bayongbong adalah terhadap sebuah prasasti di Kampung Barukai, desa Cigedug. Karena adanya prasasti tersebut Kampung Barukai sering juga disebut Kampung Batu Tulis. Bentang Alam (geomorfologis) wilayah ini merupakan pedataran tinggi bergelombang dengan ketinggian antara 1100 m sampai 1200 m di atas permukaan laut. Secara geografis wilayah ini terletak pada 70 20? 00? LS dan 1070 47? 50? BT. Daerah ini diapi oleh gunung Cikuray sebelah timur dan gunung Papandayan di sebelah barat.

Prasasti di kampung Bakurai berada pada sebidang kebun milik Bapak Mohamada Toha di pinggir jalan kampung. Areal berada pada suatu lereng. Disebelah barat pada jarak sekitar 100 m dari prasasti mengalir sungai Cikuray yang merupakan anak sungai Cimanuk. Areal situs merupakan ladang yang kurang terurus dan banyak ditumbuhi semak serta beberapa tanaman keras. Prasasti itu sendiri berada pada suatu cekungan sekitar 0,50 m merupakan hasil pengupasan yang dilakukan penduduk pada tahun 1927. hinggasekarang penduduk masih mengkeramatkan dan senantiasa membersihkan prasasti tersebut.

Hasil penelitian terhadap prasasti tersebut, dapat diketahui prasasti ditulis pada sebongkah batu beerbentuk persegi empat. Jenis batu ditulis pada sebongkah batu berbentuk persegi empat. Jenis batu yang dijadikan meddia merupakan batuan andesittik. Ukuran batu 130 cm x 170 cm. ketyebalan yang terukur 15 cm dari permukaan tanah. Permukaan batu yang ditulisi tidak rata. Teknik penulisan dengan sistem gores yang tidak begitu dalam. Jenis huruf yang dipakai adalah huruf Sunda Kuno.

Prasasti terdiri dari tiga baris dan berbunyi sebagai berikut :
1.bhagi bhagya
2.ka
3.nu ngaliwat (Hasan Djafar, 1991 : 16)

Pada permukaan yang ditulisi juga terdapat goresan-goresan tebal dan dalam yang terbagi dalam beberapa kotak. Di dekat prasati pada sisi barat terdapat lempengan batu yang permukaannya rata. Lempengan batu tersebut berukuran 85 cm x 70 cm, dengan ketebalan 7 cm. Sampai sekarang belum dapat diidentifiksikan kapan dan siapa yang membuat prasasti tersebut. Sulitnya karena tidak didukung oleh temuan-temuan artefak lain. Penduduk yang ti nggal didekat lokasi punbelum pernah menemukan artfak misalnya fragmen keramik atau gerabah.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Punden Berundak Pasir Lulumpang


Terletak di kampung cimareme, desa cimareme, kec. Banyuresmi. Punden berundak pasir lulumpangan termasuk penemuan yang masih baru. Punden ini baru mendapat perhatian setelah adanya laporan dari kepala seksi kebudayaan kandepdikbid kabupaten garut pada tahun 1994, dan pada tahun ini pula tim dari balai arkeologi bandung melakukan peninjauan ke lokasi. Pada tahun 1995 tim balai arkeologi bandung melakukan penelitian intensif. Berdassarkan hasil penelitian yang dilakukan tim tersebut menyebutkan bahwa pasir lulumpanag merupaka situs yang beebentuk punden dari masa megalitik (pra-sejarah). Selain bangunan punden berundak yang berjumlah dua terletak dalam satu kesatuan wilayah, selain itu juga ditemukan tiga buah batu lumpang.

Bangunanan punden berundak pasir lulumpangan memiliki teras 13 buah. Orientasi punden berundak ini kearah timur barat dengan undak teras seluruhnya berada di sebelah barat. Kemungkingan budaya tradisi megalitik pra-sejarah ini berlanjut hingga masa sejarah sampai menjelang islamisasi dan tidak mentupi terjadi dalam komunitas petani di daeah pedalaman.

Bangunan punden berundak sebagai budaya megalitik adalah suatu bangunan yang memanfaatkan sebuah bukit yang dibuat teras-teras dengan susunan batu-batu yang membantu trap-trap. Makna simbolis yang digunakan pada masa itu adalah dimana sebuah bukit merupakan replika dari sebuah tempat yang agung/tinggi dan merupakan sebuah tempat yang dekat dengan temapat arwah nenek moyang. Budaya ini terus berlanjut dan seiring denganperkembangan kepercayaan yang dianut, baik pada masa hindu, budaha< islambahkan sampai sekarang konsep tersebut oleh sebagian masyarakat masih dipercaya. Tradisi megalit ini masih dijumapi dibbrapa suku yang masih mempunyai corak kehidupan tradisional, seperti suku di nias, suku dani di irian jaya dan suku baduy di jawa barat. Dengan demikian budaya megalit tidak stagnasi tetapi terus berlanjut walaupun bukan dalam bentuk yang sama persis dengan budaya megalit pada masa lalu. Bangunan pundek berundan pasir lulumpangan sebagai suatu objek cultural heritage peninggalan periode pra-sejarah perlu dipelihara dan dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting dari aspek kesejarahan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Keberadaan punden berundak situs pasir lulumpangan tidak terawat karena belum ada pemugaran dan juru pelihara yang memeliharanya.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Batu Pipisan dan Gandhik



Penelitian di Kecamatan Wanaraja yang dilakukan Tim Balai Arkeologi (Balar) Bandung ditujukan di sebuah temuan batu pipisan dan penggilingan (Jw. Gandhik). Kedua banda tersebut ditemukan di halaman rumh Bpk. Engkar bin Sugandi, Kampung Sindangsari RT 03/02, Desa Cinunuk. Lokasi penemuan merupakan suatu perkampungan padat penduduk. Secara geografis wilayah ini berada pada koordinat 70 10? 40? LS dan 1070 57? 53? BT. Bentang alam daerah tersebut merupakan pedataran vulkanik dengan ketinggian sekitar 700 m. di atas permukaan laut. Sungai yang ada adalah sungai cisangkan yang merupakan anak sungai Cimanuk yang mengalir di sebelah barat laut situs.

Batu piipisan dan batu penggilingan tersebut ditemukan Bpk. Engkar ketika menggali tanah untuk pondasi bangunan. Menurut keterangganya, ketika ditemukan nbatu pipisan dengan batu penggilingan terpisah pada jarak sekitar 50 Cm.

Kedua benda cagar budaya tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut. Permukaan batu pipisan sangat halus. Pada bagian depn berbentuk melengkung, sedangkan bagian belakang berbentuk datar. Penampang lintang berbentuk segi tiga. Pada bagian bawah terdapat dua buah kaki. Ukuran batu, panjang 31 cm, lebar 15 cm. tinggi keseluruhan 15 cm. tebal bagian atas 3 cm. tebal kaki bagian depan 3,5 cm. Sedangkan bagian belakang 5 cm. benda tersebut terbuat dari batu pasir kasar dan bersifat padu.

Batu penggilingan berbentuk silinder. Permukaanya juga sangat halus. Ukuran batu, panjang 16,5 cm. diameter 6 cm. bahan yang dipakai daribatu pasir arkose. Kedua benda tersebut sampai sekarang disimpan di Bapak Engkar. Batu pipsan dan penggilingan (gandhik) berfunsi untuk menghaluskan ramuan obat. Tanda adanya pemakaian terlihat dari permukaanya yang halus. Pada beberapa candi Jawa Tengah (misalnya ; Borobudur) terdapat relief yang menggambarkan orang meramu obat. Sampai sekarang batu pipisan dan gandhik, belum pernah ditemukan dalam satu konteks dengan tinggalan masa pra-sejarah. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa benda arkeologis tersebut secara kronologis berasal dari masa klasik, mungkin dari jaman kerajaan Sunda Kuno.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id