Bloggernyo urang sikaladi By. Boim

Merajut Kisah Pengungsi Vietnam di Pulau Galang

Oleh Wahyu Satriani Ari

Bila Anda belajar sejarah, pasti ingat dengan peristiwa ratusan ribu penduduk Vietnam bagian selatan melarikan diri meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi ke negara lain pascaperang saudara di Vietnam sekitar 1980-an. Meski telah lama berlalu, Anda dapat melongok kembali kejadian tersebut, bahkan tanpa menggunakan mesin waktu. Saat peristiwa itu terjadi, para pengungsi ini meninggalkan negaranya menggunakan perahu-perahu yang kondisinya memprihatinkan. Dalam satu perahu bisa ditempati 40-100 orang. Berbulan-bulan para pengungsi terombang-ambing di tengah perairan Laut Cina Selatan, tanpa tujuan yang jelas. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan dan sebagian lagi dapat mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia, seperti Pulau Galang dan Tanjung Pinang.

Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia. Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau, akhirnya disepakati untuk digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi. UNHCR dan Pemerintah Indonesia membangun berbagai fasilitas, seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah, yang digunakan untuk memfasilitasi sekitar 250.000 pengungsi. Di tempat ini, para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya sepanjang tahun 1979-1996, hingga akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi ini dikonsentrasikan di satu permukiman seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa oleh para pengungsi ini.

Saat ini, bekas kamp pengungsian tersebut dijadikan tempat wisata oleh pihak Otorita Batam sebagai salah satu upaya mewujudkan program Visit Batam 2010. Berkunjung ke tempat ini dapat mengingatkan Anda akan tragedi masa lalu yang menyebabkan ratusan ribu orang harus hengkang dari negaranya untuk mencari perlindungan. Di kawasan ini, pengunjung dapat melihat beberapa monumen dan sisa peninggalan dari kamp pengungsian. Dari sisa-sisa peninggalan ini, pengunjung dapat membayangkan bagaimana para pengungsi Vietnam mencoba bertahan hidup, jauh dari tanah kelahirannya. Pengunjung yang memasuki pulau ini akan disambut dengan Patung Taman Humanity atau Patung Kemanusiaan. Patung ini menggambarkan sosok wanita yang bernama Tinhn Han Loai yang diperkosa oleh sesama pengungsi. Malu menanggung beban diperkosa, akhirnya ia memutuskan bunuh diri. Dalam rangka mengenang peristiwa tragis itulah maka patung ini dibuat oleh para pengungsi.

Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri, bahkan membunuh. Oleh karena itulah sebuah penjara juga dibangun di tempat ini. Penjara ini digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan-tindakan kriminal tersebut, juga untuk menahan pengungsi yang mencoba melarikan diri. Selain itu, bangunan penjara ini juga dijadikan markas satuan Brimob Polri yang bertugas di Pulau Galang. Tak jauh dari Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman yang bernama Ngha Trang Grave. Di sini, dimakamkan 503 pengungsi Vietnam yang meninggal karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu, depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah. Kini, hampir setiap tahun banyak sanak keluarga dari yang meninggal ini datang ke Pulau Galang untuk berziarah.

Di pulau ini juga terdapat Monumen Perahu yang terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam. Dengan perahu seperti itulah mereka selama berbulan-bulan mengarungi Laut Cina Selatan, hingga akhirnya tiba di Pulau Galang dan sekitarnya. Pada tahun 1996, perahu-perahu ini dengan sengaja ditenggelamkan oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi. Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Mereka tidak hanya menenggelamkan perahu sebagai bentuk protesnya, namun juga dengan membakarnya. Sepeninggal para pengungsi ini, oleh Pemerintah Otorita Batam, perahu ini diangkat ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah, yang mengingatkan pengunjung akan penderitaan para pengungsi tersebut.

Selain itu, berbagai tempat ibadah yang dulu dibangun untuk memfasilitasi pengungsi, juga masih ada hingga kini. Seperti, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola. Vihara Quan Am TU, merupakan salah satu tempat ibadah yang paling mencolok di situ. Cat bangunan yang berwarna-warni membuat pengunjung dapat mengenalinya dari kejauhan. Dalam bangunan ini, terdapat tiga patung berukuran besar dengan warna-warna yang mencolok. Di depannya terdapat patung naga raksasa yang seakan menjaga ketiga patung ini. Salah satu dari ketiga patung ini adalah Patung Dewi Guang Shi Pu Sha. Di bawah kaki patung sang dewi, terdapat plakat yang menceritakan bahwa dewi ini dapat memberikan hoki, jodoh, keharmonisan dalam rumah tangga, dan juga dapat memberi kepintaran serta mengabulkan cita-cita bagi anak-anak. Jika ingin mendapat berkat-berkat yang bisa diberikan oleh Dewi Guang Shi Pu Sha, maka pengunjung dapat berdoa, memohon sang dewi mengabulkan permintaan, setelah itu melemparkan koin ke arah dewi tersebut.

Salah satu tempat yang dapat memberikan gambaran jelas kepada pengunjung mengenai kehidupan sehari-hari para pengungsi adalah gedung bekas kantor UNHCR. Memasuki gedung ini, pengunjung dapat melihat foto seribu wajah pengungsi yang pernah tinggal di pulau tersebut. Selain itu, di gedung yang kini difungsikan sebagai kantor resepsionis dan sumber informasi bagi pengunjung, terdapat foto-foto berbagai peristiwa yang terjadi pada orang-orang Vietnam ini selama masa pengungsian. Tempat ini, terletak sekitar 50 km dari pusat Kota Batam. Untuk memasuki pulau ini, pengunjung harus menyusuri Jembatan Barelang dan melewati beberapa pulau lainnya terlebih dahulu. Dari bandara Hang Nadim yang terdapat di Jalan Hang Nadim, Batu Besar Batam, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi.

Namun, jika tidak memiliki kendaraan pribadi, juga dapat menggunakan Metro Trans atau angkutan umum di Kota Batam dari Jodoh tujuan Galang dengan tarif Rp 3.000-Rp 5.000. Atau pengunjung juga dapat menyewa taksi yang banyak melintas di sekitar bandara. Biaya sewa taksi memang akan lebih mahal daripada bus, tetapi pengunjung bisa lebih santai untuk menikmati perjalanan ini. Bisa juga dengan sewa mobil dengan biaya Rp 400.000-Rp 500.000 per hari. Untuk memasuki lokasi bekas kamp pengungsi Vietnam ini pengunjung dikenakan tiket masuk seharga Rp 20.000-Rp 25.000 per mobil. Selain itu, berbagai tempat ibadah yang pernah dibangun pada masa pengungsian masih terawat dan dapat digunakan oleh para pengunjung hingga sekarang.
__________
Wahyu Satriani Ari, Jurnalis Surat Kabar KOMPAS

Sumber :http://travel.kompas.com

Menyusuri Pesona Biru Laut Aceh

Pantai Lhoknga



Oleh: Yophiandi



Pantai Ujong Batee, Ulee Lheue, dan Lhok Nga menyuguhkan keunikannya masing-masing.

Waktu di telepon seluler saya menunjukkan pukul empat sore kala saya sampai di Pantai Ulee Lheue, Aceh Besar, pertengahan Februari lalu. Saya bersama rekan saya, fotografer Zulkarnain, diantar dua orang teman dengan sepeda motor.



Sepanjang perjalanan, labi-labi, angkot khas Aceh, lalu-lalang, mengingatkan saya pada suasana saat pertama kali menginjakkan kaki di Aceh, dua bulan setelah tsunami menerjang Tanah Rencong. Tak ada labi-labi sebanyak itu kala bencana menimpa.



Menyusuri pantai ini bagi saya seperti napak tilas. Dulu perjalanan saya terhadang jembatan putus di gerbang pantai ini. Sekarang saya bisa sampai di ujung pelabuhan pantai yang difungsikan sebagai penyeberangan menuju Sabang, Pantai We, ujung barat Indonesia.



Setelah menemui banyak orang yang tengah membangun pelabuhan dengan arsitektur antigempa dan tsunami, saya mengaso di tepian pantai, dekat pelabuhan, menikmati matahari terbenam.



Tak sadar sudah pukul setengah enam sore, saya memutuskan melihat keramaian di ujung pantai dekat gerbang masuk pantai. Orang-orang memancing ikan, atau sekadar menikmati sisa matahari yang terbenam.



Banyak muda-mudi menghabiskan sore sambil duduk menonton orang memancing. Atau keluarga yang menghabiskan waktu berlarian di pinggir pantai. Saya melihat Zacky, yang penampilannya nyentrik dengan topi mirip koboi, kaus berkerah, serta peralatan pancing yang lebih serius--ember khusus berisi udang sebagai umpan, dan tiga buah pancing sekaligus.



Tak terasa, jam di telepon genggam saya sudah menunjuk angka tujuh kurang 10 menit. Langit baru terlihat muram, seperti batas antara siang dan malam.



Suara mengajak salat magrib terdengar berulang-ulang diteriakkan melalui pengeras suara. Itulah suara para polisi syariah dengan mobilnya berjalan pelan menyusuri pinggir Pantai Ulee Lheue.



Saya lihat Zacky bergeming, melemparkan tali pancingnya jauh dari bebatuan besar yang disusun sebagai pemecah ombak sepanjang 10 kilometer pantai. Walau sudah mendapat tiga ekor ikan seukuran genggaman tangan orang dewasa, dia enggan beranjak. "Sebentar lagi, belum azan," ujarnya enteng.



Sepuluh menit kemudian, setelah azan terdengar, kepala legal sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing itu segera menarik tali pancingnya. Bergegas, pria 35 tahun itu membereskan peralatan pancingnya. Tindakan yang sama dilakukan para pemancing lain.



Dibanding di Jakarta, waktu magrib di Nanggroe Aceh Darussalam memang satu jam lebih lambat. Suara azan terdengar sepuluh menit kemudian, dari masjid Ulee Lheue yang menjadi tempat mengenang satu tahun tsunami, Desember 2004.



Tak jauh dari Zacky, ada Bastiar, prajurit TNI, bersama putra tunggalnya sedang bertamasya, memancing dengan peralatan ala kadarnya.



Sambil bermain dengan putranya, Bastiar bercerita tentang dirinya yang beruntung, selamat dari bencana 26 Desember 2004. "Rekan-rekan saya hanyut tersapu air," ujarnya. Dia berkisah tentang perahu-perahu di pinggir pantai yang sudah menjadi rongsokan, di antaranya beberapa kapal TNI Angkatan Darat.



Di tempat ini memang ada markas tentara dan polisi di pinggir jalan menuju pantai. Malah, sebelumnya, di pantai yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari Banda Aceh itu berjejer kafe, tempat remaja menghabiskan malam.



Waktu itu dia sedang akan lepas dinas dan pulang ke rumahnya di kawasan pantai tersebut. Namun, firasatnya membuatnya malah mengajak anak dan istrinya ke rumah saudaranya di kaki bukit. Tempat itu memang menjadi salah satu wilayah pengungsian. "Kok gempanya aneh, ya," kata dia tentang firasatnya. Sebelum bah, memang terjadi dua kali gempa besar dalam kurun waktu 15 menit.



Tsunami juga meninggalkan bekas di pantai itu. Sebelum tsunami, garis pantai dari jalan menuju laut mencapai lebih dari 500 meter. Saat ini batasnya hanya sekitar 200 meter.



Lima puluh meter dari batas bendungan batu itu ada tempat di tengah pasir yang selalu terisi air dengan kedalaman setengah meter. Tempat itu menjadi arena bermain air buat keluarga yang membawa serta anak-anaknya.



Banyak keluarga yang datang, plus pasangan muda-mudi yang asyik berduaan, berangkulan sambil menonton orang memancing. Mereka duduk-duduk di bebatuan atau di kios-kios makan di sekitar pantai.



"Tak ada yang berani mandi-mandi lagi di sini," kata Zacky menunjuk ombak bergulung-gulung menghantam batu-batu kali yang disusun setinggi dua meter. Walau demikian, pernah ada orang asing, pekerja LSM, coba-coba berenang, dan selamat.



Kembali kepada Bastiar, yang mengenang: beberapa kapal tentara ikut hanyut dan hanya menyisakan serpihan, atau kapal yang rusak kerangkanya. Terdampar, di sisi seberang pantai, memang ada dua kapal hijau bertuliskan TNI AD, bersama sebuah kapal yang rusak berat menjorok ke bagian aspal yang hancur diempas gelombang tsunami.



Dari pintu masuk bertuliskan Wisata Pantai Ulee Lheue, masih tersisa jalan beraspal yang longsor terkena tsunami. Namun, di ujung pantai sudah berdiri pelabuhan intra Aceh, menuju Sabang, yang berada di Pulau We. Dibangun dengan konstruksi tahan gempa dan tsunami, dengan konstruksi tiang penyangga yang jaraknya dibuat lebar satu sama lain, agar air bisa lewat lebih leluasa.



Perjalanan menuju Sabang, kata Zacky, memang lebih dekat lewat pelabuhan ini. Di kejauhan, dari bebatuan pemecah gelombang, memang tampak sebuah pulau yang ditunjuk Zacky sebagai Sabang. Sebelumnya, perjalanan ke Sabang selalu melalui Pantai Kreung Raya.



Pemandangan yang kontras, kala pelabuhan di ujung pantai itu sudah kelar dibangun investor Jepang, sementara pangkal pantai itu, tempat para pemancing, terkesan masih terbengkalai.



Di kompleks pelabuhan itu ada pintu masuk dengan air mancur yang berada di tengah bundaran kompleks, menyambut penyeberang barang dan orang, di gerbang pelabuhan. Satu kilometer dari gerbang masih dirasakan kurang oleh Asian Development Bank sebagai laut yang diuruk. Rencananya, tiga kilometer lagi dari gerbang, laut akan diuruk. Mengantisipasi padatnya kendaraan yang masuk. Inilah denyut Ulee Lheue.



Sementara itu, Zainuddin, 31 tahun, penjual mi instan dan minuman ringan di pangkal pantai, masih berpikir membuat dagangannya laku seperti sebelum tsunami. "Sekarang batasnya cuma sampai magrib ramainya," ujar Zainuddin. Artinya, cuma tiga jam lima hari seminggu, pengunjung pantai cukup ramai. "Kalau akhir pekan, lebih banyak." Makanya, saat akhir pekan, rezekinya berlipat ganda walau belum seramai sebelum tsunami.



Bapak dua anak itu pun baru sembuh dari trauma dan kembali berdagang bersama istrinya delapan bulan setelah tsunami. Anak sulungnya terbawa arus kala mereka dihanyutkan air. Dia pun terdampar, di Lamprit, terpisah dari istri dan satu anaknya. Tapi, katanya, "Kami harus tetap hidup kan, ya." Dengan kerangka baja tipis yang biasa dipakai Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi membangun rumah, warungnya dibangun.



Berbeda dengan Ulee Lheue, ketika saya mengunjungi Lhok Nga, di Aceh Besar, esok harinya, masih banyak orang berenang, beberapa pekerja LSM asing berselancar. Gelombang di pantai ini bisa mencapai dua meter tingginya kala pasang siang hari. Ketika tenang, sekitar setengah sampai satu meter.



Insiden orang tenggelam beberapa kali terjadi--karena itu, seorang petugas Search and Rescue selalu siap di sekitar pantai. "Ada pusaran di sana," kata Nurleli, 29 tahun, penjual kelapa muda, menunjuk titik dua kilometer dari pipa PT Semen Andalas Indonesia.



Saya lihat malah ada rumah panggung setinggi tiga meter. Dua meter dari rumah panggung itulah kios Nurleli, cuma 50 meter dari bibir laut. Lebar pantai itu sendiri dari jalan raya ke bibir laut memang cuma sekitar 100 meter--sebelum tsunami, lebih dari 500 meter. Akibatnya, kala pasang, air laut dari gelombang yang tinggi itu menyentuh kiosnya. "Makanya mau dimundurin lagi," kata perempuan asal Aceh Tamiang itu.



Sementara di Ulee Lheue air laut lebih gelap, di Lhok Nga air laut membiru cerah. Tampak gradasi warna air yang diteruskan ke Samudra Indonesia itu. Di sana lautnya memang terkesan masih liar.



Pemecah gelombang cuma ada di sisi pantai yang memiliki pelabuhan buat pabrik semen mengangkut barang jadinya ke seluruh Indonesia. Jaraknya sekitar lima kilometer dari tempat pertama kali pengunjung melihat laut. Dari jarak itu, terlihat ada pohon-pohon cemara kecil tumbuh, plus rumput ilalang dan pohon kelapa.



Kalau mau melihat pemandangan laut sambil menikmati ikan bakar dan kelapa muda asli, di sinilah tempatnya. Hanya 17 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, dan cuma perlu waktu tempuh 30 menit dengan sepeda motor.



Asalkan sudah pukul empat sore, tempat ini sudah penuh pasangan muda-mudi dan orang asing yang memesan ikan untuk disantap bersama. Harganya cukup murah, cuma Rp 120 ribu buat ikan baronang, yang biasanya disantap bersama tiga-empat orang, sudah plus nasi putih. Kelapa mudanya Rp 5.000 per buah. Sayangnya, di tempat ini cuma ada lima kios, termasuk milik Nurleli.



Berbeda dengan di Ujong Batee--pantai yang lebih dulu kami kunjungi sebelum Ulee Lheue dan Lhok Nga ini--di mana kios ikan dan kelapa mudanya lebih banyak. Malah, di Ujong Batee, yang berjarak 25 kilometer dari pusat kota, ada tempat berteduh masing-masing buat lima sampai enam orang. Saya dan teman saya waktu itu sempat mencicipi ikan bumbu kecap dan kelapa mudanya, bersama Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.



Selain itu, ombak di Ujong Batee lebih bersahabat, tak sampai satu meter kalau pasang. Tak mengherankan, banyak keluarga membawa anak kecil bermain di sana, berkejaran di pinggir laut tanpa perlu waswas, seperti di Ancol, Jakarta. Cuma, bedanya, kalau menikmati Pantai Ancol pengunjung mesti bayar berkali lipat, ya kendaraan, ya orangnya. Di Ujong Batee, tinggal datang saja, alias cuma-cuma.



Hari berikutnya, kami akan kembali ke Jakarta. Kesempatan "menjenguk" lagi tempat-tempat yang pernah lumpuh, namun masih disyukuri keindahannya oleh warganya, adalah suatu kegembiraan bagi saya. Apalagi menikmati pantai-pantai yang masih natural, dengan gratis.



Sumber :www.korantempo.com/

Foto : http://i34.tinypic.com

Menunggu Keseriusan Pemerintah Mengelola Wisata Budaya Cirebon

Oleh Teguh Rata Penuh

Setiap tahun pada bulan Mulud, ribuan orang selama satu bulan penuh selalu berbondong-bondong mendatangi tiga kraton di Kota Cirebon dan Makam Sunan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon. Kedatangan masyarakat untuk menyaksikan jalannya rangkaian upacara Muludan berdampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat Cirebon khususnya.



Pendapatan pedagang dan hotel naik selama peringatan Muludan di Kota Cirebon. Tradisi Muludan atau memperingati Maulid Nabi SAW ternyata bukan sekedar sebuah ritual budaya namun sudah menjadi potensi penambah pendapatan masyarakat Cirebon dan luar kota. Prosesi peringatan Muludan ini berlangsung satu bulan penuh, dan berakhir pada malam hari saat peringatan Maulid Nabi. Puncak peringatan Muludan ini berupa upacara Panjang Jimat, sebuah prosesi pembersihan benda pusaka kraton.



Panjang Jimat dilakukan di tiga kraton, yaitu Kasepuhan, Kacirebonan dan Kanoman. Serta satu peringatan lainnya dilakukan di Makam Sunan Gunung Jati. Puncak peringatan ini dihadiri oleh seribu lebih warga Cirebon dan sekitarnya dan tentunya menjadi magnet bagi para pedagang. Mereka ingin menyaksikan upacara dan tentunya berharap berkah dari air hasil penyucian benda-benda pusaka tersebut.



Di Alun-alun Kraton Kasepuhan contohnya, ratusan pedagang kecil mengais rejeki dan ditengah lapangan sebuah hiburan rakyat juga menambang uang. Pengelola hiburan rakyat mengaku, selama satu bulan penuh membuka usaha komedi putar dan berbagai permainan lain rutin dilakukan setiap tahun. Jika dihitung untuk satu permainan paling murah tiket yang harus dibayar Rp 2.000 pengelola komedi putar tersebut bisa meraih omzet Rp 500.000 hingga Rp 1 juta dalam sehari.



Peredaran uang selama satu bulan selama peringatan Muludan ini diperkirakan mencapai puluhan hingga seratus juta lebih perharinya. Atau bahkan sudah mencapai angka miliaran rupiah, belum pernah ada yang mendatanya. Pedagang makanan khas seperti docang, tahu gejrot, nasi jamblang atau empal gentong merasakan berkah tersendiri dari peringatan muludan ini.



Alun-alun Kasepuhan merupakan lokasi perdagangan Muludan yang paling ramai karena lokasinya yang luas. Namun lokasi peringatan Muludan lainnya juga tak kalah penting dalam meningkatkan perekonomian warga Cirebon seperti di Kraton Kanoman, Kacirebonan dan makam Sunan gunung Jati. Pengunjung yang datang tidak hanya dari warga sekitar namun juga banyak yang datang dari luar kota. Tamu luar daerah ini tentunya harus menginap semalam untuk bisa menyaksikan peringatan Muludan tersebut.



Seorang manager operasional hotel berbintang di Cirebon mengatakan tamu luar kota dengan tujuan khusus untuk menyaksikan puncak peringatan muludan di Cirebon banyak yang menginap dihotelnya. Tamu-tamu tersebut tentunya ikut menambah omzet hotel di Cirebon.Karena selain hotel berbintang, tamu-tamu tersebut juga ingin menginap di hotel kelas melati dengan lokasi tidak jauh dari kraton.



Tingginya tamu yang datang ke Cirebon juga bisa dilihat dari melonjaknya jumlah penumpang KA selama peringatan puncak Muludan. Okupansi KA Argojati dan Cirebon Ekspres diatas 100%. "Sebagian dari mereka sengaja datang Minggu untuk melihat Muludan di Cirebon," kata Rudy, Humas PT KA Cirebon.



Ketua DPRD Kota Cirebon Dahrin Syahrir mengatakan peringatan Muludan merupakan sebuah potensi perekonomian yang sebenarnya bisa mengangkat pendapatan warga Kota Cirebon. "Semua ikut terlibat, pedagang, hotel bahkan biro perjalanan mendapatkan pemasukan dari peringatan ini," katanya. Dia berharap, pemerintah kota dapat bekerjasama dengan para kraton untuk mengelola peringatan Muludan tersebut sebagai sebuah even pariwisata penting tahunan yang menarik wisatawan.



Bukti bahwa tidak adanya keseriusan pemerintah setempat dapat dilihat usai peringatan Muludan tersebut. Sampah bertebaran dimana-mana, serta sejumlah kerusakan kecil bangunan masjid dan kraton. Tidak terlihat tim khusus yang sinergis antara pihak penyelenggara dengan pemkot. Muludan di Cirebon sama saja dengan di Jogja yang dinamakan Sekaten. Tapi Jogja mengemasnya lebih bagus sehingga menjadi salah satu even pariwisata. Cirebon juga harus bisa.

__________

Teguh adalah Jurnalis, Pemerhati Wisata dan Budaya Cirebon



Sumber :http://www.beritacerbon.com

Menumbuhkan Perekonomian Melalui Pembangunan Pariwisata.

Oleh: Kartawan

Abstrak
Parawisata is multifaced industry that directly affects several sectors in economy (hospitality, food suppliers, transports, local art and craft, building industry, etc.) and indirectly affects many others. With these effect of tourism development wil stimulate the develop¬ment of other sectors. Therefore the growth of tourism sector must be spurred to enhance economic growth.

Pendahuluan
Pertumbuhan pariwisata sebagai fenomena sosial dan sebagai usaha ekonomi telah berkembang secara dramatis selama setengah abad terakhir di abad dua puluhan. Mema¬suki milenium ke tiga ini ditandai dengan berkembangnya isu 4T (Transportasi, Telekomunikasi, Pari¬wisata dan Teknologi). Dalam hal ini pariwisata akan berkembang men¬jadi salah satu industri yang tumbuh dengan dominan di berbagai belahan dunia (Sugiama, Gima A, 2001).

Keinginan pengembangan pariwi¬sata di Indonesia terutama didasar¬kan kepada beberapa faktor antara lain: Pertama, Indonesia mempunyai potensi kepariwisataan yang begitu banyak, sehingga mempunyai pe¬luang yang besar untuk mendatang¬kan wisatawan, Kedua prospek pari¬wisata yang tetap memperlihatkan kecenderungan meningkat secara konsisten. Ketiga makin berkurangnya peran minyak dalam menghasil¬kan devisa. Di samping itu kita ketahui bersama bahwa dalam pembangunan ekonomi di masa lalu menekankan pada pengembangan industri-in¬dustri yang mengandalkan sumberdaya impor, sehingga melahirkan industri-industri yang memiliki kan¬dungan impor yang relatif tinggi (seki¬tar 60 – 80 %). Dengan demikian, maka manfaat ekonomi yang dihasil¬kan industri tersebut juga lebih besar jatuh ke masyarakat luar negeri.

Industri pariwisata Indonesia ber¬kembang cukup pesat selama bebe¬rapa tahun terakhir. Jumlah kun¬jungan wisata mancanegara ke Indo¬nesia meningkat dari 2.177.566 orang pada tahun 1990 menjadi 5.153.620 orang pada tahun 2001. Sejalan dengan itu pada periode yang sama jumlah penerimaan devi¬sa dari pariwisata juga meningkat cu¬kup pesat yaitu mencapai 150 per¬sen (LIN, 2003). Dinas pariwisata (1999) mempunyai target bahwa pada tahun 2009 pariwisata sebagai penghasil devisa utama melalui kun¬jungan wisatawan mancanegara de¬ngan penerimaan devisa sekitar US$ 30 milliar.

Potensi sumber daya pariwisata Indonesia begitu melimpah, namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimum. Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengha¬silkan devisa. Sebagai gambaran, pa¬da tahun 2000 Thailand mampu meraih devisa 10 milyar dollar AS, sementara Indonesia hanya setengahnya, padahal Indonesia memiliki objek dan potensi wisata jauh lebih kaya, lebih menarik dan unik diban¬ding dengan Thailand (LIN, 2002) .

Dalam pembangunan pariwisata dikenal tema parawisata massal: matahari, laut, pasir, yang di bebe¬rapa tempat dibumbui dengan seks (4Ss) sedangkan di Indonesia seba¬gai tambahnya senyum. Saat ini te¬ma tersebut bergeser menjadi alam, nostalgia, dan nirvana. Di Indonesia masih terdapat kalangan yang mempunyai anggapan bahwa pariwisata senantiasa identik dengan hal-hal negatif. Begitu juga di dunia aka¬demis, walaupun sudah banyak tu¬lisan dan penelitian yang dilakukan mengenai pariwisata ini, akan tetapi masih terdapat silang pendapat an¬tara yang pro dan yang kontra dalam menilai pariwisata sebagai suatu ilmu.

Pembahasan Konsep Industri Pariwisata
Berkaitan dengan istilah pariwi¬sata ini terdapat berbagai pandangan yang berbeda dalam pendefinisian¬nya, tergantung kepada dari sisi ma¬na mereka memandang dan bagai¬mana cara pendekatannya. Menurut Goeldner Cs.(2000) parawisata ada¬lah kombinasi aktivitas, pelayanan dan industri yang menghantarkan pe¬ngalaman perjalanan: transportasi, akomodasi, usaha makanan dan minimuan, toko, hiburan, fasilitas aktivitas dan pelayanan lainnya yang tersedia bagi per orangan atau grup yagn sedang melakukan perjalanan jauh dari rumah.

Di Indonesia istilah pariwisata dimulai pada awal tahun enampuluhan. Istilah ini semakin menjadi pembicaraan, terutama setelah Presiden Su¬harto menyampaikan kata sambutan dalam pertemuan ramah tamah de¬ngan para peserta seminar dan rapat kerja kepariwisataan tanggal 27 No¬pember 1982 di istana negara. (Pen¬dit, 1994). Untuk menyamakan pema¬haman mengenai istilah-istilah dan pengertian pariwisata, di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Re¬publik Indonesia Nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, yang menyatakan bahwa Pariwisata ada¬lah segala sesuatu yang berhubung¬an dengan wisata, termasuk pengu¬sahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta ber¬sifat sementara untuk menikmati ob¬jek dan daya tarik wisata.

Selanjutnya istilah industri yang dikaitkan dengan pariwisata memiliki makna yang jauh berbeda dengan istilah industri seecara umum. Dalam pengertian klasik industri diartikan sebagai sekelompok atau kumpulan pabrik yang menghasilkan produk yang sejenis (Kartawan,2003) dan orang akan membayangkan proses produksi dengan menggunakan me¬sin-mesin yang menghasilkan ba¬rang-barang. Sedangkan dalam in¬dustri pariwisata yang dihasilkan bu¬kan barang sejenis, tetapi barang dan pelayanan yang beraneka ragam dengan lebih banyak menggunakan tenaga manusia.

Weaper dan Opperman (2000), menyatakan industri parawisata da¬pat difenisikan sebagai gabungan aktivitas komersial dan industri yang menghasilkan barang dan jasa se¬cara keseluruhan atau sebagian di¬konsumsi oleh turis. Industri pariwisa¬ta terdiri dari perusahaan-perusahan antara lain: agen perjalanan wisata, maskapai penerbangan, kereta api, taksi, hotel, penginapan, restoran, rumah makan, kedai makanan/mi¬numan, perusahaan cindera mata, bank, penukaran uang, angkutan di lokasi wisata, sewaan sepeda, pusat pembelanjaan, pengusaha objek wisata.

Perusahaan-perusahaan tersebut menghasilkan jasa atau produk yang berbeda satu sama lainnya. Perbeda¬an tersebut tidak hanya dalam produk yang dihasilkan, tetapi dalam skala perusahaan, lokasi tempat kedu¬dukan, letak geografis, fungsi, bentuk organisasi yang mengelola,dan metode atau cara pemasarannya ( Youti, 1996). Masing-masing perusahaan menghasilkan produk yang berbeda dan saling melengkapi yang dinikmati wisatawan dalam suatu paket.

Dari begitu beragamnya produk wisata yang dihasilkan usaha pariwi¬sata, pada dasarnya dapat dikelom¬pokkan ke dalam tujuh komponen utama (7 As) yaitu: daya tarik, fasili¬tas penginapan/pemondokkan, fasilitas makanan dan minuman, fasilitas pendukung dan hiburan, fasilitas pengangkutan/transportasi dan pra¬sarana lain (Kartawan, 2000).

Sebagai produk jasa, maka produk pariwisata memiliki karak¬teristik jasa secara umum yaitu tidak tangibel, tidak terpisahkan, beragam, and perishability (Kotler, Philip,John Bown, James Maken, 1999; Payne, 2000). Dikatakan tidak tangibel kare¬na tidak dapat dilihat, dan dirasakan sebelum produk itu dibeli. Tidak terpisahkan artinya dihasilkan dan digunakan pada saat yang bersama¬an dengan perkataan lain tidak dapat dipisahkannya antara produsen dan konsumen. Beragam artinya produknya beraneka ragam, sebab sangat tergantung kepada siapa yang meng¬hasilkannya. Perishability, artinya tidak dapat disimpan untuk dinikmati pada waktu yang akan datang.

Sedangkan secara khusus pro¬duk pariwisata memiliki karakteristik tidak dapat dipindahkan, peranan perantara tidak diperlukan, tidak da¬pat ditimbun, tidak memiliki standar, permintaan sangat dipengaruhi oleh musim, calon konsumen tidak dapat mencoba sebelum membeli, sangat tergantung kepada tenaga manusia (Youti, 1996).

Peluang Pembangunan Pariwisata
Era global ini ditandai dengan adanya perdagangan bebas yang memungkinkan pergerakan barang dari satu negara ke negara yang lain tanpa adanya pembatas. Batas ad¬ministrasi negara tidak lagi menjadi penghalang untuk berpindahnya ba¬rang dan begitu juga orang. Per¬kembangan teknologi informasi dan telekomunikasi sangat memudahkan orang dari belahan dunia untuk men¬dapatkan informsi secara cepat dan tepat tentang tempat-tempat yang dapat dikunjunginya (Parikesit dan Trisnadi, 1997).

Di negara maju kegiatan pariwisata sudah menjadi kebutuhan pokok ke tiga setelah pangan dan pa-pan. Semakin meningkat kemak¬muran suatu masyarakat atau bang¬sa, akan mendorong semakin meningkatnya kebutuhan untuk berwisata (Tambunan, 1999). Hal ini me¬rupakan potensi bagi setiap negara untuk membangun perekonomian melalui pengembangan pariwisata.

Pertumbuhan industri pariwisata yang pesat pada abad ke 21 ini akan bergeser ke Asia Fasifik yang merupakan kawasan dengan pertumbuhan pariwisata tercepat di dunia (Ohasi, 1998). Sebagai salah satu negara yang berada di kawasan Asia Fasifik, Indonesia harus mempersiapkan diri menyongsong kondisi tersebut. Secara internal Indonesia memiliki po¬tensi untuk menangkap peluang tersebut (UNDP, 1992).

Apabila dilihat dari aspek produk wisata yang dimiliki, Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah, rasanya sulit untuk mencari tandingannya (Ibrahim S, 2001). Indonesia diciptakan Allah dengan sempurna sesuai dengan firmanNya dalam Al‘quran : Dan kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gun ung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata (Qaaf : 7). Berdasarkan data, Indonesia me¬miliki rentang jalur pantai 81 .000 km, belum termasuk pantai tepian laut teritorial, yang merupakan negara pemilik pantai terpanjang ke em-pat di dunia (Marzuki, 1995). Potensi wisata pantai tersebut hampir merata di seluruh pelosok tanah air yang sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal (Londo,1995).

Indonesia memiliki 17.508 pulau dengan sumber-sumber hayati yang beraneka ragam seperti jenis tum¬buh-tumbuhan berbunga, binatang menyusui, binatang reftilia dan am¬phibia, berbagai jenis burung, ikan dan bermacam-macam serangga, dengan tidak kurang dari 49 ekosistem, merupakan satu dari tujuh negara yang termasuk mega biodi¬versity di dunia, dan sebagai urutan ke tiga setelah Bazil dan Zaire (Youti, 2002).

Dilihat dari letak, Indonesia yang berada di khatulistiwa memiliki posisi yang sangat strategis yang berada diantara dua samudra dan diantara dua benua. Posisi ini sangat meng¬untungkan bagi berkembangnya pari¬wisata, sebab dengan posisi seperti ini Indonesia akan menjadi perlintasan transportasi orang yang bepergian dari benua yang satu ke benua yang lainnya.

Apabila dilihat dari sumber daya yang dieksplor, sektor pariwisata me¬miliki keunggulan sebab dalam rang¬ka pemanfaatannya, sebagian sum¬ber daya pariwisata termasuk sum¬berdaya yang dapat diperbaharui. Dengan demikian kontinuitas dalam menghasilkan rupiah lebih terjamin, apalagi apabila dibandingkan dengan migas yang merupakan penghasil devisa terbesar pemanfaatanya tidak dapat diperbaharui. Disamping itu apabila dibanding dengan sektor lain ternyata sektor pariwisata mempu¬nyai kemampuan dalam bertahan dan bahkan tumbuh pada kondisi krisis sekalipun. Hal ini ditunjukkan saat dunia mengalami tiga kali gon¬cangan hebat akibat global oil shock pada tahun 1973, 1979, dan tahun 1990, industri pariwisata dunia tetap bertahan dan bahkan meraih tingkat pertumbuhan 3% (Arif Supriyono, 1995).

Di Indonesia pariwisata mampu bertahan bahkan sanggup mening¬katkan kunjungan wisatawan manca¬negara di saat krisis pada tahun 1997. Krisis ekonomi di Indonesia telah menjatuhkan nilai tukar rupiah ke posisi yang sangat rendah, kon¬disi ini justru sangat menguntungkan bila ditinjau dari sisi wisatawan man¬canegara, sebab dengan nilai dollar yang sama jika berkunjung ke Indo¬nesia akan bisa digunakan untuk menikmati produk wisata yang lebih banyak.

Akan tetapi pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Indo¬nesia terjadi berbagai kerusuhan, sehingga mengganggu perkembangan pariwisata di tanah air. Kondisi ini yang membedakan Indonesia dengan Thailand, dimana walaupun sama-sama mengalami krisis ekonomi, namun di Thailand tidak diikuti terjadinya kerusuhan-kerusuhan, se¬hingga pariwisata Thailand tetap ber¬kembang.

Akibat kerusuhan tersebut, sifat yang sejak dahulu kala menjadi ke¬banggaan bangsa Indonesia yang terkenal dengan keramahan pendu¬duknya, sekarang tidak bisa dibang¬gakan lagi sebab fakta yang ada menunjukkan telah terjadi perubahan dari masyarakat yang ramah tiba-tiba menjadi masyarakat yang anarki, bahkan pembunuh. Kondisi ini diper¬parah dengan sajian-sajian media asing yang hanya menonjolkan sisi negatifnya seperti kebrutalan-kebrutalan yang terjadi di berbagai pelosok tanah air. Kontra promosi ini sangat merugikan kepariwisataan nasional, sebab telah membuat beberapa ne¬gara melarang warganya berkunjung ke Indonesia.

Di saat itu Bali dianggap daerah paling aman di Indonesia, sehingga Bali yang telah lama dikenal dengan sebutan Pulau Dewata yang me¬rupakan oase penuh kedamaian sebagai nirwana tropis yang menarik, tetap dikunjungi para wisatawan dari seluruh dunia. Akan tetapi pada tang gal 12 Oktober 2002 tepat satu tahun satu bulan setelah tragedi menara kembar di Amerika Serikat, tiba-tiba dunia dikejutkan dengan adanya aksi peledakan bom di Bali. Dengan adanya peristiwa tersebut semakin bertambah banyak negara yang melarang warganya berkunjung ke Indonesia. Hal ini semakin mem¬perparah katerpurukan pariwisata nasional.

Walaupun demikian, ternyata pa¬riwisata Indonesia masih mendapat tempat di mata dunia internasional. Hal ini terlihat dalam Pasar Wisata Dunia yang berlangsung di London tanggal 11 – 14 Nopember 2002, para whole seler dan tour operator dari berbagai negara di Eropa tetap menjual paket perjalanan wisata Indonesia termasuk Bali. Saat ini, Bali telah mencapai titik kembali sejak upacara Tawur Agung (Pamrisudha Karipubhaya) 15 No¬pember 2002 untuk kembali ke ke¬adaan lebih baik daripada sebelum¬nya. Hal ini terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. (LIN,2003).

Sementara keamanan di Indone¬sia mulai pulih, pariwisata Indonesia terpukul lagi, dimana 95% kunjungan turis asing ke Indonesia batal sebagai dampak dari perang Irak dan virus severe acute respiratory syndrome. Begitu juga sebaliknya ter¬dapat warga negara Indonesia yang membatalkan kunjungan ke luar negeri sebesar 90 %(Bisnis Indo¬nesia,14 April 2003).

Saat ini sebagian lembaga/instansi telah menetapkan lima hari kerja dalam satu minggu. Disamping itu pemerintah mengambil kebijakan yang memungkinkan memindahkan hari libur nasional ke awal/akhir pekan. Kondisi ini akan menambah jumlah waktu luang dari para pekerja. Waktu luang tersebut merupakan syarat bagi seseorang untuk dapat melakukan perjalanan wisata, sebab banyak orang yang memiliki uang yang cukup, akan tetapi waktu luang¬nya sangat terbatas sehingga tidak dapat melakukan perjalanan wisata. Dengan kata lain kondisi ini merupa¬kan peluang bagi pemasar untuk dapat merubah wisatawan potensial menjadi wisatawan aktual.

Jadi paling tidak saat ini pariwi¬sata nasional dapat memanfaatkan kondisi di atas, yaitu dengan mela¬yani wisatawan nusantara yang membatalkan perjalanannya ke luar negeri untuk dapat melakukan perja¬lanan di dalam negeri, dan mereka yang waktu luangnya meningkat agar dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata. Konferensi Asosiasi Perjalanan Asia-Fasifik (PATA) ke 52 di Bali pa¬da Tanggal 14 – 18 April 2003 yang didukung oleh 384 organisasi pariwi¬sata dunia (berasal 42 negara), memberikan makna yang sangat da¬lam terhadap pariwisata nasional. Dengan dukungan peserta yang cu¬kup besar itu maka akan meng¬hilangkan kesan bahwa Indonesia (khususnya Bali) tidak aman. Hal ini tercermin pula dalam sambutan pre¬siden Megawati Soekarnoputri ketika meresmikan kegiatan tersebut yang menyatakan : “Bagi kami kegiatan ini bukan hanya suatu peluang tapi juga memperbaiki kepercayaan diri untuk membangun kembali industri pariwisata di samping memulihkan citra “.

Pengaruh Pembangunan Pariwi¬sata terhadap Perekonomian
Pariwisata merupakan suatu sek¬tor yang mempunyai banyak kaitan dengan sektor-sektor lain, sehingga pengembangan sektor pariwisata akan terus memacu perkembangan sektor lainnya (Kartawan, 2002). Oleh karena itu pembangunan pari¬wisata membawa dampak yang luas terhadap perekonomian di suatu tujuan seperti yang dinyatakan Goeldner cs. (2000): Parawisata adalah usaha ekonomi potensial, dan sebagai pembangkit perekonomian suatu kota, propinsi, kabupaten atau dae¬rah tujuan pengunjung, dari penge¬luaran mereka.

Pariwisata sebagai suatu industri jasa mempunyai banyak keterkaitan dengan sektor ekonomi lainnya, yaitu keterkaitan ke belakang baik dengan sektor industri maupun de¬ngan sektor pertanian. Dengan de¬mikian apabila ada seorang yang melakukan perjalanan wisata ke suatu tujuan, maka akan berpenga¬ruh terhadap ekonomi di tujuan ter¬sebut dalam tiga tingkat pengaruh, yaitu pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung dan pengaruh do¬rongan (Weaver dan Oppermann, 2000).

Pengaruh langsung merupakan pengaruh utama dari kedatangan wi¬satawan di suatu tujuan, yaitu pem¬bayaran (pengeluaran) wisatawan kepada perusahaan pariwisata di garis depan seperti perusahaan angkutan, penginapan, restoran. Dari pembayaran yang diterima perusa¬haan yang berada pada garis depan tadi, sebagian penerimaannya ada yang ditabung, dan ada sebagian dibelanjakan kembali dalam rangka memenuhi kebutuhan wisatawan. Bagian yang dibelanjakan inilah yang merupakan pengaruh tidak langsung. Dengan perkataan lain pengaruh tidak langsung merupakan pengaruh yang ditimbulkan akibat pembelian oleh perusahaan yang berada di ga¬rism depan kepada perusahaan pe¬masok dalam perekonomian setempat.

Pengaruh dorongan adalah pengaruh lanjutan dari pengaruh tidak langsung, dimana uang yang dibelanjakan perusahaan di garis depan kepada perusahaan pemasok, oleh perusahaan pemasok akan dibelan¬jakan lagi kepada perusahaan lain, dan seterusnya bergulir kepada peru¬sahaan lainnya. Dalam proses perguliran tersebut, akan timbul sewa bagi faktor produksi tanah, gaji bagi tenaga ahli, upah bagi tenaga buruh, bunga bagi para kreditur/pemilik mo¬dal dan laba bagi para pengusaha, yang merupakan balas jasa atas penggunaan faktor-faktor produksi tersebut dalam melayani kegiatan pariwisata secara keseluruhan.

Dari gambaran di atas dapat dilihat bahwa pembangunan pariwi¬sata membawa pengaruh yang sa¬ngat luas terhadap perekonomian baik yang bersifat positif, maupun negatif. Pengaruh positif antara lain : memberikan kontribusi terhadap neraca pembayaran, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan penerimaan pemerintah, pemerataan pen¬dapatan, menimbulkan efek penggandaan (Wahab,1992; Goeldner cs., 2000)

Kontribusi ke Neraca Pembayaran
Pengaruh terhadap neraca pembayaran hanya terjadi dari pariwisata internasional, yaitu manakala terjadi ekspor pariwisata. Ekspor pariwisata merupakan ekspor yang tidak kentara yang berbeda dengan ekspor barang. Dalam ekspor barang aliran barang berlawanan dengan aliran pembayaran, sedangkan dalam ekspor pariwisata aliran wisatawan sama dengan aliran pembayaran.

Ekspor pariwisata akan menyumbang sejumlah uang antara lain dari pengeluaran wisatawan asing, transportasi, pengembalian modal dari investasi pariwisata di luar negeri, pengiriman uang oleh pekerja bidang pariwisata di luar negeri dan sebagainya. Hal ini memberikan kontribusi positif terhadap neraca pembayaran.

Karena industri pariwisata umumnya berorientasi pada penjualan jasa, dimana salah satu sifat dari produksi jasa adalah dihasilkannya melalui padat karya, maka dengan berkembangnya pariwisata akan membuka banyak kesempatan kerja. Akibat langsung terhadap kesempatan kerja ini terutama akan sangat dirasakan oleh negara-negara berkem bang yang umumnya aktivitas ekonominya masih terbatas. Di Indonesia, Bali merupakan daerah yang pariwisata¬nya berkembang cukup pesat sehingga sektor pariwisata mampu memberikan lapangan kerja sepertiga dari seluruh penduduknya yang berjumlah 3,5 juta orang (LIN, 2003).

Pembangunan pariwisata mempunyai pengaruh yang cukup besar tehadap penerimaan pemerintah. Penerimaan ini diperoleh melalui berbagai jenis pajak dan retribusi, baik yang langsung dikenakan kepada wisatawan maupun yang dikenakan kepada pengusaha seperti: pajak orang asing, pajak tontonan, pajak hotel dan restoran, retribusi wisata, retribusi Surat Ijin Usaha Kepariwisataan.

Pariwisata dapat membantu pemerataan pendapatan penduduk dunia. Hal ini dapat terjadi dengan adanya perpindahan uang dari ne¬gara-negara kaya ke negara-negara miskin (Youti, 1996). Dalam pariwisata internasional sebagian besar wisatawan berasal dari negara-negara maju. Kedatangan wisatawan akan mampu mendorong peningkatan pendapatan di daerah pusat-pusat kegiatan pariwisata yang tersebar di seluruh wilayah negara, serta memberikan kesempatan kerja tanpa ha¬rus memindahkan penduduk ke pu¬sat-pusat industri di perkotaan yang seringkali menjadi

Karena aktivitas dalam sektor pariwisata disam ping memiliki akibat langsung, juga mempunyai akibat tidak langsung dan akibat dorongan, maka pengeluaran wisatawan di suatu tujuan akan menciptakan penda¬patan dan output baru di wilayah yang bersangkutan (Cooper, 1993). Oleh karena itu, maka setiap pengeluaran wisatawan akan membawa akibat penggandaan.

Wisatawan mengeluarkan uang¬nya untuk membeli barang dan jasa yang dihasilkan usaha pariwisata di garis depan, yang dinikmati selama melakukan perjalanannya. Dari uang yang diterima perusahaan pariwisata di garis depan tersebut, sebagian akan digunakan untuk membeli barang-barang dan jasa yang dihasilkan perekonomian lokal, membayar tena¬ga kerja, keuntungan kepada wirausaha, membayar pajak kepada pemerintah, dan sebagainya (H, L.B., G) serta membeli barang dan jasa yang tidak bisa dihasilkan perekonomian setempat (M).

Uang yang digunakan untuk membeli barang dan jasa yang tidak bisa dihasilkan perekonomian setem¬pat (M) akan keluar dari perekonomian. Sedangkan uang yang tersisa dalam perekonomian (H, L.B., G) sebagian ditabung dan sebagian akan dibelanjakan lagi kepada peru¬sahaan pemasok, baik untuk membeli barang dan jasa yang tidak bisa dihasilkan perekonomian setempat (M), maupun untuk membeli barang dan jasa yang dihasilkan perekono¬mian setempat, membayar tenaga kerja, membayar keuntungan kepada wirausaha, membayar pajak kepada pemerintah dan sebagainya (H, LB, G) .

Uang yang dibelanjakan untuk membeli barang dan jasa yang tidak bisa dihasilkan perekonomian setem¬pat (M) akan keluar dari perekono¬mian. Uang yang tersisa dalam per¬ekonomian sebagian akan ditabung dan sebagian lagi akan dibelanjakan lagi. Proses ini akan terus berjalan sehingga menimbulkan akibat peng¬gandaan dalam suatu perekonomian. Hal ini akan meningkatkan penda¬patan para pelaku ekonomi di dae¬rah setempat, yang berarti mening¬katkan daya belinya, dan selanjut¬nya akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pendekatan penggandaan ini di¬pergunakan untuk mengukur besar¬nya pengaruh dari pengeluaran wisatawan terhadap perekonomian di negara tujuan. Berdasarkan fakta yang ada, di Indonesia setiap dolar pengeluaran wisatawan untuk pem¬bayaran berbagai kebutuhannya, akan berpengaruh terhadap nilai uang menjadi 2,5 kali dalam aktivi¬tas ekonomi (Sitongkir, 1997).

Selain berdampak positip, pari¬wisata juga mempunyai dampak ne¬gatip terhadap perekonomian, yaitu pembelanjaan kebocoran (leakages), pegnaruh demonstrasi, biaya penem¬patand an kesempatan (Novienddi, 1997; Weaper and Oppermann., 2000).

Kebocoran dalam suatu pereko¬nomian terjadi apabila dalam penye¬diaan barang dan jasa yang di¬butuhkan wisatawan, tidak bisa di¬hasilkan dalam perekonomian itu sendiri, atau dalam menghasilkannya dipergunakan faktor produksi yang berasal dari luar perekonomian se¬tempat. Jadi kebocoran tersebut da¬pat berupa sejumlah uang yang ke luar dari suatu perekonomian untuk pembelian barang yang tidak dapat dihasilkan oleh perekonomian pro¬duksi yang berasal dari luar.

Perilaku seseorang seringkali di¬pengaruhi oleh apa yang dilihatnya. Begitu juga perilaku masyarakat di suatu tujuan dapat dipengaruhi oleh perilaku wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut. Dengan demi¬kian pariwisata internasional mempu¬nyai dampak terhadap gaya hidup dan pola pengeluaran masyarakat di suatu tujuan. Hal ini mengakibatkan meningkatnya permintaan barang yang dihasilkan perusahaan asing.

Pengembangan pariwisata di suatu tujuan memerlukan fasilitas yang cukup memadai. Dalam penyediaan fasilitas tersebut kadang¬kala bisa merugikan terhadap fasili¬tas yang telah tersedia sebelumnya. Hal ini terjadi akibat konsumen yang dituju baik oleh fasilitas yang telah ada maupun oleh fasilitas yang baru adalah wisatawan yang sama.

Pembangunan fasilitas-fasilitas kepariwisataan merupakan penggu¬naan faktor produksi pada sektor pariwisata, yang sesungguhnya fak¬tor produksi tersebut dapat diper¬gunakan pada pembangunan sektor lain.

Konsep Pembangunan Pariwisata
Pembangunan pariwisata sering terjadi sebagai pembangunan yang sifatnya merusak, bahkan tidak ja¬rang pembangunan pariwisata yang merusak pariwisata itu sendiri, pa¬dahal Alloh telah memperingatkan kita dalam Alqur‘an : Dan apabila ia berpaling (dari kamu) ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-ta¬naman dan binatang ternak, dan Alah tidak menyukai kebinasaan (Al Baqarah : 205)

Berdasarkan perhitungan Calzoni (1988) bahwa dalam menghasilkan jasa kepariwisataan terdapat sub¬stitusi antara penggunaan sumber daya pariwisata dengan kualitas lingkungan. Semakin banyak sumber daya wisata yang dipergunakan da¬lam menghasilkan pelayanan kepa¬riwisataan, maka kualitas lingkungan semakin menurun.

Hubungan antara penggunaan sumber daya pariwisata dengan kualitas lingkungan ini dapat dilihat pada gambar di bawah.


Gambar 1. Hubungan penggunaan sumberdaya pariwisata dengan kualitas lingkungan (Blasco, 2000)

Sebagai respon terhadap kondisi¬kondisi di atas, maka konferensi World Parawisata Organization (WTO) di Chili tahun 1999 telah menghasilkan etika global parawisata yang bertujuan untuk menjamin sum berdaya alam yang menjadi sumber kehidupan kepariwisataan dan melindungi lingkungan dari dampak buruk kegiatan bisnis kepariwisataan (WTO,2000). Kode etik ini meliputi ketentuan yang mencakup aturan bagi daerah tujuan wisata, pemerintah, penyelenggara tour, pengembang, biro perjalanan, pekerja, dan bagi para wisatawan.
Oleh karena itu dalam pem¬bangunan industri pariwisata harus memperhatikan prinsip-prinsip pariwi¬sata yang berkelanjutan yaitu peng¬guanaan sumber daya alam yang berkelanjutan, penurunan konsumsi berlebihan dan sampah, memperta¬hankan keberagaman, integrasi pari¬wisata kedalam perencanaan, eko¬nomi pendukung, pelibatan komu¬nitas lokal, konsultasi pemegang sa¬ham dan masyarakat, pelatihan staf, tanggung jawab pemasaran para¬wisata dan pelaksanaan penelitian (Farsari and Prastacos, 2001).

Memperhatikan hal di atas, maka pembangunan kepariwisataan perlu dikelola secara bijaksana, dengan mempertimbangkan hasil pemba¬ngunan dan dampaknya secara kom¬prehensif. Dalam kondisi seperti ini, maka manajemen pariwisata menjadi sangat sentral peranannya. Pada ke¬sempatan ini penulis mengajukan suatu konsep manajemen pem¬bangunan pariwisata seperti yang ditunjukkan Gambar 2.


Gambar 2. Konsep Pembangunan Pariwisata (dikembangkan dari Rusli Sarip dkk).

Penutup
Pariwisata merupakan sektor yang mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menggerakan suatu per¬ekonomian melalui akibat langsung, akibat tidak langsung dan akibat dorongan.

Dengan semakin berkembangnya tingkat kesejahteraan masyarakat, dan bertambahnya waktu luang, ma¬ka permintaan pariwisata akan semakin meningkat.

Dengan memperhatikan sumber daya pariwisata yang melimpah dan peluang yang besar, Indonesia harus mampu menjadikan pariwisata se¬bagai unggulan dalam mendulang devisa dan menumbuhkan perekonomian.

Daftar Pustaka
Al-qur‘anul Majid (Tafsir An-Nur), 2000, PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang.

Anton Gunarto, 1996. Upaya Menjual Potensi Kepariwisataan di Kabupaten Ciamis Jawa Barat, Jurnal Ilmu dan Wisata. Edisi Desember, Pusat Penelitian Pari¬wisata Indonesia: Jakarta.

Arif Supriyono, 1995, Mengendalikan Pertumbuhan Pariwisata Na¬sional, 8 Maret, Republika: Jakarta.

Blasco, Elies Furio, 2002, Coastal Parawisata and The Environ¬ment, in Parawisata Today The Journal of The College of Para¬wisata & Hotel Management, Cyprus.

Danang, A. 1996. Peran Surat Kabar dalam Promosi Pariwisata, Jurnal Ekonomi dan Wisata, Edisi Desember, Pusat Penelitian Pariwisata Indonesia: Jakarta.

Farsari, Yianna and Poulicos Prasta¬cosm, 2001, Sustainable Para¬wisata indicators for Medi¬terranean Established Destina¬tions, in Parawisata Today The Journal of The College of Para¬wisata & Hotel Management, Cyprus.

Goeldner, Charles R, J.R. B. Ritchi and Robert W. McIntosh, 2000, Parawisata, Principles, Practi¬ces, Philosophies, Eight Edition, John Willey & Son, New York.

Ibrahim Soepardhie, 2001, Paradigma Baru Pengembangan Pariwisata Berwawasan Bhineka Tunggal Ika, dalam Jurnal Pari¬wisata, STIEPAR YAPARIAKTRIPA, Bandung.

Kartawan, 2000, Dampak Pengem¬bangan Produk Wisata Pantai Terhadap Lama Tinggal Wisa¬tawan, dalam Jurnal Ekonomi & Bisnis, Polban, Bandung.

Kartawan, 2003, Manajemen Pro¬duksi dan Operasi, Bahan Ku¬liah Pascasarjana Universitas Gunadarma, Jakarta.

Kotler, Philip; John Bawen, and Ja¬mes Makens, 1999, Marketing for Hospitality and Parawi¬sata, Second Edition, Prentice-Hall International, New Jersey.

Londo, P.I., 1995, Peluang dan Ken¬dala dalam Pengembangan Wi¬sata Pantai di Indonesia, Bu¬letin Ekonomi, Bapindo, Jakarta.

Noviendi Makalam, 1997, Ekonomi Pariwisata, STPB, Bandung.

Ohasi, Taiji. 1998, Influence and Determinan of Parawisata Development in Indonesia, STPB; Bandung.

Parikesit, Danang dan Wiwied Tris¬nadi, 1997, Kebijakan Pariwi¬sata Indonesia dalam Pemba¬ngunan Jangka Panjang. Uni¬versitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Payne, Andrian, 2000, The Esssence of Service Marketing, Alih bahasa Fandy Ciptono, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Pendit, Nyoman S., 1994, Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana, Pradnya Paramita, Jakarta.

Rusli Sarip, at. al. t.t. Manajemen Produksi. Lembaga Manajemen FE UNPAD; Bandung.

Smith, Russell Arthur. 1994, Planning and Management for Coastal Ecotourism in Indonesia, A Regional Perspektive. Jakarta: CSIS.

Sugiama, Gima. A 2001, Pengembangan Kepuasan Wisata Ber makna, Polban, Bandung.

Tambunan, 1999, Dapatkah Sektor Pariwisata Menyumbangkan Devisa yang Berarti, dalam Ilmu dan Wisata, Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, USAHID, Jakarta.

UNDP, 1992, Parawisata Sector Programming and Policy Deve¬lopment, Jakarta.

Youti, Oka A., 1996, Pemasaran Pa¬riwisata, Penerbit Angkasa, Bandung.

Youti, Oka A., 2002, Proteksi Efektif melestarikan SumberHayati Indonesia Melalui Pengem¬bangan Ekowisata dalam jurnal Pariwisata, STIEPAR YAPARIAKTRIPA, Bandung.

Weaver, David and Martin Oppermann,2000, Parawisata Management, John Willey & Sons Australia, Brisbane.

LIN., 2002. Lembaga Informasi Nasional, lin.go.id & Info-RI.com.

LIN., 2003. Lembaga Informasi Nasional, lin.go.id & Info-RI.com.

WTO, 2000, World Parawisata Organization, www.worldd.tourism.org
__________
Kartawan, Fakultas Ekonomi, Universitas Siliwangi

Sumber :ejournal.gunadarma.ac.id