Bloggernyo urang sikaladi By. Boim

Angklung Padaeng


Oleh : Obby A.R. Wiramiharja

Latar Belakang

Indonesia negara tercinta adalah sebuah negara dimana bambu tumbuh dimana-mana, dimulai dari Sabang di sebelah barat sampai Merauke di sebelah timur. Untuk itu tidaklah aneh bila bangsa Indonesia mengatakan bahwa bambu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa kita sehari-hari.

Pernah suatu saat seorang asing yang telah mengunjungi berbagai tempat di negara kita ini berkata bahwa bangsa Indonesia itu merupakan bangsa yang aneh; karena mereka membangun rumah mereka dari bambu, dimulai dari lantai, dinding, atap, tiang juga peralatan dapur dan kebutuhan sehari-hari semua dari bambu, bahkan makanan pun, mereka makan bambu pula, dimana di negara kita terkenal dengan rebung.

Bahkan di dalam merebut, membela dan mempertahankan negara dari tangan penjajah "bambu" tidak sedikit berperan andil (bambu runcing) dan malah sampai waktu meninggal pun bambu berperan penting (usungan jenazah).

Hal lain yang menarik, bahwa Indonesia pun pandai membuat alat musik sendiri terbuat dari bambu (suling, calung, gunsang, celempung, rengkong, Angklung, hateng dan lain sebagainya.)

Masa Lalu Musik Bambu
Sejak kapan timbulnya alat musik yang dibuat dari bambu di Indonesia, tidak terdapat keterangan yang jelas. Beberapa ahli, seperti J. Kunst (Mr. J dan C.J. A Kunst "Musical Exploration in the Indian Archipelago" dalam Asiatic Review, Oktober 1936, hal. 814 dan Will G. Gilbert Muziek uit Oost-en West, Inleiding tot de Inhemsche Muziek van Nederlandsch Oost-en West India, (tidak bertahun hal. 9-10) berpendapat, bahwa beberapa bentuk alat musik bambu berasal dari masa sebelum adanya pengaruh Hindu. Menurut dugaan mereka, permulaan berkembangnya alat musik dari bambu di Indonesia sangat erat hubungannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia yang kemudian menjadi nenek moyang suku-suku Melayu Polinesia, beberapa Melanium sebelum Masehi.

Dari bukti-bukti yang dapat dikumpulkan, dengan terdapatnya beberapa alat musik dari bambu yang sama bentuknya di Asia Tenggara, dugaan tersebut dapat diterima. Sebagai contoh, alat musik bambu berdawai yang di Sulawesi Selatan disebut Gandrangbulo, di Priangan dikenal dengan sebutan Celempung, di Jawa Tengah disebut Gumbeng atau Gumbeng Rebah, di Bali dinamai Guntang.

Alat seperti itu, dengan berbagai variasinya antara lain terdapat di Siam Utara (Hugo A. Bertzik, Die Gaister der Gelben Blutter 1938, hal. 174); di Laos (A. Schaeffoer, Origine des Instrumente de Musque, 1938 hal XII, gambar 2 dan 3 (masing-masing berdawai 2 dan 1); di Kamboja dikenal dengan sebutan Dianglye (Curt Sachs, Die Musikinstrumente Indiens und Indonesiens, 1915 Hal. 97). Di beberapa tempat di Malaysia biasa disebut Gendang Batak (Henry Balfour, Musical Instruments from Malay Peninsula, Antropology, part 11, 1954 hal. 17); Orang-orang Sakai menyebutnya Krob, orang Semang menyebutnya Amang (M. Kelsinki, "Die Musik der Primitiv Stamme auf Malaka" Anthrops, XXV, 1930 hal. 591).

Demikian pula di berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai variasi bentuk dan penamaan terdapat alat musik dari bambu berdawai. Bahkan di Madagaskar, menurut Sachs, (Curt Sachs, Les Instrumente de Musique de Madagascar, 1938, hal. 51) alat seperti itu terdapat pula, dikenal dengan sebutan veliha, vediha (na) atau marovany.

Dengan adanya persamaan bentuk alat musik dari bambu sebagaimana dikemukakan di atas, yang dapat dikatakan salah satu ciri persamaan selera dari suatu kebudayaan yang sama pendukungnya, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa berkembangnya musik bambu di Indonesia erat kaitannya dengan perpindahan nenek moyangnya dari darata Asia. Perpindahan yang dimaksud mungkin sekali perpindahan gelombang pertama, yakni perpindahan suku Negrito Weda yang terjadi pada zaman Mesolitikum, bahkan tidak mustahil sebelumnya. Sebagaimana dimaklumi sebelum adanya perpindahan suku bangsa Palaeo Mongoloid di Nusantara sudah ada suku-suku bangsa yang menetap yang juga berasal dari daratan Asia yang kini sisasisanya antara lain adalah penduduk asli Irian (M. Amir Sutarga, "Tjiri-tjiri Antropologi Fisik dari Penduduk Pribumi" dalam buku: Penduduk Irian Barat, di bawah redaksi Koentjara-ningrat dan Harsja W. Bachtiar, 1963, hal 22-23).

Penduduk Irian ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain yang bentuknya dikenal di Pasundan dengan sebutan Kerinding, di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut rindhing atau Genggong, dan di Bali disebut Ginggung. Alat seperti itu dapat ditemui di berbagai tempat di Irian, seperti di sekitar Jabi, Tarung Gare, Awembiak, Den Dama, di sekitar Gunung Jaya Wijaya dan di hulu sungai Apauwar. Periksalah lebih lanjut: L.M. d'Alberts, New Guenia, jilid I, hal. 359; W.N. Beaver, A description of the Ciraca District, Western Papua, jilid III, 1914 hal 407; R. Parkinson, Im Bismarck-Archipel, Erlehnisse und Beobachtungen auf der Insel NeuBommern, 1887 hal 122; Curt Sachs, Geist und Werden der Musikinstrumente, 1929, jilid III, gambar No. 59; G.A.J Van der Sande, Uitkomsten de Nederlandsche Nieuw Guenia Expeditie onder leiding van Prof. A. Wichman, jilid III; ch. Le Roux, "Expeditie naar het Nassaugebergie in Cental Noord Nieuw guinea", TBG LXVI, hal 447513, 1926; Dr. J. Kunst, A Study on Papuan Music, peta lampiran "Distribution of Musical Instruments in New Guinea and the Adjacent Islands, 1931.

Dengan dikenalnya alat musik dari bambu oleh penduduk pedalaman Irian Jaya yang dapat dikatakan sebagai monumen kebudayaan zaman Batu Tua, dapatlah kiranya diterima pendapat, bahwa alat musik dari bambu di Indonesia sudah berkembang sejak zaman itu. Jadi tidak seperti pendapat Will Gilbert, yang menyebutkan berkembangnya musik bambu di Indonesia sejalan dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia .... eerste millenium v. Christ (Will G. Gilbert, op.cit, hal 20) atau seribut tahun sebelum Masehi, melainkan jauh sebelum itu, mungkin antara 10.000 sampai 5.000 tahun sebelum perhitungan tahun Saka. Pada zaman itu kebudayaan setingkat dengan orang Tasadi, suatu suku terasing di pedalaman Mindanau (Filipina) yang belum mengenal logam dan cocok tanam dan masih hidup di goa-goa.

Orang Tasadi juga mengenal alat musik bambu, yakni alat musik bambu berdawai yang mereka namai Kubing. Sebagaimana dimaklumi, suku Tasadi ini baru ditemukan dan terjadi kontak dengan orang luar lingkungan mereka pada tahun 1971.

Alat-alat musik dari bambu yang tampak pada relief Candi Borobudur dan candi-candi yang lain, dari bentuk dan jenisnya menunjukkan adanya pengaruh Hindu, seperti Bangsing (suling lintang, wangsi).

Sedang alat-alat yang sudah ada sebelumnya, seperti alat musik bambu berdawai dan sebagainya, tidak digambarkan. Gambang bambu seperti yang digambarkan pada relief Borobudur dan teras depan Prambanan, sampai sekarang masih merupakan alat musik sakral di kalangan penganut agama Hindu Bali. Di beberapa Pura tua, seperti di Pura Kelaci Denpasar, terdapat gambang demikian yang kelihatan sudah sangat tua. Alat itu biasa dipergunakan dalam upacaraupacara penting terutama dalam pengabenan.

Sebagai makhluk yang berakal, bagaimanapun juga sederhananya, dalam mencukupi hajat kebutuhannya, nenek moyang bangsa Indonesia sejak zaman purba telah memanfaatkan bahan yang mudah didapat dan dibuat alat, yaitu bambu.

Perubahan bentuk dan peningkatan mutu alat-alat musik dari bambu tampak sangat lamban, bahkan ada yang sama sekali tidak mengalami perubahan. Di beberapa daerah dewasa ini masih terdapat alat musik dari bambu yang hanya berupa ruasan bambu yang dibunyikan dengan cara ditumbuk-tumbukkan pada sebuah papan, seperti Garantang di Tohpati Kasiman, Bali. Ada pula yang ditabuhnya dengan dipukul dengan pemukul dari kayu, seperti Guyonbulon di Banjaran, Bandung Selatan. Tongtong atau kentongan bambu tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di daerah Sumenep, Madura, Tuk-tuk biasa digunakan sebagai bunyi-bunyian pengiring karapan Sapi, dilengkapi dengan Sronen, semacam terompet yang tabungnya dibuat dari bambu pula. Tennong di Pangkajene, Sulawesi, adalah sebuah alat musik bambu sederhana pula, berbentuk bilahan bambu sebanyak 4 buah, dijajarkan di atas paha pemainnya. Dalam hal ini paha berfungsi sebagai penyangga dan sekaligus menjadi resonator.

Menurut keterangan dari orang-orang tua setempat, Tennong biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu rakyat Pangkajene Kepulauan.

Di sekitar Cakung, Jakarta Timur, alat musik semacam Tennong, tetapi dilengkapi dengan penyangga dari gedebog pisang disebut Sampyong, biasa digunakan sebagai Ujungan atau Tari Uncul.

Alat musik dari bambu yang mengalami perkembangan yang wajar adalah suling. Hampir setiap suku bangsa di Indonesia mengenal dan memiliki suling dengan berbagai bentuk dan jenis, serta fungsi. Contohnya di Pasundan terdapat semacam suling yang disebut Surilit, Taleot, Hatong, Hatong Renteng, Hatong Sekaran, Elet, Calintu dan Bangsing.

Di antara berbagai macam suling terdapat pula yang digunakan sebagai alat musik yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan setempat, seperti suling Lembang, di Tanah Toraja. Suling dapat membawakan lagu-lagu sedih yang menyayat hati, atau lagu-lagu riang yang menggembirakan pendengarnya. Dapat pula dibawakan lagu-lagu syahdu berjiwa keagamaan. Itulah mungkin antara lain sebabnya di Maluku suling diperkembangkan sebagai alat musik Gerejani. Di Ambon dan Lease nyanyi-nyanyian Jemaat Gereja biasa diiringi Orkes Suling, yang dibawakan oleh sejumlah pemuda.

Menurut pendapat Dr. Th. Muller Kruger, bila dibandingkan dengan iringan orgel-orgel kecil yang dipakai oleh kebanyakan jemaat-jemaat di Indonesia, orkes suling bambu jauh lebih baik dan bermanfaat. Alat-alatnya mudah dibuat sendiri dari bahan yang banyak terdapat di Indonesia. Sedang orgel harus dibeli dengan harga yang mahal dari luar negeri. Taraf musiknyapun orkes suling bambu tidak kurang indahnya dari orgel.

Manfaatnya untuk kehidupan gerejani banyak pula, sebab dengan digunakannya orkes suling bambu para pemuda mendapat tugas dan tanggung jawab dalam kebaktian-kebaktian. Orkes suling bambu di Maluku dikembangkan oleh Jozef Kam, seorang domine yang di sana dikenal dengan sebutan "Rasul Maluku" yang melakukan pekabaran Injil di Indonesia bagian Timur sejak tahun 1816 (Dr. Th. Muller Kruger, Sejarah Gereja di Indonesia, 1966 hal 95).

Rupanya di Filipina suling bambu sebagai alat musik Gerejani pernah ditingkatkan lagi bentuknya, yakni disusun sebagai organ. Sebuah pragan bambu yang dibuat tahun 1819 di bawah pengawasan seorang Rahib Agustin diberitakan pada tahun 1973 dalam keadaan rusak berat, sehingga untuk perbaikannya diperlukan dana sebesar 64.000 dollar Amerika (Harian Umum Berita Buana, 13 Juni 1973 hal 4). Hal ini saya kemukakan sekedar memberikan gambaran betapa besar apresiasi masyarakat tetangga kita itu terhadap alat musik bambu yang telah dikembangkan.

Alat musik bambu lainnya yang mengalami berbagai pasang surut dalam perkembangannya adalah Angklung, sebagaimana akan kita tinjau bersama.

Pasang Surut Angklung
1. Data Tertulis peninggalan Masa lalu
Sejak kapan Angklung muncul dan berkembang, merupakan pertanyaan yang saya tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Menurut perkiraan Dr. Groneman, sebelum berkembangnya pengaruh Hindu di Indonesia Angklung sudah merupakan alat musik yang digemari penduduk (Dr. Groneman, "De Gamelan to Jogjakarta, Letterkundige Vehaldingen der Koninkl, Akademi, Jilid XIX, hal 4). Sebagai alat musik pra Hindu

Angklung tidak digambarkan pada candi Borobudur dan Prambanan, sebagaimana halnya seperti alat musik bambu lainnya yang sudah berkembang sebelum zaman Hindu di Indonesia, misalnya alat musik bambu berdawai.

Dalam literatur kuno pun saya tidak atau belum menemukan. Kekawin Arjunawiwaha yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 1040 hanya menyebut-nyebut Sundari (semacam erofon yang di Jawa Barat dikenal dengan sebutan Sondari, di Bali Sundaren). Calung yang dewasa ini terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, disebut-sebut dalam Inskripsi Buwahan yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 1181.

Guntang, alat musik bambu berdawai yang penyebarannya meliputi Asia Tenggara sampai Madagaskar, dan sampai sekarang di Bali tetap disebut Guntang, terdapat dalam Kekawin Kidung Sunda yang diperkirakan ditulis tidak lama setelah tahun 1357. Alat yang di Priangan disebut Pancurendang, di Jawa Tengah disebut Bluntak, dan di Bali disebut Taluktak, disebut-sebut dalam Kekawin Bharata Yuda. Tongtong atau kentongan bambu disebut-sebut dalam Sundharmala dengan Pulkul, dalam Smaradhana disebut Titiran, dan dalam Bharata Yudha disebut Kukulan. Baru dalam tulisan-tulisan kemudian seperti dalam Serat Cebolang, Angklung disebut-sebut, yaitu waktu melukiskan saat Mas Cebolang mempertunjukkan keahliannya menyanyi dan bermain musik di depan Bupati Dhaha Kediri.

2. Fungsi Angklung Tradisi
Angklung yang dibunyikan dengan cara digoyang-goyangkan, adalah termasuk golongan lonceng. Seperti lonceng, Angklung bersifat khidmat serta biasa digunakan dalam hubungan kegiatan ritual. De beberapa tempat di Bali Angklung biasa digunakan khususu dalam upacara Pengabenan (pembakaran mayat). Namun dewasa ini hal itu terbatas pada kelompok penduduk yang tidak memiliki Angklung metalopon, seperti penduduk Banjar Tegalingah, Karangasem.

Orang Baduy di Kanekes, Banten Selatan, mempergunakan Angklung sebagai alat musik upacara pada waktu menjelang menanam padi di ladang, sebutannya Angklung Buhun.

Angklung Gubrag di kampung Jati, Serang, dianggap alat musik sakral, untuk mengiringi mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah.

Seperti halnya di Kanekes, di sekitar Kulon Progo terdapat Angklung yang digunakan dalam upacara Bersih Desa, permulaan musim menggarap sawah, disebut Angklung Krumpyung. Demikian pula di desa Ringin Anom dan Karangpatian, Ponorogo, upacara Bersih Desa biasa diiringi Orkes Angklung.

Pada umumnya dewasa ini di berbagai tempat, Angklung merupakan alat kesenian yang profan, seperti halnya di Madura. Di pulau itu, sepanjang pengetahuan saya Angklung hanya terdapat di Desa Keles, Kecamatan Ambuten, dan di Desa Bluto, Kecamatan Srunggi, keduanya termasuk wilayah Kabupaten Sumenep, biasa digunakan untuk Latar Belakang.

Indonesia negara tercinta adalah sebuah negara dimana bambu tumbuh dimana-mana, dimulai dari Sabang di sebelah barat sampai Merauke di sebelah timur. Untuk itu tidaklah aneh bila bangsa Indonesia mengatakan bahwa bambu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa kita sehari-hari.

Pernah suatu saat seorang asing yang telah mengunjungi berbagai tempat di negara kita ini berkata bahwa bangsa Indonesia itu merupakan bangsa yang aneh; karena mereka membangun rumah mereka dari bambu, dimulai dari lantai, dinding, atap, tiang juga peralatan dapur dan kebutuhan sehari-hari semua dari bambu, bahkan makanan pun, mereka makan bambu pula, dimana di negara kita terkenal dengan rebung.

Bahkan di dalam merebut, membela dan mempertahankan negara dari tangan penjajah "bambu" tidak sedikit berperan andil (bambu runcing) dan malah sampai waktu meninggal pun bambu berperan penting (usungan jenazah).

Hal lain yang menarik, bahwa Indonesia pun pandai membuat alat musik sendiri terbuat dari bambu (suling, calung, gunsang, celempung, rengkong, Angklung, hateng dan lain sebagainya.)

Masa Lalu Musik Bambu
Sejak kapan timbulnya alat musik yang dibuat dari bambu di Indonesia, tidak terdapat keterangan yang jelas. Beberapa ahli, seperti J. Kunst (Mr. J dan C.J. A Kunst "Musical Exploration in the Indian Archipelago" dalam Asiatic Review, Oktober 1936, hal. 814 dan Will G. Gilbert Muziek uit Oost-en West, Inleiding tot de Inhemsche Muziek van Nederlandsch Oost-en West India, (tidak bertahun hal. 9-10) berpendapat, bahwa beberapa bentuk alat musik bambu berasal dari masa sebelum adanya pengaruh Hindu. Menurut dugaan mereka, permulaan berkembangnya alat musik dari bambu di Indonesia sangat erat hubungannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia yang kemudian menjadi nenek moyang suku-suku Melayu Polinesia, beberapa Melanium sebelum Masehi.

Dari bukti-bukti yang dapat dikumpulkan, dengan terdapatnya beberapa alat musik dari bambu yang sama bentuknya di Asia Tenggara, dugaan tersebut dapat diterima. Sebagai contoh, alat musik bambu berdawai yang di Sulawesi Selatan disebut Gandrangbulo, di Priangan dikenal dengan sebutan Celempung, di Jawa Tengah disebut Gumbeng atau Gumbeng Rebah, di Bali dinamai Guntang.

Alat seperti itu, dengan berbagai variasinya antara lain terdapat di Siam Utara (Hugo A. Bertzik, Die Gaister der Gelben Blutter 1938, hal. 174); di Laos (A. Schaeffoer, Origine des Instrumente de Musque, 1938 hal XII, gambar 2 dan 3 (masing-masing berdawai 2 dan 1); di Kamboja dikenal dengan sebutan Dianglye (Curt Sachs, Die Musikinstrumente Indiens und Indonesiens, 1915 Hal. 97). Di beberapa tempat di Malaysia biasa disebut Gendang Batak (Henry Balfour, Musical Instruments from Malay Peninsula, Antropology, part 11, 1954 hal. 17); Orang-orang Sakai menyebutnya Krob, orang Semang menyebutnya Amang (M. Kelsinki, "Die Musik der Primitiv Stamme auf Malaka" Anthrops, XXV, 1930 hal. 591).

Demikian pula di berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai variasi bentuk dan penamaan terdapat alat musik dari bambu berdawai. Bahkan di Madagaskar, menurut Sachs, (Curt Sachs, Les Instrumente de Musique de Madagascar, 1938, hal. 51) alat seperti itu terdapat pula, dikenal dengan sebutan veliha, vediha (na) atau marovany.

Dengan adanya persamaan bentuk alat musik dari bambu sebagaimana dikemukakan di atas, yang dapat dikatakan salah satu ciri persamaan selera dari suatu kebudayaan yang sama pendukungnya, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa berkembangnya musik bambu di Indonesia erat kaitannya dengan perpindahan nenek moyangnya dari darata Asia. Perpindahan yang dimaksud mungkin sekali perpindahan gelombang pertama, yakni perpindahan suku Negrito Weda yang terjadi pada zaman Mesolitikum, bahkan tidak mustahil sebelumnya. Sebagaimana dimaklumi sebelum adanya perpindahan suku bangsa Palaeo Mongoloid di Nusantara sudah ada suku-suku bangsa yang menetap yang juga berasal dari daratan Asia yang kini sisasisanya antara lain adalah penduduk asli Irian (M. Amir Sutarga, "Tjiri-tjiri Antropologi Fisik dari Penduduk Pribumi" dalam buku: Penduduk Irian Barat, di bawah redaksi Koentjara-ningrat dan Harsja W. Bachtiar, 1963, hal 22-23).

Penduduk Irian ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain yang bentuknya dikenal di Pasundan dengan sebutan Kerinding, di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut rindhing atau Genggong, dan di Bali disebut Ginggung. Alat seperti itu dapat ditemui di berbagai tempat di Irian, seperti di sekitar Jabi, Tarung Gare, Awembiak, Den Dama, di sekitar Gunung Jaya Wijaya dan di hulu sungai Apauwar. Periksalah lebih lanjut: L.M. d'Alberts, New Guenia, jilid I, hal. 359; W.N. Beaver, A description of the Ciraca District, Western Papua, jilid III, 1914 hal 407; R. Parkinson, Im Bismarck-Archipel, Erlehnisse und Beobachtungen auf der Insel NeuBommern, 1887 hal 122; Curt Sachs, Geist und Werden der Musikinstrumente, 1929, jilid III, gambar No. 59; G.A.J Van der Sande, Uitkomsten de Nederlandsche Nieuw Guenia Expeditie onder leiding van Prof. A. Wichman, jilid III; ch. Le Roux, "Expeditie naar het Nassaugebergie in Cental Noord Nieuw guinea", TBG LXVI, hal 447513, 1926; Dr. J. Kunst, A Study on Papuan Music, peta lampiran "Distribution of Musical Instruments in New Guinea and the Adjacent Islands, 1931.

Dengan dikenalnya alat musik dari bambu oleh penduduk pedalaman Irian Jaya yang dapat dikatakan sebagai monumen kebudayaan zaman Batu Tua, dapatlah kiranya diterima pendapat, bahwa alat musik dari bambu di Indonesia sudah berkembang sejak zaman itu. Jadi tidak seperti pendapat Will Gilbert, yang menyebutkan berkembangnya musik bambu di Indonesia sejalan dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia .... eerste millenium v. Christ (Will G. Gilbert, op.cit, hal 20) atau seribut tahun sebelum Masehi, melainkan jauh sebelum itu, mungkin antara 10.000 sampai 5.000 tahun sebelum perhitungan tahun Saka. Pada zaman itu kebudayaan setingkat dengan orang Tasadi, suatu suku terasing di pedalaman Mindanau (Filipina) yang belum mengenal logam dan cocok tanam dan masih hidup di goa-goa.

Orang Tasadi juga mengenal alat musik bambu, yakni alat musik bambu berdawai yang mereka namai Kubing. Sebagaimana dimaklumi, suku Tasadi ini baru ditemukan dan terjadi kontak dengan orang luar lingkungan mereka pada tahun 1971.

Alat-alat musik dari bambu yang tampak pada relief Candi Borobudur dan candi-candi yang lain, dari bentuk dan jenisnya menunjukkan adanya pengaruh Hindu, seperti Bangsing (suling lintang, wangsi).

Sedang alat-alat yang sudah ada sebelumnya, seperti alat musik bambu berdawai dan sebagainya, tidak digambarkan. Gambang bambu seperti yang digambarkan pada relief Borobudur dan teras depan Prambanan, sampai sekarang masih merupakan alat musik sakral di kalangan penganut agama Hindu Bali. Di beberapa Pura tua, seperti di Pura Kelaci Denpasar, terdapat gambang demikian yang kelihatan sudah sangat tua. Alat itu biasa dipergunakan dalam upacaraupacara penting terutama dalam pengabenan.

Sebagai makhluk yang berakal, bagaimanapun juga sederhananya, dalam mencukupi hajat kebutuhannya, nenek moyang bangsa Indonesia sejak zaman purba telah memanfaatkan bahan yang mudah didapat dan dibuat alat, yaitu bambu.

Perubahan bentuk dan peningkatan mutu alat-alat musik dari bambu tampak sangat lamban, bahkan ada yang sama sekali tidak mengalami perubahan. Di beberapa daerah dewasa ini masih terdapat alat musik dari bambu yang hanya berupa ruasan bambu yang dibunyikan dengan cara ditumbuk-tumbukkan pada sebuah papan, seperti Garantang di Tohpati Kasiman, Bali. Ada pula yang ditabuhnya dengan dipukul dengan pemukul dari kayu, seperti Guyonbulon di Banjaran, Bandung Selatan. Tongtong atau kentongan bambu tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di daerah Sumenep, Madura, Tuk-tuk biasa digunakan sebagai bunyi-bunyian pengiring karapan Sapi, dilengkapi dengan Sronen, semacam terompet yang tabungnya dibuat dari bambu pula. Tennong di Pangkajene, Sulawesi, adalah sebuah alat musik bambu sederhana pula, berbentuk bilahan bambu sebanyak 4 buah, dijajarkan di atas paha pemainnya. Dalam hal ini paha berfungsi sebagai penyangga dan sekaligus menjadi resonator.

Menurut keterangan dari orang-orang tua setempat, Tennong biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu rakyat Pangkajene Kepulauan.

Di sekitar Cakung, Jakarta Timur, alat musik semacam Tennong, tetapi dilengkapi dengan penyangga dari gedebog pisang disebut Sampyong, biasa digunakan sebagai Ujungan atau Tari Uncul.

Alat musik dari bambu yang mengalami perkembangan yang wajar adalah suling. Hampir setiap suku bangsa di Indonesia mengenal dan memiliki suling dengan berbagai bentuk dan jenis, serta fungsi. Contohnya di Pasundan terdapat semacam suling yang disebut Surilit, Taleot, Hatong, Hatong Renteng, Hatong Sekaran, Elet, Calintu dan Bangsing.

Di antara berbagai macam suling terdapat pula yang digunakan sebagai alat musik yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan setempat, seperti suling Lembang, di Tanah Toraja. Suling dapat membawakan lagu-lagu sedih yang menyayat hati, atau lagu-lagu riang yang menggembirakan pendengarnya. Dapat pula dibawakan lagu-lagu syahdu berjiwa keagamaan. Itulah mungkin antara lain sebabnya di Maluku suling diperkembangkan sebagai alat musik Gerejani. Di Ambon dan Lease nyanyi-nyanyian Jemaat Gereja biasa diiringi Orkes Suling, yang dibawakan oleh sejumlah pemuda.

Menurut pendapat Dr. Th. Muller Kruger, bila dibandingkan dengan iringan orgel-orgel kecil yang dipakai oleh kebanyakan jemaat-jemaat di Indonesia, orkes suling bambu jauh lebih baik dan bermanfaat. Alat-alatnya mudah dibuat sendiri dari bahan yang banyak terdapat di Indonesia. Sedang orgel harus dibeli dengan harga yang mahal dari luar negeri. Taraf musiknyapun orkes suling bambu tidak kurang indahnya dari orgel.

Manfaatnya untuk kehidupan gerejani banyak pula, sebab dengan digunakannya orkes suling bambu para pemuda mendapat tugas dan tanggung jawab dalam kebaktian-kebaktian. Orkes suling bambu di Maluku dikembangkan oleh Jozef Kam, seorang domine yang di sana dikenal dengan sebutan "Rasul Maluku" yang melakukan pekabaran Injil di Indonesia bagian Timur sejak tahun 1816 (Dr. Th. Muller Kruger, Sejarah Gereja di Indonesia, 1966 hal 95).

Rupanya di Filipina suling bambu sebagai alat musik Gerejani pernah ditingkatkan lagi bentuknya, yakni disusun sebagai organ. Sebuah pragan bambu yang dibuat tahun 1819 di bawah pengawasan seorang Rahib Agustin diberitakan pada tahun 1973 dalam keadaan rusak berat, sehingga untuk perbaikannya diperlukan dana sebesar 64.000 dollar Amerika (Harian Umum Berita Buana, 13 Juni 1973 hal 4). Hal ini saya kemukakan sekedar memberikan gambaran betapa besar apresiasi masyarakat tetangga kita itu terhadap alat musik bambu yang telah dikembangkan.

Alat musik bambu lainnya yang mengalami berbagai pasang surut dalam perkembangannya adalah Angklung, sebagaimana akan kita tinjau bersama.

Pasang Surut Angklung
1. Data Tertulis peninggalan Masa lalu
Sejak kapan Angklung muncul dan berkembang, merupakan pertanyaan yang saya tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Menurut perkiraan Dr. Groneman, sebelum berkembangnya pengaruh Hindu di Indonesia Angklung sudah merupakan alat musik yang digemari penduduk (Dr. Groneman, "De Gamelan to Jogjakarta, Letterkundige Vehaldingen der Koninkl, Akademi, Jilid XIX, hal 4). Sebagai alat musik pra Hindu, Angklung tidak digambarkan pada candi Borobudur dan Prambanan, sebagaimana halnya seperti alat musik bambu lainnya yang sudah berkembang sebelum zaman Hindu di Indonesia, misalnya alat musik bambu berdawai.

Dalam literatur kuno pun saya tidak atau belum menemukan. Kekawin Arjunawiwaha yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 1040 hanya menyebut-nyebut Sundari (semacam erofon yang di Jawa Barat dikenal dengan sebutan Sondari, di Bali Sundaren). Calung yang dewasa ini terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, disebut-sebut dalam Inskripsi Buwahan yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 1181.

Guntang, alat musik bambu berdawai yang penyebarannya meliputi Asia Tenggara sampai Madagaskar, dan sampai sekarang di Bali tetap disebut Guntang, terdapat dalam Kekawin Kidung Sunda yang diperkirakan ditulis tidak lama setelah tahun 1357. Alat yang di Priangan disebut Pancurendang, di Jawa Tengah disebut Bluntak, dan di Bali disebut Taluktak, disebut-sebut dalam Kekawin Bharata Yuda. Tongtong atau kentongan bambu disebut-sebut dalam Sundharmala dengan Pulkul, dalam Smaradhana disebut Titiran, dan dalam Bharata Yudha disebut Kukulan. Baru dalam tulisan-tulisan kemudian seperti dalam Serat Cebolang, Angklung disebut-sebut, yaitu waktu melukiskan saat Mas Cebolang mempertunjukkan keahliannya menyanyi dan bermain musik di depan Bupati Dhaha Kediri.

2. Fungsi Angklung Tradisi
Angklung yang dibunyikan dengan cara digoyang-goyangkan, adalah termasuk golongan lonceng. Seperti lonceng, Angklung bersifat khidmat serta biasa digunakan dalam hubungan kegiatan ritual. De beberapa tempat di Bali Angklung biasa digunakan khususu dalam upacara Pengabenan (pembakaran mayat). Namun dewasa ini hal itu terbatas pada kelompok penduduk yang tidak memiliki Angklung metalopon, seperti penduduk Banjar Tegalingah, Karangasem.

Orang Baduy di Kanekes, Banten Selatan, mempergunakan Angklung sebagai alat musik upacara pada waktu menjelang menanam padi di ladang, sebutannya Angklung Buhun.

Angklung Gubrag di kampung Jati, Serang, dianggap alat musik sakral, untuk mengiringi mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah.

Seperti halnya di Kanekes, di sekitar Kulon Progo terdapat Angklung yang digunakan dalam upacara Bersih Desa, permulaan musim menggarap sawah, disebut Angklung Krumpyung. Demikian pula di desa Ringin Anom dan Karangpatian, Ponorogo, upacara Bersih Desa biasa diiringi Orkes Angklung.

Pada umumnya dewasa ini di berbagai tempat, Angklung merupakan alat kesenian yang profan, seperti halnya di Madura. Di pulau itu, sepanjang pengetahuan saya Angklung hanya terdapat di Desa Keles, Kecamatan Ambuten, dan di Desa Bluto, Kecamatan Srunggi, keduanya termasuk wilayah Kabupaten Sumenep, biasa digunakan untuk memeriahkan arak-arakan.

Menurut keterangan, dahulu di beberapa tempat di Kalimantan Barat terdapat Angklung, yang contohnya tersimpan dalam Museum Indisch Institut di Negeri Belanda, tercatat dalam katalogus No. 1297/1-2 dan 1767/1-3. Akan tetapi dewasa ini menurut beberapa tokoh kebudayaan dan pejabat-pejabat Kanwil Depdikbud Kalimantan Barat, di wilayah itu tidak terdapat lagi Angklung tradisional.

Di Kalimantan Selatan sekarang masih terdapat Angklung tradisional yang dikenal dengan sebutan Kurung-kurung, biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukkan Kuda Gepang (Sie) yang bentuk dan cara pertunjukannya hampir sama dengan Kuda Kepang di Jawa Tengah. Menurut keterangan, kata gepang di sini berarti gepeng atau pipih. Jadi berlainan dengan arti anyaman, walaupun bentuk dan kuda-kudaannya sama, yaitu terbuat dari anyaman bambu.

Di Lampung pada masa-masa yang lalu terdapat pula Angklung tradisional, yang contohnya dipamerkan di Museum Leiden, Negeri Belanda dengan katalogus No 40/58. Namun sekarang sulit untuk mendapatkan keterangan mengenai Angklung tradisional di wilayah tersebut, kecuali yang dikembangkan oleh beberapa kelompok transmigran dari Jawa.

3. Perubahan Sifat dan Fungsi
Sebagaimana telah dikemukakan, hampir tidak ada keterangan tertulis autohtonis dari Angklung pada masa dahulu. Yang terdapat hanyalah cerita-cerita lisan, sebagaimana terdapat dalam beberapa cerita rakyat di Kanekes, Banten Selatan yang biasa dibawakan dalam bentuk pantun. Menurut cerita di sana, pada masa kebesaran Pajajaran, kerajaan di Pasundan, di samping sebagai alat musik upacara pertanian, Angklung biasa digunakan sebagai alat musik angkatan bersenjata, semacam Marching Band.

Melihat cara-cara permainan Angklung di Banten Selatan dan beberapa tempat di Priangan, demikian pula peranannya dalam pertunjukan Reog Ponorogo dan permainan Kuda Kepang, kemungkinan dipergunakannya Angklung sebagai alat musik tidak mustahil.

Hal itu dinyatakan oleh beberapa pengamat Belanda, antara lain seorang dengan initial G.J.N. dalam majalah INDIE tahun pertama, No 21, 22 Agustus 1917 hal 330, tentang Angklung di Priangan, dengan tegas mengatakan : "En qeen wonder: de angkloeng is militaire muziek" ("dan tidak mengherankan:Angklung memang musik militer").

Demikian seorang dengan nama samaran "Bianca" dalam majalah de ORIENT No.52, 24 Desember 1938, tentang Angklung Sunda antara lain menulis : Over het algemeen draagt angkloeng muziek een opwekkend en vroolijk karakter, maar het heeft ook zijn krijgslystige en mystiekezijde ("pada umumnya musik Angklung menggairahkan dan menggembirakan, tetapi juga dapat menimbulkan semangat perjuangan dan mistik").

Penulis lain yang anonim dalam majalah WOLANDA HINDIA tahun ke-12 No.6, 1939, setelah menyaksikan beberapa pertunjukan Angklung di Priangan, antara lain menulis: "Dat deze muziek indruk op de bevolking maakt, is bewezen. Zij beluisteren in de klanken krijgsmuziek, tewijl daartegen over bij anderen zinnelijke aandoeningen worden opwekt" ("Bahwa musik ini (maksudnya musik Angklung, pen) dapat menimbulkan kesan mendalam bagi pendidik, cukup terbukti. Mereka mendengan musik perang dalam bunyinya, sedang bagi yang lain menimbulkan emosional").

Demikian pengaruh musik Angklung pada pendukungnya di Priangan pada masa lalu. Maka tidak mengherankan bila pada peretengahan abad XIX, ketika di Pasundan sedang giat-giatnya dilaksanakan apa yang disebut "Cultuurstelsel" atau peraturan tanam paksa oleh pemerintah Hindia Belanda diadakan larangan terhadap permainan Angklung.

Alasan larangan itu, karena menurut pengamatan beberapa pembesar Belanda Kolonial, permainan Angklung berpengaruh terhadap semangat perlawanan rakyat atas kekuasaan pemerintah jajahan. Dalam larangan itu dikecualikan permainan Angklung oleh anak-anak dan pengemis, mungkin karena dianggap tidak menimbulkan keresahan dan tidak membahayakan bagi ketentraman pemerintahan jajahan Belanda. Sejak itulah Angklung turun derajatnya dari alat musik militer dan alat musik upcara yang dianggap sakral menjadi alat musik yang biasa digunakan oleh pengemis untuk mencari nafkah sepanjang jalan dari belas kasihan orang.

Setelah larangan itu dicabut, yaitu sejak dihapuskannya sistem tanam paksa, Angklung tidak banyak lagi pengaruhnya bagi penduduk, kecuali sebagai alat musik dalam berbagai pertunjukan rakyat seperti reog atau ogel.

Keadaan nasib Angklung di Priangan yang demikian itu berlangsung hampir satu abad. Baru menjelang masa penjajahan Jepang terjadi perubahan, sebagai hasil kreativitas dan usaha tidak kenal mundur dari Daeng Sutigna, seorang Guru di Kuningan, kelahiran Garut.

Pada masa gerakan kebangsan di kalangan bangsa Indonesia makin menggelora, Angklung yang sekian lamanya ikut menjadi korban penjajahan asing, mulai terjaga kembali.

Sejak tahun 1938 Daeng Sutigna dengan tekun mengadakan eksperimen-eksperimen agar Angklung yang diketahuinya sebagai salah satu unsur seni budaya bangsanya dan merupakan warisan yang pantas dipupuk dan dikembangkan, mendapat tempat yang layak di kalangan masyarakat luas. Setelah lama dipelajari dari berbagai segi, Pak Daeng sampai pada kesimpulan, bahwa agar Angklung dapat cepat populer harus disesuaikan dengan selera generasi muda, yaitu diubah tangga nadanya dari pentatonis menjadi diatonis. Setelah mengalami berbagai hambatan dan kegagalan, akhirnya usaha inovator itu berhasil dengan memuaskan.

Angklung kembali mendapat tempat yang layak di masyarakat. Bahkan mendapat reputasi internasional, sebagaimana terbukti dari pernyataan seorang musikus besar Australia IGOR HMEL NITSKY pada tahun 1955, sebagai berikut :

"It is with pride and admiration that take this opprtunity of palcing on paper my surprise delight that Daeng Soetigna has found such a practical and fascinating method of teaching the youth of Indonesia how to apreciate and play their own historic inestrument, the Angklung.is original idea of enabling young children to read and understand the tonal structure by visual and practical demonstration, is, to say the least, wonderful.

This extraordinarily talented young teacher has also found a way in which to use is national idiom to bring European music to the people of his country. The great value in giving the players the rate combination of pleasure and discipline -i/e/ good teamwork which would give a unique satisfaction both to performers and audience.

I doubt whether Australia is the ideal place in which he should study further, and feel that his development would be best nurtured by study and research in European countries, and I sincerely hope that he will have the opportunity of so doing, and thus be in the position to further enrich his countrymen in this practical, educational, cultural and national interest".

Dengan kreasi Pak Daeng itu ternyata kemudian, bahwa Angklung dapat dijadikan sarana pendidikan untuk mempertebal jiwa gotong royong, kerjasama, disiplin, kecermatan, ketangkasan, tanggungjawab dan sebagainya, di samping pemupukan rasa musikalis.

Berdasarkan hal-hal itulah, meskipun menurut anggapan beberapa pihak, Angklung sebagai alat musik memiliki beberapa kekurangan, akan tetapi dapat dipertanggungjawabkan sebagai alat pendidikan, sehingga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memandang perlu untuk menetapkannya sebagai alat penidikan musik di sekolah, Daeng dengan Surat Keputusan tertanggal 23 Agustus 1963, No. 082/1968 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah memutuskan : ( SK Terlampir )

• Menetapkan Angklung sebagai alat pendidikan musik dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan;
• Menugaskan Direktur Jendral Kebudayaan untuk mengusahakan agar Angklung dapat ditetapkan sebagai alat pendidikan musik tidak hanya dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Demikianlah, Angklung seolah-olah melambangkan pasang surutnya sejarah bangsa Indonesia. Ketika bangsa Indonesia berada dalam telapak kaki penjajah, Angklung hanya menjadi alat musik pengemis. Dengan dicapainya kemerdekaan, kembali Angklung menjadi alat musik yang dapat dibanggakan.

4. Perkembangan Pasca Daeng
Kegiatan pak Daeng dalam mengembangkan Angklung tidak terbatas pada pengembangan mutunya, melainkan juga pengembangan dalam arti penyebarluasan. Dibinanya Daeng-Daeng Muda sehingga tersebar di berbagai daerah, sebagai generasi penerus. Pada dasawarsa tujuh puluhan tampak dengan jelas betapa Angklung mencapai puncak kejayaannya. Apresiasi terhadapnya tidak terbatas di lingkungan tanah air saja, melainkan jauh lebih meluas ke negara tetangga. Dari sebuah produsen Angklung saja ratusan set diekspor ke Malaysia setiap tahun, sebagai salah satu komoditi nonmigas.

Menginjak dasawarsa delapanpuluhan, menurut pengamatan saya, tampaknya perkembangan Angklung tidak sehebat dasawarsa sebelumnya, seolah-olah terjadi kemandegan.

Mudah-mudahan konstatasi saya itu meleset, tetapi kalau benar, timbul beberapa pertanyaan, apa yang menjadi sebabnya. Tidak mustahil diakibatkan oleh masa produksi, sehingga kurang terjaga, karena mengejar kuantitas. Atau mungkin juga disebabkan karena para Daeng muda terlalu cepat berpuas diri dengan apa yang telah dicapai. Namun bagaimanapun juga yang menjadi sebabnya, satu hal yang perlu saya sampaikan dengan segala kerendahan hati, tetapi dengan penuh kesungguhan, mudah-mudahan kreativitas aktivitas inovatif dan agresif Pak Daeng Sutigna dalam mengembangkan mengembangkan tidak ikut terkubur bersama almarhum.
____________
Angklung Padaeng (disampaikan pada Seminar Nasional Angklung di ITB, 26 Oktober 1989)

Sumber : http://angklung-web-institute.com
Foto : http://indresvari.files.wordpress.com

Ziarah Budaya Itu Bernama Mudik

Oleh: Nur Faizah

Fenomena mudik adalah budaya khas setiap tahun masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut datangnya Idul Fitri, yang populer dengan sebutan Lebaran. Secara sosiologis, mudik merupakan ajang tamasya budaya dan dalam berbagai sisi memunculkan sirkulasi tata kehidupan. Dalam pelbagai bentuknya, migrasi besar-besaran yang ditimbulkan akibat mudik selalu melahirkan dilema dan problema sosial yang silang sengkarut. Kebiasaan rehat dari kesibukan keseharian bagi orang-orang kota dengan cara menikmati suasana kampung halaman amat membantu mereka mempersegar etos kerja.

Terlepas dari segala dampak yang ditimbulkannya, KH Mustofa Bisri (2007), misalnya, menilai bahwa fenomena tamasya budaya semacam ini adalah wahana strategis untuk menata kembali tata ruang kebudayaan dalam skala yang luas. Masih banyak ruang budaya yang belum terelaborasi dan terjamah oleh tangan peradaban. Ia merupakan peluang bagi pelaku budaya dan kesenian kita agar lebih sudi memperlebar spektrum kebudayaan sebagai lahan hijau dalam menggali gagasan dan inspirasi-inspirasi baru.

Kaum urban yang datang ke kota bermaksud menggantung harapan hidup mereka ke arah yang lebih baik. Pada saat itulah, naluri dan nurani mereka terpaksa bersitatap dengan realitas sosial yang mungkin sama sekali belum pernah terbayangkan di benak mereka sebelumnya. Mereka memiliki kesempatan secara langsung membuktikan bahwa adagium “ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri” adalah satire pahit dari kehidupan kota sesungguhnya dan bukan hanya isapan jempol.

Dengan kata lain, aktivitas mudik bukan sekadar lalu lalang perpindahan penduduk yang bergerak massal. Sebaliknya, fenomena mudik tak ubahnya ziarah lintas wilayah yang menuntut manusia (pemudik) berjumpa dengan pelbagai tipe manusia dan karakter sosial yang amat plural. Pada dimensi filosofis, mudik merupakan perlambang kesadaran manusia menjalankan hidupnya dalam satu garis linear (hablun min an-naas) untuk menuju titik pusat transendensi, berupa perlindungan Tuhan (hablun min Allah) serta restu leluhur (ridha alwalidayn).

Tepat di aras inilah, makna hakiki Lebaran sebagai silaturahmi kemanusiaan yang mampu menihilkan noda dan dosa menemukan momentum pembenarannya. Meminjam istilah Mochtar Naim (1999), fenomena kebudayaan seperti ini memiliki potensi memadukan beragam kutub, termasuk persinggungan dinamis antara masyarakat arus bawah dan arus atas. Berawal dari dialektika ini, anasir-anasir konflik dimungkinkan luruh dan menjadi harmoni yang saling mengayomi dan lintas batas.

Berkaca dari kenyataan bahwa ritus mudik adalah safari lintas budaya, kita seakan diingatkan kembali pada panorama serupa yang terjadi di dunia sastra. Fenomena transkulturalisme dalam sastra merupakan wacana lawas yang, dalam konteks ini, penting untuk direnungkan ulang, baik esensi maupun kontekstualisasinya. Sejumlah alasan dapat dikemukakan dalam kaitan ini.

Pertama, karya sastra adalah ruang semesta. Dengan ketajaman dan keliarannya, ia bisa menembus dan melintasi apa saja, termasuk di sini sekat budaya, batas bangsa, tabir agama, hingga tangga-tangga hierarki kasta. Kedua, adanya kecenderungan sementara sastrawan untuk mengabadikan tapak tilas mereka dalam karya sastra. Perjalanan mudik yang melelahkan berpotensi mengendapkan sekaligus mengabadikan kenangan yang menarik selama dalam perjalanan. Ketiga, nyaris tak bisa ditampik bahwa, dengan wataknya sebagai ruang semesta itulah, karya sastra juga telah serta-merta mengekalkan kerinduan seseorang terhadap belahan bumi leluhur yang pernah dihuni dan disinggahi sebelumnya.

Bertolak dari ketiga lanskap di atas, kita bisa menangkap kecenderungan akan tumbuhnya karya sastra sebagai "sarana tamasya" dalam khazanah kesusastraan kita. Konsep transkulturalisme yang digagas Kaplan telah dipraktekkan secara nyata oleh para sastrawan, baik lewat karya sajak maupun roman (prosa). Gejala seperti ini terasa kian kuat manakala dipandang dari sudut otentisitas dan empirisitas karya.

Serupa seorang pengelana (musafir) yang sedang menikmati perjalanan mudik, kepekaan seorang sastrawan ditantang untuk dituangkan dalam bentuk media ungkap yang estetik. Muncul kemudian pertanyaan, bisakah, misalnya, seorang sastrawan hanyut dan melancong sedemikian jauh hingga meninggalkan pijakan muasal (empiris) yang dijejaknya?

Belantika sastra mutakhir kita menunjukkan tidak sedikit para sastrawan yang mampu mengabadikan pengalamannya saat ia menjadi musafir di negeri orang, lalu merasa cemas akan hal itu saat mereka pulang (mudik). Sebutlah antara lain cerpen Mustofa W. Hasyim berjudul Mudik (1997). Cerpen itu bercerita tentang kehidupan menjelang Lebaran di perumahan kumuh di pinggiran rel kereta di Jakarta. Pengarang menggambarkan bagaimana penghuni rumah-rumah di sepanjang rel merasa gelisah setiap kali kereta melintas ke arah timur. Mereka seperti didorong-dorong demikian kuatnya untuk meninggalkan Jakarta menuju ke tempat asal yang lebih damai dan tenteram. Seakan ada yang bergerak-gerak dalam dada, dan seperti terdengar teriakan yang memberi peringatan bahwa mereka memiliki tanah asal, punya masa lampau, kerabat yang sedang menunggu.

Hal yang sama pernah pula dilakukan Umar Kayam (almarhum) lewat cerita pendeknya yang genial dan memukau berjudul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Latar keriuhan kota termasyhur di Amerika, di tangan Kayam menjelma menjadi ramuan cerita yang padat, kuat, dan memikat. Esai-esai reflektif seniman Emha Ainun Nadjib yang terhimpun dalam antologi Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan juga termasuk karya dalam kategori ini.

Beberapa amsal di atas kian menandaskan kesimpulan bahwa negeri seberang (baca: di luar kampung halaman) menjadi wahana yang baik dan alternatif dalam mewadahi imajinasi dan kreativitas sastrawi. Dengan demikian, sastra lintas budaya menjadi tidak melulu dipandang sebagai tulisan tentang kampung seberang dari perspektif kampung halaman, namun juga bisa sebaliknya.

Pilihan sastra lintas budaya seperti ini ditempuh sementara orang demi mencari lingkungan yang lebih sunyi, steril, dan aman sehingga memungkinkan tersaji pengalaman dan harapan secara lebih jernih, berani, dan elegan. Demikian halnya dengan tradisi mudik.

Demi semangat berbagi dan bersua dengan sanak famili, saban tahun pemudik menjalankannya dengan kelegaan hati kendati harus menempuh bentangan jarak yang jauh dan balutan keletihan. Menurut sastrawan Mochtar Lubis, melestarikan kebiasaan sosial seperti mudik ini sama halnya dengan memelihara salah satu akar budaya nenek moyang yang diwariskan sejak zaman megalit lampau.

Karena itu, mudik Lebaran tak ubahnya laku ziarah atas ruang dan waktu, kembali pada roh masa lalu demi menemukan kesadaran tentang kefitrahan manusia, betapapun kaburnya konsep “kefitrahan” itu. Mudik Lebaran di kampung halaman hadir sebagai sesuatu yang berkaitan dengan asal-usul setiap orang. Bagi orang Jawa, misalnya, prosesi mudik Lebaran adalah manifestasi dari keinginan diri untuk merenungkan dan menelusuri sangkan paraning dumadi: mengingat-ingat asal-muasal diri yang dibarengi dengan kesadaran akan nasib yang akan tiba di kemudian hari. Kampung halaman dengan demikian menyimpan berhampar makna simbolis bagi setiap orang yang hendak mencari dan menemukan kembali jejak-jejak awal sejarah dirinya.

Di kampung halaman inilah manusia bisa kembali bersahabat dengan “ruang” dan “waktu”. Ruang betul-betul menjadi lokus di mana manusia urban kembali menghayati waktu dalam bentuknya yang utuh dan komplet dalam tiga dimensi: masa lalu, masa kini, dan masa datang. Manusia urban bisa kembali menapaki tetapak masa silam yang telah terlewat dan yang telah membentuk sebagian besar kediriannya. Di titimangsa itulah kemudian masa kini hadir sebagai sebuah persambungan sejarah, yang dari sana tiap orang bisa mengukur kembali segenap laku hidupnya: sudahkah cita-cita dan harapan yang dianyam sejak dulu itu tercapai?

Meski saat ini mudik cenderung dikemas sebagai “komoditas” sosial dalam kemasan modern yang semakin hari kian termodifikasi dalam banyak versi, pesan kemanusiaan ritual mudik sejatinya sebanding dan bisa ditarik sealur dengan spirit sastra lintas budaya. Keduanya telah mengingatkan kita bahwa “sejauh-jauh manusia dan sastra berkelana, toh akhirnya tetap akan pulang jua”.
__________
Nur Faizah, Mahasiswa Agama dan Lintas Budaya Pascasarjana UGM, Yogyakarta

Sumber : www.tempointeraktif.com

Yang Magis di Upacara Nyobeng


Oleh : Muhlis Suhaeri

Perjalanan ke wilayah pedalaman Kalimantan Barat, merupakan suatu pengalaman dan sensasi tersendiri. Keanekaragaman masyarakat, keelokan budaya, dan keasrian alamnya, memberikan pengalaman tersendiri. Satu hal pasti, Anda harus siap dengan berbagai pengalaman tak terduga.

Tak heran, ketika seorang teman mengajak ke acara gawai adat, 15-16 Juni 2007, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan. Upacara adat itu bernama Nyobeng. Yang merupakan upacara adat, memandikan atau membersihkan kepala manusia hasil mengayau nenek moyang. Suku Dayak Bidayuh merupakan salah satu sub suku Dayak di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang. Daerah ini berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia.

Dari ibu kota propinsi, Pontianak, perjalanan bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat menuju Kota Singkawang. Perjalanan sejauh 145 km, bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Jalanan lumayan bagus. Dari Singkawang menuju Bengkayang bisa ditempuh selama satu setengah jam. Jarak dari Singkawang ke Kabupaten Bengkayang, sekitar 80 km. Jalanan sempit dengan aspal hingga ke ibu kota kabupaten. Ada beberapa losmen dan hotel di sini.

Paginya, kami melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Seluas. Setahun lalu, ketika melewati jalan ini, banyak lubang menganga di sepanjang jalan. Namun, sekarang jalan sudah terlihat mulus dan bagus. Namun, kondisi ini biasanya hanya bertahan dua tahunan saja. Setelah itu, jalan harus diaspal kembali. Ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama, faktor manusia. Cara pengerjaan jalan kurang bagus, sehingga jalan cepat rusak. Kedua, faktor alam. Sebagian besar tanah di Kalbar merupakan tanah gambut, sehingga tanah bersifat labil dan mudah amblas.

Setelah menempuh perjalanan darat selama dua jam, sampailah kami di sebuah penyeberangan perahu di Sungai Kumba. Belasan perahu tertambat di pinggir sungai. Air sungai kecoklatan dengan arus tidak begitu deras. Sungai Kumba menjadi pertemuan alur antara Sungai Siding dan Bumbung. Kedua nama itu adalah salah satu wilayah kecamatan di Bengkayang.



Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan motor air (perahu bangkong). Perahu bangkong merupakan sejenis perahu berukuran panjang 8 meter dan lebar 80 cm, bermesi 15 PK. Ketika dimuati delapan orang, jarak air dengan bibir perahu hanya 5 cm. Kalau bersimpangan dengan perahu lain jalannya harus pelan, agar perahu di sebelahnya tidak terkena ombak dan bisa menyebabkan perahu kemasukan air.

Perahu ini biasanya dimiliki para pedagang untuk mengangkut barang dagangan. Sekali angkut biasanya 400 kg. Dari ibu kota kabupaten, pedagang biasanya mengangkut barang dagangan berupa kebutuhan 9 bahan pokok, sabun, deterjen dan berbagai kebutuhan lainnya. Dari pedalaman, pedagang membawa hasil kebun dan pertanian, seperti karet, jagung, lada dan lainnya. Diantara bawaan barang dagangan itulah, penduduk “numpang” perahu menuju perkampungannya. Untuk jasa tersebut, penduduk harus merogoh koceknya sebesar Rp 15 ribu.

Air sungai Kumba tidak terlalu deras. Lebar sungai sekitar 50 meter dengan kedalaman 2-3 meter. Setelah satu setengah jam perjalanan, sampailah kami pada dua cabang anak sungai. Sungai Siding dan Bumbung. Kami menuju hulu Sungai Bumbung.

Sungai Bumbung tidak begitu lebar. Lebarnya sekitar 15 meter. Kedalaman sungai ditentukan oleh faktor curah hujan. Bila curah hujan jarang, kedalaman air sungai 1-2 meter. Bila turun hujan, ketinggian air lebih tinggi. Bagi para pemilik perahu motor, melayari sungai lebih enak saat air pasang. Bila air surut, perahu harus berjalan zig-zag menghindari batang pohon tumbang dan berserakan di dasar dan permukaan sungai. Tak heran bila terkadang tersangkut di batang pohon tumbang. Bila sudah demikian, penumpang harus turun dan mengangkat perahu secara bersama. Dasar sungai merupakan lumpur bercampur pasir.

Setelah menempuh perjalanan dua jam, dan berkelok pada beberapa anak sungai, sampailah kami pada jembatan Taling atau Sohoo. Jembatan itu terdiri dari dua batang bambu direntangkan di atas Sungai Sohoo. Tingginya sekitar 4 meter dari sungai. Bagian atas jembatan ada dua batang bambu direntangkan sebagai pegangan tangan.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah hutan dan ladang. Setelah berjalan kaki selama satu jam, kami sampai pada batas kampung. Sebuah papan bertuliskan selamat datang tertera pada pintu masuk kampung.

Kampung itu bernama Hli Buei. Biasa disebut Kampung Sebujit. Termasuk wilayah Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Di batas desa, ada penyambutan. Puluhan lelaki mengenakan selempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang. Sebagian diantaranya membawa senapan lantak dan sumpit. Senapan lantak biasa digunakan untuk berburu binatang. Hari itu, senapan dibunyikan sebagai tanda penyambutan. Bunyinya menggelegar dan keras. Letupan senapan lantak juga berfungsi memanggil ruh leluhur, dan meminta izin bagi pelaksanaan adat yang bakal dilakukan.

Rombongan tamu disambut para tetua adat. Sang kepala adat, Pak Amin, melempar anak anjing ke udara. Kepala tamu rombongan harus menebas anak anjing itu di udara dengan mandau. Kalaupun tak kena, anjing harus dipotong dengan mandau sesampai di tanah. Setelah itu, juga ada pelemparan ayam ke rombongan. Ayam, sama nasibnya dengan anjing. Upacara ini disebut naburi.

Setelah itu, tamu dilempar dengan telur ayam. Menurut kepercayaan, bila telur tidak pecah, berarti yang datang tidak ihlas. Kalau pecah, berarti tamu datang dengan ihlas. Beras putih dan beras kuning dilempar ke tamu, sambil dibacakan mantra. Rombongan diberi minuman tuak dari pohon niru dicampur kulit pohon Pakak. Kulit pohon ini memberi warna kemerahan dan rasa manis pada tuak. Cara membuatnya, kulit pohon itu harus dikeringkan terlebih dahulu.
Tuak yang terletak dibumbung bambu itu, diedarkan para gadis kembang desa ke segenap tamu. Dengan cawan dari bambu, setiap tamu meneguk tuak yang diedarkan. Inilah minuman penyambutan. Ibaratnya, inilah minuman welcome drink, seperti ketika kita masuk ke cafe atau tempat entertainment lainnya.



Selepas upacara penyambutan di batas perkampungan, rombongan tamu masuk ke perkampungan. Masyarakat menyalami semua tamu. Kami diantar memasuki tempat upacara yang berada di tengah perkampungan. Perkampungan itu tak lagi menampakkan ciri khas rumah adat Dayak, biasa disebut rumah Betang. Rumah ini berbentuk rumah panggung besar dan memanjang. Semua bangunan dari kayu. Bentuk atap menyerupai limas segitiga. Rumah dihuni puluhan kepala keluarga. Biasanya, di rumah inilah, semua pola hidup komunal dan kebudayaan Dayak, merepresentasikan dirinya.

Sebagian besar rumah di kampung Sebujit dihuni satu keluarga. Rumah terbuat dari semen dan pasir. Bentuk, warna, hiasan rumah, tak lagi menampak ciri khas ornamen dan hiasan khas Dayak. Beberapa rumah memasang antena parabola. Siaran TV3 Malaysia, lebih mudah ditangkap daripada TVRI.

Tempat upacara berada di tengah kampung. Di sana ada rumah adat. Namanya, rumah balug. Rupa rumah adat ini bentuknya bulat. Lebarnya sekira 10 meter dengan tinggi 15 meter dari tanah. Rumah ditopang dari kayu belian bulat yang dibenamkan ke tanah. Ukuran kayu sebesar 10-15 cm. Setiap sambungan rumah diikat dengan tali ijuk. Tangga rumah terbuat dari sebatang pohon yang telah dibuat undakan dengan pegangan dua batang bambu. Atap rumah mengerucut.

Di rumah adat inilah, berbagai benda pusaka disimpan. Di lantai bawah ada empat gong dengan diameter sekira 75 cm. Pada tengah rumah terdapat simlog. Ini seperti beduk. Bentuknya memanjang sekitar tujuh meter. Diameter bedug sekitar 30 cm. Bedug terbuat dari kulit babi hutan. Alat pemukulnya dari rotan-rotan kecil sebesar ibu jari.

Nah, pada bubungan rumah inilah terssimpan tengkorak hasil mengayau para leluhur. Tengkorak disimpan dalam kotak berukuran 40x30x20 cm. Di dalamnya juga berisi berbagai kalung dari taring babi.

Memasuki tempat upacara, rombongan diperciki air yang telah diberi mantera. Tamu yang masuk tempat upacara diperciki dengan daun anjuang. Fungsi dari air dan daun anjuang sebagai talak bala. Tamu juga mesti menginjak buah kundur yang diletakkan dalam baskom. Ritual ini disebut pepasan.

Di sekitar rumah adat ini, ratusan orang telah berada di bawah rumah balug. Tamu disambut dengan tarian. Warga dan tamu menari bersama, sambil mengitari rumah adat. Tetua adat menyanyikan lagu dan membaca matra. Tarian itu bernama mamiamis. Ini tarian bagi Ngngiu atau pembela tanah leluhur. Tarian secara bersama ini untuk menyambut para pahlawan pembela tanah leluhur. Yang baru datang dari mengayau. Arti dari tari ini adalah, tari perdamaian. Lalu, para tetua adat naik rumah balug. Simlog dipukul. Mercon pun dinyalakan. Bunyi dua benda itu bertujuan memanggil arwah leluhur. Ini pertanda ritual upacara Nyobeng telah dimulai.

Selepas membuka acara, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama di sekitar balug. Bagi yang beragama Islam, diberikan makanan khusus. Tidak mengandung babi. Tempatnya juga khusus, dari bumbung bambu dibelah dua dan memanjang.



Setelah makan bersama, tamu dipersilahkan meninggalkan area rumah adat dan menuju rumah penduduk. Setiap rumah penduduk boleh untuk ditempati. Mereka terbuka dengan semua tamu yang datang. Penduduk juga menjamu tamu yang datang ke rumah mereka dengan berbagai suguhan. Sebagian besar rumah penduduk menyediakan penganan kecil di ruang tamunya. Penduduk juga menyembelih ayam bagi masyarakat muslim yang datang ke rumahnya. Ayam dianggap makanan dan lauk “netral” bagi kaum muslim. Tamu berisitirahat sebentar dan menaruh barang di rumah penduduk. Setelah mandi atau membersihkan badan, tamu beristirahat sejenak.

Sementara itu, sebagian penduduk laki-laki berjalan menyusuri hutan di sekitar perkampungan. Mereka mencari bambu hutan. Batang bambu selebar 10 cm digotong beramai-ramai ke rumah adat. Bambu itu diletakkan di tanah dengan satu ujungnya diganjal balok. Beberapa lelaki mengitari bambu dan mulai berbaris. Setiap lelaki menyandang mandau di tangan.

Mandau senjata khas masyarakat Dayak, serupa pedang. Di tengah mandau biasanya ada ukiran dan motif tertentu. Gagang mandau biasanya dibuat dari tulang atau kayu. Pada gagang mandau, biasanya diberi hiasan tertentu. Hiasan itu berupa rambut manusia, gigi manusia dan lainnya. Hiasan melambangkan makna dan prestasi tertentu dari si pemegang mandau. Semakin banyak prestasinya dalam mengayau dan mendapatkan kepala, semakin banyak hiasan di mandaunya. Namun, tradisi mengayau sekarang ini, jarang sekali dilakukan.

Ketika ketua adat menganggukkan kepala, sebagai tanda kegiatan bisa dimulai, seseorang maju ke depan. Ia meloloskan mandau dari sarungnya. Sriing. Suara mandau bergesek dengan sarung menimbulkan suara. Terasa ngilu bagi yang mendengarnya. Ia mulai mengambil ancang-acang. Gagang mandau di pegang dengan dua tangannya. Setelah menarik napas, ia mulai mengangkat mandau. Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan mandau ke batang bambu. Cressssh. Batang bambu terpotong. Orang bertepuk tangan dengan riuh. Menurut kepercayaan, bila bambu terpotong, berarti pertanda baik. Namun, ada juga beberapa orang tidak bisa memotong bambu dengan sekali tebas. Kegiatan ini sebagai bentuk uji keperkasaan dan kekuatan bagi para lelaki. Menetak bambu hingga terputus, merupakan lambang kejantanan.



Sebelum ritual kelompok dilakukan, setiap rumah membuat sesaji. Sesajian itu harus dioles dengan darah ayam dari sayapnya. Darah ayam juga dipercikkan ke berbagai tempat. Yang dianggap sakral di sekitar rumah, rumah adat dan perkampungan.

Menjelang sore, ketua adat melakukan pemanggilan ruh. Ruh adat harus diberitahu sebelumnya, karena pelaksanaan adat harus segera dimulai.

Ketua adat menaiki rumah panggung. Dia mulai membuka upacara. Sesajian diletakkan di ujung daun buah. Untuk ruh baik, dibuat 7 sesaji. dan ditempatkan di berbagai batas desa. Setelah itu, ketua adat mengambil kotak yang berada di bubungan rumah balug.

Kotak itu berisi tengkorak manusia dan kalung dari taring babi hutan. Ketua adat melumurkan tangannya pada suatu ramuan, dan mengoleskannya pada tengkorak. Setelah itu, seekor ayam dipotong kepalanya hingga putus. Kepala ayam dan tetesan darah dioleskan pada tengkorak. Usai mengoleskan darah pada tengkorak, kotak itu dimasukkan lagi pada kotak dan disimpan.



Acara dilanjutkan dengan memotong anjing. Anjing dewasa itu berwarna hitam. Pemotongan anjing dimasukkan untuk menolak ruh jahat. Setelah dipotong, darah anjing diusapkan pada rumah-rumahan kecil yang berada di samping balug. Rumah-rumahan itu dianggap sebagai asal-usul nenek moyang Dayak Bidayuh. Ada juga patung lelaki dan perempuan. Ketika bakal dipotong, anjing tidak mengonggong sama sekali. Anjing itu diam saja. Dia seolah tahu, nasibnya untuk persembahan suatu ritual yang manusia jalankan. Darah anjing diusapkan pada tiang, dan berbagai sudut rumah adat. Potongan anjing juga dibawa ke atas rumah adat.

Acara selanjutnya adalah mandi-mandi. Upacara ini diikuti segenap kawula. Tua, muda, dan kanak. Tujuannya membersihkan jiwa dan raga. Air yang telah diberi jampi-jampi dimasukkan dalam tempayan besar. Dengan sebuah gayung, tetua adat mengambil air dan mengalirkan air itu lewat daun anjuang. Daun ini dipercaya sebagai daun yang punya kekuatan magis. Daun anjuang biasa dipakai dalam berbagai upacara adat, kaum Dayak.




Selanjutnya, acara memotong babi. Darah babi digunakan untuk memandikan tengkorak. Babi juga diambil hatinya dan dibakar untuk persembahan arwah leluhur. Setelah melakukan upacara ini, setiap orang yang mengikuti upacara, berpantang untuk berkata kotor. Bersikap kasar pada perempuan. Tidak berhubungan badan dengan perempuan. Tidak berjalan di bawah tiang jemuran. Bila orang melakukan itu, dipercaya bisa membawa malapetaka.

Uniknya, ketika upacara berlangsung malam hari, sebagian besar masyarakat tidak mengikuti upacara ritual itu. Yang mengikuti biasanya hanya orang tua dan tetua adat. Kawula muda dan kanak, lebih tertarik datang ke lapangan dan menonton pertujukkan musik dangdut. Di tengah lapangan tersebut, juga bertebaran permainan judi. Ada judi kolok-kolok, dokok dan lainnya.

Orkes dangdut dimainkan para pemuda setempat. Suara penyanyi dan peralatannya biasa saja. Bahkan, kalau boleh dibilang, hancur lebur. Meski demikian, itulah salah satu hiburan yang sangat dinantikan. Grup band menyediakan lima orang perempuan, untuk menemani orang yang ingin menari. Caranya, setiap yang ingin berjoget, mesti membayar tiket. Cukup dengan membayar Rp 5.000 untuk setiap lagunya. Dengan tiket itu, ia bisa mengajak seorang penari di orkes tersebut. Bagi yang tidak kebagian penari, mereka harus aktif dan pintar mencari penonton perempuan yang bertebaran di sekitar acara. Ketika ada kesepakatan, penonton perempuan akan mengikuti ajakan si pemegang tiket.

Setiap orang bolah memborong tiket. Berapapun ia mau. Asal dengkul kuat saja mengikuti alunan musik dangdut, hingga pagi. Uniknya, meski terjadi persaingan dalam mendapatkan teman joget atau ketika sedang berjoget di sekitar arena tersebut, tidak ada keributan atau perkelahian layaknya dalam suatu pentas musik. Orang akan berpikir seribu kali, bila berbuat rusuh atau berkelahi. Pasalnya? Siapa yang melakukan perkelahian atau berbuat rusuh, harus mengganti seluruh biaya pesta adat. Jumlahnya mencapai puluhan juta. Upacara adat juga mesti diulang dari awal. Karena itulah, orang tidak berani berbuat sembarangan.

Kampung di tengah hutan itu, terus mengeliat. Mengikuti kemajuan arus zaman dan modernisasi. Ada kemajuan diraih. Namun, ada juga yang mulai terkikis.□

Sumber : http://muhlissuhaeri.blogspot.com

Wisata Pulau Penyengat


Oleh : Muhammad Nasir

Tepat di gerbang Pulau Bintan, sekitar 10 menit penyeberangan dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, terhampar sebuah pulau yang menyimpan sejuta khazanah kebesaran sejarah Melayu. Namanya Pulau Penyengat. Sebuah hamparan daratan eksotis yang menyimpan aneka situs dan taman perhelatan bagi penulis Melayu di era kejayaan Kerajaan Riau Lingga.

Dari kejauhan, pulau seluas sekitar 240 hektar ini memancarkan kemegahan Masjid Raya Penyengat, yang dibangun tahun 1832 Masehi (1 Syawal 1248 Hijriah). Masjid Raya berarsitektur rancangan konstruksi Turki dan Eropa ini tetap terjaga keasriannya meski dipugar beberapa kali. Masjid bersejarah ini tetap berdiri kokoh dan menjadi situs kebanggaan masyarakat Kepulauan Riau kendati beton-betonnya hanya direkat dengan bahan kuning telur.

Menelisik lebih jauh catatan bersejarah Pulau Penyengat, sekitar abad ke-19 para Pujangga Melayu Riau Lingga telah menjadikan pulau ini sebagai taman perhelatan untuk melahirkan karya-karya besar. Pada era itu, ketika Kepulauan Nusantara belum mengenal kegiatan baca-tulis, di pulau ini telah berdiri percetakan yang menerbitkan ratusan buku ilmiah dan keagamaan.

Salah seorang penulis besar yang lahir dan berkarya di pulau ini adalah Raja Ali Haji (1809-1873 M). Karya Raja Ali Haji tentang Silsilah Melayu dan Bugis serta Tuhfat al-Nafis telah melambungkan namanya menjadi sejarawan penting bangsa Melayu.

Para Pujangga Riau Lingga seolah menemukan arwana untuk melahirkan karya-karya gemilang di zamannya. Karya-karya besar itu sungguh variatif, tidak hanya mewakili karya sastra di bidang kebahasaan, namun juga memiliki muatan religius, filsafat, kenegaraan hingga ke soal seksualitas. Karya-karya besar itu, antara lain Syair Siti Shianah, Syair Awai dan Gurindam Dua Belas.

Karya-karya emas ini tidak hanya lahir dari tangan dingin kaum bangsawan, tapi juga dari seorang perempuan jelata bernama Khatijah Terung. Melalui karyanya berjudul Kumpulan Gunawan, Khatijah menceritakan tentang hubungan seksual suami isteri. Seorang nelayan bernama Encik Abdullah pada 1902 juga menulis tentang Buku Perkawinan Penduduk Penyengat.

Simbol Intelektualitas
Melalui Kitab Bustan Al-Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa, Raja Ali Haji dinobatkan sebagai bahasawan yang pertama kali menjelaskan secara ilmiah tata bahasa Melayu. Ini menjadi dasar penempatan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (lingua franca) di Nusantara.

Raja Ali Haji juga seorang filosof dan ulama besar. Hal ini tersurat dalam karyanya yang menempatkan substansi ke-Islaman sebagai rujukan. Atas jasa-jasanya yang besar bagi Melayu dan bangsa Indonesia, Raja Ali Haji dicatat sebagai pahlawan nasional.

Pulau Penyengat di masa lalui dapat dikatakan sebagai simbol intelektualitas. Berbagai buah pikiran konstruktif yang dimaktubkan secara mutidimensi terlahir dari pulau yang kini tampak lusuh. Pesatnya penerbitan karya sastra pada abad ke-19 didorong oleh adanya lembaga percetakan bernama Matba'atul Riauwiyah yang beroperasi sejak 1890. Pada masa itu, kesadaran intelektual para penghuni Penyengat telah terorganisasi melalui perkumpulan bernama Rusyidah Club.

Pulau Penyengat pada abad ke-19 juga dikenal sebagai basis perlawanan terhadap kolonial. Pulau ini dijadikan kubu penting selama berkecamuknya perang antara Kerajaan Riau dan Belanda (1782-1794 M). Dari sini kemudian dikenal nama Raja Haji Fisabilillah sebagai Marhum Teluk Ketapang. Ia adalah salah seorang putra Kerajaan Riau Lingga yang dinobatkan menjadi pahlawan nasional dan meraih gelar Bintang Mahaputera Adipradana.

Sayangnya, waktu tidak berpihak pada kegemilangan itu. Sejarah kemasyuran Pulau Penyengat hanya terdengar lamat-lamat. Jika kita berkunjung ke pulau ini, simbol kejayaan masa lalu hanya dapat diwakili oleh beberapa potret buram. Bekas percetakan Mathba'atul Riauwiyah dan Gedung Rasyidah tinggal puing yang ditumbuhi semak belukar. Namun 250 karya sastra putera-puteri Pulau Penyengat yang berumur ratusan tahun masih tersimpan rapi di Balai Maklumat Pulau Penyengat.

Dari catatan sejarah, kemunduran intelektualitas sastra di Pulau Penyengat terjadi setelah Raja Riau Lingga terakhir, Sultan Abdurrahman Muzamsah memutuskan untuk meninggalkan Penyengat menuju Singapura pada 1911. Sultan Abdurrahman menolak menandatangani kontrak politik yang dibuat Belanda. Kepergiannya diikuti oleh sebagian besar penduduk Penyengat termasuk para bangsawan dan penulis-penulis pulau ini.

Sumber : http://www.suarakarya-online.com
Foto : http://www.kompas.com

Wisata Masa Silam di Manglayang



Oleh: Dwi Wiyana

tak, tek, tok, dung, dung / Tok, tok, dung, dung…. Suara lodang ditimpali pukulan kendang memecah kesunyian sore itu. Lupakan soal lagu, tak usah peduli soal irama, pokoknya main, dan ramai. Pemukul lodang, alat musik yang terbuat dari bambu, juga pemain kendang, boleh cengengesan sambil mempertontonkan giginya. Tak usah takut salah, yang penting happy.

Kok, main musik tanpa aturan? Itulah asyiknya main di Kampung Seni dan Wisata Manglayang, Bandung. Jika alat musik lodang tak sedang dimainkan oleh awak grup yang sebenarnya, pengunjung boleh menabuh sepuasnya. Anak-anak boleh memilih ruas bambu mana yang akan dipukul, begitu juga orang tuanya. Kalau capek, tak usah khawatir, banyak saung yang bisa dipakai beristirahat. Menyelonjorkan kaki, menikmati semilir angin.


Bermain alat musik Lodang

Kampung Seni dan Wisata Manglayang berada di kawasan Bukit Manglayang, tepatnya di Kampung Ciborelang, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Keberadaan area seluas hampir dua hektare ini diawaki sepasang sarjana seni, yakni Kawi dan Ria Dewi Fajaria. Hasil ide pasangan suami-istri ini mulai diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan pada akhir Agustus 2007. "Butuh waktu dua tahun untuk menyiapkannya," kata Kawi, 49 tahun, kepada Tempo. "Dulu kawasan ini kebun terpencil."

Selain lodang, ada beragam permainan lain yang disediakan di kampung wisata ini. Misalnya permainan naik egrang, yakni berjalan sambil naik potongan bambu dengan pijakan kaki berketinggian sekitar setengah meter di atas tanah. Terlihat sederhana, tapi mesti berhati-hati. Saat satu kaki melangkah, kaki satunya lagi harus menahan keseimbangan supaya tidak jatuh.


Anak-anak sedang bermain Egrang

Permainan bedil-bedilan lain lagi. Untuk memainkan permainan zaman baheula ini, pengunjung mesti menyiapkan kertas basah sebagai peluru. Kertas basah diremas-remas hingga bulat, lalu dimasukkan ke potongan bambu kecil, terus disodok ke dalam. Jika peluru pertama sudah ada di ujung bambu, siapkan peluru kedua dari bahan yang sama, lalu disodok lagi. Tekanan udara di dalam bambu akibat sodokan peluru kedua akan membuat peluru pertama lepas ke udara. Dor! Lawan yang tubuhnya terkena peluru boleh berpura-pura terguling sambil menahan sakit, atau berpura-pura mati.

Bagi anak-anak yang mau main gasing kayu atau bermain karet gelang, permainan ini juga tersedia. Saling patok gasing atau melompati tali karet laiknya bermain loncat tinggi tak kalah asyiknya. Ingin memegang dan memainkan wayang golek, ayo aja. Si Cepot, salah satu tokoh kesohor wayang ini, pasti tak akan marah.

Nurdin, 38 tahun, salah seorang pengunjung, merasa senang membawa putrinya, Humaira, 7 tahun, ke Kampung Seni Manglayang. "Di sini anak saya bisa mencoba beragam permainan tradisional yang makin sulit ditemukan," katanya. Maklum, anak-anak sekarang lebih betah bermain PlayStation, Nintendo, atau bermain di kawasan permainan modern, seperti TimeZone, yang banyak bertebaran di mal besar.


Selepas bermain alat musik tradisonal

Memainkan alat musik tradisional, juga permainan tradisional, hanya salah satu bagian dari sajian Kampung Seni dan Wisata Manglayang. Di sini pengunjung berkesempatan mengenal budaya Sunda, termasuk rumah adat dan kelengkapannya. Di area yang ditanami beragam pohon, seperti tangkil, lengkeng, bambu tali, asam, dan peuteuy, itu terpacak tegak sejumlah rumah panggung dengan dinding bambu dan beratap rumbia. Untuk melongok nama dan isi rumah, pengunjung tinggal menelusuri jalan setapak dengan undak-undakan yang tertata rapi.

Saung Kamonesan, sekadar contoh, dibangun dua tingkat. Di dalamnya tersimpan benda-benda menarik, seperti topeng dan wayang golek. Sedangkan di Saung Wreti tersimpan perabot rumah tangga, seperti gentong, kentongan, dan caping. Bagi mereka yang ingin melihat tempat penyimpanan padi, datangi saja leuit alias lumbung padi. Jika hendak mengetahui seperti apa bentuk lesung kayu yang biasa dipakai menumbuk padi menjadi beras, pengunjung bisa menengok Saung Lisung.

Para Ibu sedang memainkan lumbung Padi

Mengobrol sembari menikmati pemandangan hamparan padi di sawah bisa dilakukan di Saung Binangkit, semacam teras bagi rumah kebanyakan. Jika azan berkumandang dan pengunjung ingin salat, tak usah repot-repot, datang saja ke bangunan tajug (musala). Di sela-sela saung dan beragam pepohonan, pemilik kampung seni juga membangun sejumlah kolam ikan. Juga ada tempat duduk dari tembok batu tanpa diplester sehingga terlihat artistik, lengkap dengan meja bundar dari bahan serupa.

Selanjutnya, jika penasaran ingin tahu seperti apa bangunan khusus untuk memelihara manuk alias burung dan domba lengkap dengan rak tempat rumput, pelototi saja kandang manuk dan kandang domba di sana. Jika capek setelah muter-muter, selain beristirahat di saung, pengunjung bisa membeli beragam makanan dan minuman di Saung Tamba Hanaang.


Bersantap ria di Kampung Seni dan Wisata Manglayang

Namanya berada di kampung seni dan wisata Sunda, nama saung dan pengumuman di kawasan ini ditulis dalam bahasa Sunda. Jadwal pertunjukan rutin juga ditorehkan dalam bahasa Sunda.

Pada malam Minggu, kampung seni ini memang rutin menyajikan beragam pertunjukan. Pekan pertama pertunjukan wayang golek, kedua seni benjang, ketiga ketuk tilu, dan pekan keempat warna-warni, seni tradisional dan modern ditampilkan, misalnya pop Sunda. Acara digelar dari pukul delapan hingga tengah malam.

Pertunjukan tersebut rata-rata diawaki oleh warga yang tinggal di sekitar kampung seni. Itulah cara Kawi menghidupkan seni di area yang dibangunnya. Heri, 19 tahun, dan Rahmat, 18 tahun, adalah dua pemuda Ciborelang yang rutin memainkan lodang, seni reak, dan gamelan di situ. "Lumayan untuk mengisi waktu, daripada diam di rumah," kata Heri.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com
Foto :
http://hl31.multiply.com
http://pradhabasu.wordpress.com

Wisata Budaya Upacara Perkawinan Adat Sunda


Oleh: Dr Rochajat Harun Med

Acara adat perkawinan bagi setiap suku atau etnis merupakan upacara yang sakral. Ada yang sangat tuhu pada adat Karuhun, sehingga ada hal-hal yang tabu untuk ditinggalkan. Namun ada pula yang agak longgar. Biasanya di masyarakat Jawa terutama Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur terutama yang berdarah bangsawan, aturan dan tata caranya sangatlah ketat.

Demikian pula pada upacara perkawinan adat Sunda di Jawa Barat, ada hal-hal yang masih tetap dipertahankan, namun ada pula yang sudah mulai dihilangkan atau dikurangi intensitasnya. Misalnya saja tata cara adat sewaktu melamar, atau nanyaan, nyawer, huap lingkung, seserahan dan sebagainya. Kalaulah ada, tapi sudah mengalami perobahan atau setidak-tidaknya disesuaikan dengan lingkungan jaman, kemampuan pemangku hajat, serta situasi dan kondisi setempat.

Dalam upacara perkawinan adat Sunda, pada hari perkawinan atau pernikahan, calon pengantin pria diantar dengan iring-iringan dari suatu tempat yang telah ditentukan menuju ke rumah calon pengantin wanita. Bila pengantin pria berdekatan rumah dengan pengantin wanita maka calon pengantin pria langsung menuju ke rumah calon pengantin wanita.

Iring-iringan rombongan calon pengantin pria dijemput oleh pihak calon pengantin wanita. Dalam iring-iringan tersebut calon pengantin pria dipayungi. Hal ini disebabkan lazimnya upacara pernikahan dilangsungkan di rumah orang tua calon pengantin wanita. Pada upacara pernikahan terdapat dua bagian upacara yaitu upacara akad nikah dan upacara adat pernikahan.
Sebelum acara akad nikah dimulai, terlebih dahulu diadakan upacara penjemputan calon pengantin pria. Hal ini adalah sebagai adat sopan santun atau tatakrama yang telah menjadi kebiasaan umum, yaitu adanya saling menghargai. Untuk persiapan penjemputan, orang tua calon pengantin wanita membentuk panitia yang terdiri dari dua kelompok, yaitu:

Kelompok I terdiri dari:
1. Seorang membawa payung dan lengser;
2. Seorang membawa baki berisi mangle atau rangkaian bunga melati sebagai kalung.
3. Dua mojang membawa tempat lilin.
4. Dua mojang membawa bokor berisi perlengkapan upacara sawer dan nincak endog.
5. Dua bujang sebagai pengawal (gulang-gulang)/jagasatru.

Kelompok II terdiri dari:
1. Para mojang (dara atau gadis) dan bujang remaja berbaris di sisi kanan kiri pintu halaman yang akan dilalui oleh rombongan calon pengantin pria sampai ke depan pintu rumah.
2. Rombongan calon pengantin pria tiba, kemudian mereka dijemput di luar halaman oleh rombongan yang dipimpin lengser.

Pembawa payung segera memayungi calon pengantin pria dengan didampingi oleh dua gulang-gulang. Di sebelah depannya lagi seorang dayang berjalan membawa baki yang berisi kalungan bunga. Paling depan ialah lengser yang biasanya berjalan sambil menari dengan diiringi oleh alunan gamelan degung.

Mereka berjalan bersama-sama menurut irama gamelan menuju pintu halaman rumah. Di pintu gerbang halaman rumah, rombongan berhenti sebentar. Orang tua calon pengantin wanita telah siap berada di sana. Setelah calon pengantin pria datang, ibu calon pengantin wanita mengalungkan bunga kepada caIon menantunya. Selanjutnya rombongan bergerak lagi sambil ditaburi aneka ragam bunga oleh para mojang dan bujang yang berderet di kedua sisi jalan.

Dengan didampingi oleh calon mertuanya, pengantin pria dibawa masuk ke ruangan akad nikah dan dipersilakan duduk di kursi yang telah disiapkan. Selanjutnya pembawa acara mempersilakan kedua orang tua calon pengantin, saksi, petugas dari Kantor Urusan Agama serta beberapa orang tua dari kedua belah pihak yang dianggap perlu, untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Calon pengantin wanita dipersilakan duduk di samping calon suaminya yang selanjutnya segera dilanjutkan upacara Akad Nikah.

Menurut peraturan agama, perkawinan dianggap sah apabila pada waktu akad nikah dihadiri oleh:
1. Kedua calon pengantin;
2. Wali, yaitu bapak dari kedua calon pengantin atau wakil yang ditunjuk olehnya;
3. Saksi, sedikitnya dua orang;
4. Petugas khusus dari urusan keagamaan yaitu Penghulu, Pastur/Pendeta yang akan mengesahkan perkawinan.

Sebenarnya untuk agama Islam dapat dilaksanakan di Kantor Urusan Agama Islam atau di mesjid tetapi boleh juga dilaksa¬nakan di rumah orang tua calon pengantin wanita. Adakalanya calon pengantin wanita tidak perlu ditemukan pada waktu akad nikah. Untuk calon pengantin yang beragama Kristen harus dilaksanakan di gereja.

Setelah semua persiapan selesai dan tertib, protokol/pembawa acara menyerahkan acara akad nikah kepada petugas KUA. Juru rias pengantin mengerudungi kepala kedua calon pengantin dengan sehelai kerudung putih. Demikianlah akad nikah mulai berlangsung dengan dipimpin oleh petugas KUA. Tata upacara akad nikah telah diatur oleh petugas KUA. Dalam upacara akad nikah ini tuan rumah hanya mempersiapkan tempat upacara saja dan memberikan sejumlah uang adminis¬trasi sesuai dengan ketentuan umum.

Mas kawin bagi masyarakat Sunda tidak terlalu diutamakan, dan hal ini tergantung kemampuan calon pengantin pria dan biasanya telah dirundingkan pada waktu melamar atau pada waktu seserahan. Pada jaman dahulu banyaknya mas kawin itu dua real se-suku, tetapi sekarang banyak yang tidak mengenalnya lagi. Itu sebabnya diganti dengan uang yang jumlahnya telah diatur sebelumnya. Bisa juga dalam bentuk materi seperti peralatan sembahyang. Bahkan ada pula yang maskawinnya dengan pembacaan kalimah-kalimah Thoyibah/Al-Qur‘an atau syahadat. Hal ini tergantung kepada kesepakatan, keadaan dan status seseorang (bangsawan atau masyarakat biasa).

Konon, mas kawin yang jumlah seadanya saja, tidak menjadi persoalan. Sebab tidak pernah dibayar dan kalau dibayar, bayarannya pun tidak ditentukan. Malah ada sementara orang mengatakan, "Dibayar dengan hidangan (berekat) yaitu hidangan yang diantar dengan doa khusus atau diantar ketepian juga sudah lunas. Oleh karena itu, jarang sekali ada orang yang menagih mas kawin. Ada yang berpendapat, bahwa "Perempuan itu pamali (pantang) menagih atau makan mas kawin, karena akan menjadi sial dan goyang tiang aras" (artinya tiang yang roboh). Ada lagi ucapan orang untuk memperolok-olok tentang hendak menagih mas kawin itu katanya, "Saya bukan keturun¬an orang yang suka menagih mas kawin sebab akan sial selama hidup."

Namun bagi setiap orang laki-laki yang baik dan sopan tentu merasa berat jika mas kawinnya belum dilunasi, sebab menurut sesepuh, barang siapa tidak melunasi mas kawinnya akan mendapatkan kesukaran dalam sakaratul maut. Karena itu, jika ada orang yang sulit menghembuskan napas terakhirnya, orang suka berkata, "jangan-jangan ia belum membayar mas kawin." Oleh karena itu kalau sang suami hendak meninggal dunia, sang istri sering berkata: "janganlah mas kawin menjadi berat, dengan ridho saya sedekahkan." Sebaliknya kalau sang istri yang akan meninggal dunia katanya "janganlah mas kawin itu memberatkan, saya minta ridhonya."

Pada jaman sekarang ini, bila ada perceraian yang disebabkan adanya perkara-perkara yang sulit, pihak wanita sering minta pertimbangan pengadilan untuk menagih tamlik (perkara rumah dan sebagainya yang harus diberikan suami kepada istri), mas kawin dan uang belanja selama dalam idah.

Sesungguhnya hal mas kawin itu menurut sesepuh, hanya sebagai lambang saja bukan sebagai pembeli suka atau tanda cinta. Mas ialah sebuah logam mulia yang warnanya merah kekuning-kuningan dan benda berharga dari benda-benda lainnya. Kawin artinya kawan atau teman setia. Jadi hal ini mengandung arti kata bagi suami: "Jika saya jadi berkawan dengan kamu, biarlah aku terlihat merah seperti emas, artinya keluar darah atau mati" atau "aku memperistri kamu dan sanggup hingga mengeluarkan darah sekalipun demi untuk menjaga keselamatan kamu." Oleh karena itu dalam bahasa Kawi, mati itu dikatakan ngemasi.

Adapun mas kawin calon pengantin pria dapat berbentuk uang, barang seperti emas, alat-alat sembayang atau Kitab Suci dan lain-lain. Dengan demikian upacara akad nikah selesai, ditutup dengan doa dan ucapan terima kasih kepada Penghulu, Pastor atau Pendeta dan para saksi-saksi.

Demikianlah sekilas info mengenai pernak-pernik upacara perkawinan adat Sunda. Sebetulnya masih banyak lagi hal-hal harus selalu dipersiapan dalam penyelenggaraan pernikahan ini. Antara lain pakaian khusus pengantin pria maupun wanita; upacara adat seperti nyawer maupun tausiah; huap lingkung setelah selesai akad nikah; sumpah/janji pengantin pria yang nanti akan menjadi kepala rumah tangga, dan sebagainya.

Sumber : http://www.kabarindonesia.com/
Foto : http://sanggar-er.com

Wisata Bahasa

Oleh: Sunaryono Basuki Ks

Mohon maaf sebelumnya kepada semua pihak kalau-kalau yang saya tulis ini menyinggung perasaan atau wibawa atau apa saja yang Anda punyai. Tulisan ini sekedar mengemukakan keheranan saya akan kreatifitas bangsa ini dalam memberi nama-nama tempat.

Saya mulai dengan nama-nama pelabuhan. Jakarta punya Tanjung Priuk ( Priok) yang dikalahkan oleh Surabaya karena punya Tanjung Perak, namun Semarang tak mau kalah punya Tanjung Emas. Luar biasa, kota terkaya di Indonesia. Namun "sialnya" Lampung "hanya" punya Tanjung Karang, dan Kepulauan Riau punya Tanjung Pinang. Celakanya lagi,. Di Pulau Bintan tempat Tanjung Pinang berada juga ada Tanjunguban. Sumatera Utara punya Tanjungbalai. Masih ada tempat lain yang bernama Tanjung Pandan.

Provinsi Sumatera Barat juga unik. Kurang puas dengan punya kota Padang, mereka masih perlu punya kota Padang Panjang, dan Padang Sidempuan dan propinsi ini punya "jumlah" kota terbanyak di Indonesia, yakni Kabupaten Lima Puluh Kota! Lebih aneh lagi, di Papua ada Kabupaten Raja Ampat. Pasti bupatinya kebingungan, sebab walau keberadan kerajaan-kerajaan di Indonesia masih diakui, seperti adanya Festival Kerajaan se Indonesia, kebanyakan kerajaan-kerajaan itu tidak punya raja yang memerintah kecuali DIY yang punya Sri Sultan yang menjabat sebagai Gubernur DIY.

Konon Borneo atau Kalimantan dianggap sebagai pulau tertua di Indonesia, tetapi dari namanya pasti Pulau Bangka yang tertua! Ada juga nama-nama tempat yang ganda, di Jawa dan di Luar Jawa. Kalau di Inggris ada kota York, maka di Amerika ada New York, demikian juga kota London disaingi oleh kota New London di Kanada, sedangkan Perth di Skotlandia juga ada di Australia. Kota universitas Lancaster di Inggris ternyata punya pendamping sebuah kota kecil di Amerika di dekat Columbus, Ohio. Hal ini dapat dipahami karena mungkin para imigran dari Inggris ingin mengenang kota asalnya dan mengabadikan nama kotanya di benua baru.

Mungkin alasannya sama dengan sebuah tempat kecil di Tabanan, Bali yang bernama Kediri, juga ibukota NTB yang Mataram. Mungkin saja berhubungan dengan Mataram kuno di Jawa. Di Buleleng, Bali juga ada desa pantai yang bernama Penarukan, entah apa hubungannya dengan kota kecil Penarukan di timur Situbondo, di ujung Jalan Pos Dandeles Anyer-Penarukan.

Pada masa penjajahan Belanda, para penguasa Bali yang memberontak akan "diselong", artinya katanya, dibuang ke Ceylon, padahal ada yang bilang hanya dibuang sampai Padang di Sumatera. Namun, di NTB juga ada nama kota kecil namanya Selong. Apakah nama itu meniru Ceylon, belum ada informasi mengenai hal tersebut.

Kabupaten Buleleng di Bali adalah kabupaten terluas dengan wilayahnya yang membentang dari ujung barat sampai hampir mencapai ujung timur berbatasan dengan Karangasem. Kabupaten ini juga berbatasan dengan Bangli, Tabanan, dan Jembrana.

Namun, dalam guyonan muncul bahwa Kabupaten Gianyar merupakan kabupaten terluas. Kenapa? Seseorang nyeletuk: Karena pantainya lebih. Di Gianyar memang ada nama wilayah yang bernama Pantai Lebih!

Lain lagi dengan kata "pura" yang berarti kota. Mungkin merasa kurang enak punya nama kota Karangasem yang bermakna "kebun asam", beberapa tahun lalu kota ini dinamai Amlapura, sedangkan dalam bahasa Bali amla berarti asam juga, jadi sebetulnya tak ada yang berubah, namun nama kabupatennya tetap saja Karangasem, mungkin serupa Asem Bagus yang sampai sekarang dapat membanggakan jajaran pohon asam berjajar rapi di jalan lebar, padahal jalan itu dibuat di jaman penjajahan Belanda.

Rupanya pemerintah Belanda punya visi jauh ke depan saat nantinya jalur utara ini memang harus lebar seperti sekarang. Tak terbetik berita kalau Asem Bagus akan diganti dengan Amla Bagus, mungkin sebab amla bukan bahasa Jawa?

Lalu, apakah kota kecil Sri Indrapura ada hubungannya dengan Batara Indra, dengan demikian bermakna kotanya Batara Indra? Apakah ada hubungannya dengan kompleks percandian Muara Jambi yang konon malah tempat suci agama Buddha sementara Batara Indra dipercaya dalam agama Hindu? Masih di selatan Jambi ada Kenaliasem yang juga takkan diubah menjadi Kenaliamla.

Masih di Bali, kota Klungkung juga ikut diubah menjadi Semarapura alias "kota cinta". Syukurlah Singaraja tidak latah berubah menjadi Singapura walau penduduknya sering menyebutnya dengan "kota singa" lantaran raja Panji Sakti pendiri kota ini dijuluki Singa Ambara Raja. Dan "kota singa" kan bisa "diterjemahkan" menjadi Singapura.

Di luar Bali kita bisa berkunjung ke Tembaga Pura, Jayapura, Telani Pura.
Lain lagi "urang Sunda" yang suka menamai tempat atau sungai dengan kata "Ci" yang artinya air. Yang paling indah dan mengerikan karena sering mengirim banjir ke Jakarta adalah Ciliwung. Mendengar kata Cianjur kita teringat beras yang nikmat, sama sekali tak ingat air, walau padi tak bisa tumbuh tanpa air yang cukup, kecuali, tentu saja padi gogo untuk tanah kering.

Cililitan yang pernah jadi nama terminal bus di Jakarta sama sekali tak mengingatkan kita pada air, dan orang malah tak peduli apa arti "lilitan", demikian juga dengan nama-nama Cibinong dan sebagainya, tetapi Ciamis memang "air manis:, Cimahi "air yang cukup" dan Cibeurem selatan Ciawi bermakna "air merah", walau tak terlihat dimana ada air merah. Wilayah yang pernah penuh dengan bilyard center itu entah seperti apa keadaannya. Disitu (dulu) berdiri vila-vila milik orang kaya dan penting dari Jakarta. Yah, masih ada Citeurup,.Cisalak, Ciawi, Cigombong, dan sebagainya.

Soal suka memakai nama "air" di ujung timur Jatim ada Banyuwangi, "air harum" lantaran kesucian seorang istri, sedangkan di wilayah Pasuruan ada pemandian Banyu Biru, ada pula desa Banyupoh. Di pulau lain ada Air Mandidi.

Penduduk Betawi juga suka menamakan tempat-tempat tertentu sesuai dengan ciri khas tempat itu, misalnya sejumlah pemberhentian bus Kabel, Cemara Kembar, atau bangunan Proyek, Gang Kelinci. Anda pasti tahu dimana Gang Kelinci di Pasar Baru yang menjadi terkenal karena lagu gubahan Titiek Puspa yang dinyanyikan Lilies Suryani. Tapi coba tanya dimana pemberhentian bus yang disebut Kabel sebab kabelnya sekarang tak ada dan Cemara Kembar yang cemaranya pasti sudah ditebang.

Transmigran dari Jawa ke Sulawesi pasti kagum akan sebuah danau yang ’sangat religius" sebab namanya Danau Poso. Dalam bahasa Jawa, poso berarti puasa. Nah!***
__________
Sunaryono Basuki Ks, sastrawan tinggal di Singaraja

Sumber :http://www.suarakarya-online.com